Wapres Gibran Minta Maaf atas Kekurangan Penanganan Gempa NTT, Pastikan Bantuan Menjangkau Warga

Wakil Presiden Gibran Rakabuming menyampaikan permintaan maaf kepada masyarakat terkait masih adanya kekurangan dalam penanganan bencana gempa bumi di Nusa Tenggara Timur (NTT). Pernyataan tersebut disampaikan saat Gibran mengunjungi langsung warga terdampak gempa di Kabupaten Sikka, Kamis (20/8).

Dalam kunjungan itu, Gibran didampingi Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK) Pratikno, Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Suharyanto, serta Gubernur NTT Emanuel Melkiades Laka Lena. Mereka meninjau kondisi pengungsi yang berada di Stadion Gelora Samador, Maumere.

Selain meninjau posko, Gibran juga berdialog langsung dengan warga. Ia menanyakan kondisi para pengungsi sekaligus menggali kebutuhan mendesak yang perlu segera dipenuhi oleh pemerintah. Dalam kesempatan tersebut, ia turut menyampaikan duka cita kepada masyarakat yang kehilangan anggota keluarga akibat bencana.

Gibran Akui Masih Ada Kekurangan di Lapangan

Gibran mengakui bahwa proses penanganan bencana gempa di NTT masih menghadapi sejumlah kekurangan. Atas kondisi tersebut, ia menyampaikan permintaan maaf kepada masyarakat yang terdampak.

“Saya juga memohon maaf yang sebesar-besarnya apabila sampai saat ini masih banyak kekurangan di lapangan. Keselamatan masyarakat adalah yang utama. Karena itu, seluruh langkah penanganan darurat harus memprioritaskan keselamatan dan pemenuhan kebutuhan mendesak masyarakat,” kata Gibran dalam keterangan tertulis.

Menurut Gibran, keselamatan warga harus menjadi prioritas utama dalam setiap langkah tanggap darurat. Penanganan tidak hanya harus dilakukan secara cepat, tetapi juga perlu memastikan kebutuhan dasar masyarakat dapat terpenuhi selama berada di pengungsian.

Bantuan Diminta Menjangkau Seluruh Warga Terdampak

Gibran mengatakan telah meminta jajaran pemerintah pusat dan daerah untuk memastikan bantuan disalurkan kepada seluruh masyarakat yang terdampak gempa. Bantuan tersebut diharapkan tidak hanya terpusat di lokasi pengungsian, tetapi juga menjangkau warga yang tinggal di wilayah sulit diakses.

Kebutuhan Dasar Menjadi Prioritas

Sejumlah kebutuhan yang harus dipastikan tersedia meliputi makanan, air bersih, toilet, obat-obatan, serta layanan kesehatan. Pemerintah juga diminta memperhatikan kebutuhan mendesak lainnya yang diperlukan oleh masyarakat selama masa tanggap darurat.

Gibran menekankan bahwa distribusi bantuan harus menjangkau masyarakat yang berada di kawasan pegunungan atau permukiman yang memiliki akses terbatas. Dengan demikian, tidak ada warga terdampak yang tertinggal dalam proses penanganan bencana.

“Ini adalah tanggung jawab negara. Saya juga meminta perhatian khusus diberikan kepada ibu hamil dan menyusui, lansia, penyandang disabilitas, dan anak-anak. Mereka harus didata, dipantau, dan mendapatkan pendampingan sesuai kebutuhannya,” ujarnya.

Kelompok rentan tersebut dinilai memerlukan perhatian khusus karena memiliki kebutuhan yang berbeda selama berada dalam situasi bencana. Pendataan, pemantauan, dan pendampingan menjadi bagian penting agar bantuan yang diberikan sesuai dengan kondisi masing-masing.

Pemerintah Siapkan Penanganan Darurat dan Pemulihan

Gibran memastikan masyarakat NTT tidak akan dibiarkan menghadapi dampak bencana seorang diri. Sejalan dengan arahan Presiden Prabowo Subianto, pemerintah akan terus hadir dalam proses penanganan darurat hingga pemulihan pascabencana.

Ia menyatakan pemerintah akan berupaya menangani masa tanggap darurat sekaligus mempersiapkan proses pemulihan secara cepat, tepat, dan berkelanjutan. Pernyataan tersebut mencakup upaya pemenuhan kebutuhan warga selama mengungsi serta perbaikan berbagai fasilitas yang mengalami kerusakan.

“Pemerintah akan berupaya semaksimal mungkin untuk menangani masa tanggap darurat sekaligus mempersiapkan pemulihan pascabencana. Masyarakat NTT tidak sendirian. Negara hadir dan akan terus bersama masyarakat,” kata Gibran.

Pengungsi Diminta Waspadai Gempa Susulan

Dalam kunjungannya, Gibran juga mengingatkan para pengungsi untuk sementara tidak kembali ke rumah yang mengalami kerusakan. Imbauan tersebut disampaikan karena potensi gempa susulan masih tinggi.

Ia meminta warga tetap berada di lokasi pengungsian sampai kondisi dinilai lebih aman. Gibran juga memastikan rumah warga, sekolah, dan fasilitas umum lainnya yang terdampak akan segera diperbaiki.

“Bapak, Ibu, di sini dulu, ya. Ada gempa susulan. Kita pastikan nanti rumah yang rusak, sekolah-sekolah, tempat-tempat [lainnya], nanti kita perbaiki,” katanya.

Korban Meninggal Dunia Mencapai 75 Jiwa

BNPB melaporkan jumlah korban meninggal dunia akibat gempa bumi di NTT bertambah menjadi 75 jiwa. Data tersebut merupakan pembaruan terkini yang disampaikan BNPB pada Kamis (20/8) pukul 16.00 WIB.

Kesimpulan

Permintaan maaf Gibran menunjukkan bahwa pemerintah mengakui masih terdapat kekurangan dalam penanganan gempa di NTT. Pemerintah pusat dan daerah diminta mempercepat penyaluran bantuan, memastikan kebutuhan dasar terpenuhi, serta memberi perhatian khusus kepada kelompok rentan.

Ke depan, penanganan bencana di NTT akan berfokus pada keselamatan pengungsi, pemenuhan kebutuhan mendesak, kewaspadaan terhadap gempa susulan, serta pemulihan rumah, sekolah, dan fasilitas umum yang rusak. Pemerintah menyatakan akan terus mendampingi masyarakat hingga proses tanggap darurat dan pemulihan pascabencana berjalan.

Sumber: Cnnindonesia

Post Comment