SDN Mboeng di Manggarai Timur Segera Direvitalisasi, Ruang Kelas Rusak Berat Jadi Prioritas
MANGGARAI TIMUR – Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) memastikan Sekolah Dasar Negeri (SDN) Mboeng, Kabupaten Manggarai Timur, Nusa Tenggara Timur (NTT), akan segera mendapatkan program revitalisasi. Perbaikan tersebut dilakukan setelah kondisi bangunan sekolah menjadi perhatian publik di media sosial.
SDN Mboeng sebelumnya ramai diperbincangkan karena menerima bantuan berupa Smart TV untuk mendukung kegiatan pembelajaran. Di sisi lain, kondisi fisik sekolah dilaporkan masih memprihatinkan. Situasi ini memunculkan pertanyaan mengenai kesesuaian antara bantuan perangkat digital dan kebutuhan perbaikan bangunan sekolah.
Menanggapi hal tersebut, Kemendikdasmen menyatakan bahwa digitalisasi pendidikan dan perbaikan sarana-prasarana sekolah berjalan secara bersamaan. Pemerintah juga memastikan ruang kelas yang mengalami kerusakan berat maupun ruang darurat menjadi perhatian dalam proses revitalisasi.
Revitalisasi SDN Mboeng Dilakukan Tahun Ini
Direktur Sekolah Dasar Kemendikdasmen, Moch. Salim Somad, mengatakan revitalisasi SDN Mboeng akan dilaksanakan pada tahun ini. Menurut dia, pihak kementerian telah turun langsung ke sekolah untuk melihat kondisi bangunan serta memastikan kebutuhan perbaikan yang diperlukan.
“Sudah turun (Kemendikdasmen), langsung diperbaiki kelas yang rusak berat maupun yang darurat,” kata Salim dalam keterangannya, Rabu (9/9).
Langkah tersebut diharapkan dapat meningkatkan keamanan dan kenyamanan proses belajar mengajar di SDN Mboeng. Perbaikan terutama diarahkan pada ruang-ruang yang tidak dapat digunakan secara optimal karena mengalami kerusakan cukup parah.
Kondisi Bangunan dan Ruang Kelas SDN Mboeng
SDN Mboeng saat ini memiliki 84 siswa yang terbagi ke dalam enam rombongan belajar. Kegiatan pendidikan di sekolah tersebut didukung oleh 10 tenaga kependidikan.
Namun, jumlah dan kondisi ruang belajar masih menjadi persoalan utama. Dari keseluruhan bangunan yang tersedia, terdapat lima bangunan permanen. Dua ruang kelas di antaranya mengalami kerusakan berat sehingga tidak bisa dimanfaatkan secara optimal untuk kegiatan pembelajaran.
Keterbatasan tersebut membuat sekolah masih menggunakan empat ruang kelas darurat. Penggunaan ruang darurat menjadi tantangan tersendiri bagi pihak sekolah dalam menyediakan layanan pendidikan yang aman dan layak bagi para siswa.
Sejumlah Ruang Dibangun melalui Swadaya
Salim menyebut sebagian ruang kelas yang digunakan SDN Mboeng dibangun melalui swadaya masyarakat. Orang tua siswa turut berkontribusi dalam penyediaan ruang belajar tersebut.
Kondisi ini menggambarkan adanya kebutuhan terhadap dukungan pemerintah untuk memastikan seluruh fasilitas sekolah memenuhi standar kelayakan. Dengan adanya program revitalisasi, ruang kelas yang rusak berat dan ruang darurat diharapkan dapat segera ditangani.
Smart TV Tetap Mendukung Digitalisasi Pembelajaran
Terkait bantuan Smart TV, Salim menjelaskan bahwa SDN Mboeng tercatat memiliki sumber listrik berdasarkan Data Pokok Pendidikan (Dapodik). Data tersebut menjadi salah satu dasar bagi sekolah untuk menerima perangkat televisi yang digunakan sebagai sarana pendukung pembelajaran.
Menurut Salim, bantuan perangkat digital tidak berarti pemerintah mengabaikan kondisi bangunan sekolah. Digitalisasi pendidikan dan revitalisasi sarana-prasarana merupakan dua program yang dapat berjalan secara bersamaan.
“Digitalisasi di sekolah berjalan, perbaikan fisik sekolah juga dilakukan,” ujar Salim.
Ia menegaskan, kedua kebijakan tersebut merupakan bagian dari upaya meningkatkan kualitas layanan pendidikan. Perangkat digital dapat dimanfaatkan untuk menunjang proses belajar, sementara perbaikan fisik diperlukan agar kegiatan pembelajaran berlangsung di ruang yang aman dan nyaman.
Revitalisasi Sekolah di NTT Menyasar 1.487 Satuan Pendidikan
Perhatian terhadap SDN Mboeng juga menjadi bagian dari komitmen pemerintah dalam meningkatkan fasilitas pendidikan di daerah. Kemendikdasmen mencatat, program revitalisasi sekolah di Provinsi NTT memiliki cakupan yang cukup besar.
Secara keseluruhan, program revitalisasi hingga 2026 menyasar 1.487 satuan pendidikan di NTT. Untuk pelaksanaan pada 2026, anggaran yang disiapkan mencapai Rp1,2 triliun.
Besarnya cakupan program tersebut menunjukkan bahwa perbaikan fasilitas sekolah menjadi salah satu perhatian dalam upaya pemerataan layanan pendidikan. Sekolah-sekolah yang masih memiliki keterbatasan ruang kelas dan sarana pendukung diharapkan dapat memperoleh fasilitas yang lebih memadai.
Kesimpulan
SDN Mboeng di Kabupaten Manggarai Timur akan segera mendapatkan revitalisasi dengan prioritas pada ruang kelas yang mengalami kerusakan berat dan ruang darurat. Perbaikan ini menjadi langkah penting untuk menciptakan lingkungan belajar yang lebih aman dan nyaman bagi 84 siswa di sekolah tersebut.
Di sisi lain, bantuan Smart TV tetap diarahkan untuk mendukung digitalisasi pembelajaran karena sekolah tercatat memiliki sumber listrik dalam Dapodik. Kemendikdasmen menegaskan bahwa digitalisasi dan perbaikan fisik sekolah bukan kebijakan yang saling bertentangan, melainkan dapat dijalankan secara bersamaan.
Ke depan, program revitalisasi yang mencakup 1.487 satuan pendidikan di NTT diharapkan mampu memperkuat pemerataan akses pendidikan. Pemerintah juga menegaskan komitmennya untuk menghadirkan sekolah yang layak, pembelajaran bermutu, serta fasilitas pendidikan yang memadai bagi siswa, termasuk mereka yang berada di wilayah dengan keterbatasan sarana dan prasarana.
Sumber: Cnnindonesia



Post Comment