Wamendiktisaintek Berbeda Pandangan soal PJJ di Kampus Terdampak Abu Vulkanik Anak Krakatau
Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains dan Teknologi (Wamendiktisaintek) Stella Christie menilai pembelajaran jarak jauh (PJJ) belum perlu diterapkan secara menyeluruh di perguruan tinggi yang terdampak sebaran abu vulkanik Gunung Anak Krakatau. Menurut Stella, kegiatan perkuliahan tetap dapat berlangsung secara tatap muka selama dilaksanakan di dalam ruangan.
Stella hanya mengimbau perguruan tinggi untuk mengurangi kegiatan perkuliahan maupun aktivitas mahasiswa yang dilakukan di luar gedung. Imbauan tersebut ditujukan terutama kepada kampus di wilayah yang terdampak sebaran abu vulkanik, seperti Jakarta, Banten, dan Lampung.
Stella Nilai PJJ Belum Diperlukan
Stella menyampaikan pandangannya setelah mengikuti rapat di Komisi X DPR pada Senin (7/9). Ia menjelaskan bahwa kegiatan belajar-mengajar tidak harus dialihkan sepenuhnya ke sistem daring karena pembelajaran di dalam ruangan masih dapat dilakukan.
“Jadi tidak, mungkin saya ralat ya, tidak harus daring sama sekali karena untuk universitas, karena kalau kita belajarnya di dalam,” kata Stella.
Menurut Stella, pembelajaran tatap muka masih dibutuhkan oleh mahasiswa. Ia menilai proses belajar langsung memiliki manfaat yang lebih baik dibandingkan pembelajaran jarak jauh atau daring, selama pelaksanaannya memperhatikan kondisi lingkungan dan dampak abu vulkanik.
Karena itu, Stella tidak meminta seluruh kegiatan akademik dihentikan atau dialihkan ke platform digital. Fokus imbauannya adalah membatasi aktivitas yang dilakukan di ruang terbuka, terutama di wilayah yang terdampak abu vulkanik Gunung Anak Krakatau.
Kegiatan di Luar Gedung Diminta Dikurangi
Stella menyarankan agar berbagai kegiatan mahasiswa yang berlangsung di luar ruangan untuk sementara tidak dilakukan di daerah terdampak. Ia menyebut Jakarta, Banten, hingga Lampung sebagai wilayah yang perlu memperhatikan kondisi tersebut.
“Kalau ada kegiatan mahasiswa kita yang di luar, kalau saya sarankan yang di Jakarta, yang di Lampung, jangan dulu. Ini kan karena mudaratnya lebih banyak daripada manfaat,” ujarnya.
Imbauan tersebut menunjukkan bahwa perguruan tinggi tetap dapat menjalankan perkuliahan secara langsung, tetapi perlu menyesuaikan kegiatan akademik dengan situasi akibat sebaran abu vulkanik. Aktivitas di ruang terbuka dinilai memiliki risiko lebih besar sehingga perlu dikurangi untuk mencegah dampak yang tidak diinginkan.
Fauzan Imbau Kampus Terapkan PJJ atau Hybrid
Pernyataan berbeda disampaikan Wamendiktisaintek Fauzan. Ia mengimbau perguruan tinggi yang terdampak abu vulkanik Gunung Anak Krakatau mulai menerapkan pembelajaran jarak jauh.
Menurut Fauzan, penyesuaian tidak hanya dilakukan pada kegiatan perkuliahan. Kampus juga diminta mengurangi aktivitas lain yang berlangsung di luar ruangan, termasuk layanan kantor serta berbagai proses akademik.
Fauzan menyebut kegiatan layanan kantor, pembelajaran, dan aktivitas akademik lainnya dapat dilaksanakan secara daring atau hybrid. Perguruan tinggi juga dapat memilih metode lain yang dianggap lebih efektif untuk mengurangi risiko penyakit akibat paparan debu erupsi.
“Oleh karena itu, aktivitas layanan kantor maupun pembelajaran, dan aktivitas akademik yang lain dapat dilakukan secara daring atau hybrid, atau cara yang dianggap lebih efektif untuk mengurangi terjadinya penyakit akibat debu erupsi itu,” kata Fauzan dalam jumpa pers daring pada Minggu (6/9).
Kampus Diminta Mendirikan Posko Siaga
Selain mengatur metode pembelajaran dan aktivitas kampus, Fauzan mengimbau seluruh pimpinan perguruan tinggi di wilayah terdampak untuk mendirikan posko siaga di lingkungan masing-masing.
Posko tersebut diharapkan dapat mendukung kesiapsiagaan kampus dalam menghadapi kondisi akibat erupsi dan sebaran abu vulkanik. Perguruan tinggi juga dianjurkan untuk terus berkoordinasi dengan pemerintah daerah setempat.
Koordinasi dinilai penting agar langkah yang diambil oleh kampus dapat disesuaikan dengan kondisi wilayah serta kebutuhan masyarakat dan sivitas akademika. Kampus juga diminta memobilisasi bantuan yang diperlukan, khususnya bantuan yang berkaitan dengan kejadian erupsi.
“Kami mengimbau kepada seluruh pimpinan perguruan tinggi untuk memobilisasi bantuan yang diperlukan oleh masyarakat dan sivitas akademika, terutama adalah bantuan yang terkait dengan kejadian erupsi,” ujar Fauzan.
Perbedaan Imbauan Menjadi Pertimbangan Kampus
Perbedaan pandangan antara Stella Christie dan Fauzan menunjukkan adanya beberapa opsi yang dapat dipertimbangkan perguruan tinggi dalam merespons sebaran abu vulkanik Gunung Anak Krakatau. Stella menilai perkuliahan tatap muka masih dapat berlangsung apabila dilakukan di dalam ruangan, sedangkan Fauzan mendorong penerapan sistem daring atau hybrid di kampus terdampak.
Di luar perbedaan pendekatan tersebut, keduanya sama-sama menekankan pentingnya mengurangi aktivitas di ruang terbuka. Perguruan tinggi juga didorong untuk mengambil langkah yang dapat mengurangi risiko bagi mahasiswa, dosen, tenaga kependidikan, serta masyarakat di lingkungan kampus.
Kesimpulan
Stella Christie menilai PJJ belum perlu diterapkan secara menyeluruh di kampus terdampak abu vulkanik Gunung Anak Krakatau karena pembelajaran tatap muka di dalam ruangan masih dapat dilakukan. Sementara itu, Fauzan mengimbau kampus mulai menggunakan metode daring atau hybrid, termasuk untuk layanan kantor dan aktivitas akademik lainnya.
Ke depan, perguruan tinggi perlu menyesuaikan kegiatan berdasarkan kondisi wilayah masing-masing, mengurangi aktivitas di luar ruangan, mendirikan posko siaga, serta berkoordinasi dengan pemerintah daerah. Kampus juga diharapkan dapat membantu memenuhi kebutuhan masyarakat dan sivitas akademika yang terdampak kejadian erupsi.
Sumber: Cnnindonesia



Post Comment