Rupiah Melemah ke Rp17.547 per Dolar AS, Tertekan Konflik Timur Tengah

Nilai tukar rupiah kembali mengalami pelemahan pada perdagangan Kamis (10/9) sore. Mata uang Garuda ditutup di level Rp17.547 per dolar AS, turun 36 poin atau 0,21 persen dibandingkan posisi pada perdagangan sebelumnya.

Pelemahan rupiah berlangsung ketika pergerakan mata uang Asia terhadap dolar AS cenderung bervariasi. Sejumlah mata uang kawasan berhasil menguat, tetapi sebagian lainnya ikut tertekan. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa pasar valuta asing masih bergerak dinamis di tengah perhatian investor terhadap perkembangan global, termasuk kekhawatiran mengenai eskalasi konflik di Timur Tengah.

Rupiah Melemah 0,21 Persen

Rupiah berada di level Rp17.547 per dolar AS pada akhir perdagangan Kamis (10/9). Dengan penurunan 36 poin atau 0,21 persen, mata uang domestik harus mengakhiri perdagangan dalam posisi lebih lemah dibandingkan sesi sebelumnya.

Analis mata uang DOO Financial Futures, Lukman Leong, mengatakan rupiah dan mayoritas mata uang Asia cenderung tertekan terhadap dolar AS. Menurutnya, tekanan tersebut tidak terlepas dari meningkatnya kekhawatiran pasar terhadap eskalasi konflik di Timur Tengah.

“Rupiah dan mayoritas mata uang Asia umumnya melemah terhadap dolar AS, di tengah kekhawatiran atas eskalasi konflik di Timur Tengah yang mendorong kenaikan harga minyak mentah dunia,” ujar Lukman.

Pergerakan Mata Uang Asia Bervariasi

Di kawasan Asia, yuan China tercatat menguat 0,01 persen terhadap dolar AS. Dolar Hong Kong juga naik 0,01 persen.

Sementara itu, sejumlah mata uang Asia lainnya mengalami pelemahan. Peso Filipina turun 0,05 persen, sedangkan ringgit Malaysia terdepresiasi 0,09 persen. Dolar Singapura melemah 0,03 persen, yen Jepang turun 0,02 persen, dan won Korea Selatan terdepresiasi 0,13 persen.

Pergerakan yang beragam tersebut terjadi bersamaan dengan penguatan dolar AS terhadap rupiah dan sebagian besar mata uang kawasan. Tekanan terhadap mata uang Asia turut dipengaruhi oleh sentimen pasar yang mencermati potensi dampak konflik Timur Tengah terhadap harga minyak mentah dunia.

Mata Uang Negara Maju Ikut Bergerak Beragam

Pergerakan bervariasi juga terlihat pada mata uang negara-negara maju. Poundsterling Inggris menguat 0,05 persen terhadap dolar AS. Euro Eropa naik 0,03 persen, sementara dolar Kanada dan franc Swiss masing-masing menguat 0,01 persen.

Berbeda dengan mata uang tersebut, dolar Australia mengalami koreksi 0,07 persen terhadap dolar AS. Variasi kinerja mata uang negara maju memperlihatkan bahwa pasar masih merespons berbagai sentimen secara berbeda pada perdagangan tersebut.

Aksi Profit Taking Menekan Rupiah

Selain faktor eksternal, Lukman menyebut rupiah turut tertekan oleh aksi ambil untung atau profit taking. Aksi tersebut dilakukan pelaku pasar setelah pergerakan sebelumnya, sehingga menambah tekanan terhadap nilai tukar rupiah pada perdagangan Kamis.

Meski demikian, tekanan terhadap rupiah dapat tertahan oleh perkembangan penjualan ritel dalam negeri. Penjualan ritel pada Juli tercatat mengalami penguatan setelah sebelumnya mengalami kontraksi selama dua bulan berturut-turut.

“Rupiah juga tertekan oleh aksi profit taking, meski penjualan ritel bulan Juli berhasil rebound setelah mengalami kontraksi selama dua bulan berturut-turut, sedikit banyak membantu menahan pelemahan yang lebih besar,” kata Lukman.

Kesimpulan

Rupiah melemah 36 poin atau 0,21 persen ke level Rp17.547 per dolar AS pada perdagangan Kamis (10/9). Pelemahan tersebut berlangsung di tengah pergerakan mata uang Asia dan negara maju yang bervariasi.

Kekhawatiran terhadap eskalasi konflik di Timur Tengah, potensi kenaikan harga minyak mentah dunia, serta aksi profit taking menjadi faktor yang menekan rupiah. Di sisi lain, penguatan penjualan ritel pada Juli setelah kontraksi selama dua bulan turut membantu membatasi pelemahan. Ke depan, pergerakan rupiah masih akan dipengaruhi oleh perkembangan sentimen global dan kemampuan pasar merespons tekanan eksternal tersebut.

Sumber: Cnnindonesia

Post Comment