BMKG Tegaskan Sesar Surabaya-Madura Aktif, Bukan Patahan Baru
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menegaskan bahwa sesar atau patahan yang berada di kawasan Surabaya-Madura memang termasuk sesar aktif. Namun, sesar tersebut bukanlah patahan baru seperti yang disebut dalam sebuah unggahan video yang viral di media sosial.
Penjelasan tersebut disampaikan Kepala BMKG Stasiun Geofisika Kelas III Malang, Ricko Kardoso. Ia meminta masyarakat untuk menyikapi informasi mengenai sesar aktif secara bijak dan tidak berlebihan. Keberadaan sesar aktif, menurutnya, merupakan bagian dari kajian kegempaan yang telah dilakukan oleh para ahli.
BMKG Pastikan Sesar Surabaya-Madura Sudah Tercatat
Ricko menjelaskan, sesar aktif di kawasan Surabaya-Madura telah tercantum dalam kajian Pusat Studi Gempa Nasional (Pusgen). Kajian tersebut dilakukan pada 2017 dan kemudian dimutakhirkan pada 2024.
Dengan demikian, informasi mengenai sesar di wilayah tersebut bukanlah temuan baru. Sesar yang dimaksud sudah masuk dalam dokumen kajian resmi mengenai sumber dan bahaya gempa bumi di Indonesia.
“Kalau sudah masuk ke buku Pusgen berarti sesar masuk kategori aktif. Namun warga tidak perlu khawatir,” kata Ricko pada Selasa (8/9), dikutip dari Detikcom.
Ia juga menegaskan bahwa masyarakat yang tinggal di wilayah dengan potensi bahaya gempa perlu memahami informasi tersebut secara proporsional. Penyebutan sebuah sesar sebagai sesar aktif tidak berarti gempa bumi akan segera terjadi.
Masyarakat Diminta Tidak Panik
Menurut Ricko, kajian mengenai bahaya gempa bumi dibuat untuk meningkatkan pemahaman dan kesiapsiagaan masyarakat, bukan untuk menimbulkan kepanikan. Karena itu, informasi mengenai sesar aktif sebaiknya dijadikan sebagai pengetahuan agar warga mengetahui langkah yang perlu dilakukan dalam menghadapi potensi bencana.
Ia mengimbau masyarakat untuk meningkatkan kapasitas dan pengetahuan mengenai tindakan yang harus dilakukan sebelum, saat, dan setelah gempa bumi terjadi. Kesiapsiagaan individu dinilai penting karena gempa bumi hingga kini belum dapat diprediksi secara pasti kapan akan berlangsung.
Pentingnya Memahami Informasi Kegempaan
Ricko menyampaikan bahwa kajian para ahli seharusnya dipahami sebagai bagian dari upaya mitigasi bencana. Masyarakat tidak perlu merespons informasi tersebut dengan ketakutan, tetapi perlu menggunakannya untuk membangun kesiapan menghadapi kemungkinan yang tidak diinginkan.
“Adanya kajian bahaya gempa bumi oleh para ahli kegempaan adalah bukan untuk menimbulkan kepanikan, ketakutan, dan sejenisnya. Melainkan kita harus menyikapi dengan bijak, meningkatkan kapasitas dan pengetahuan kita terhadap apa yang harus dilakukan sebelum, sesaat, dan setelah kejadian gempa bumi terjadi,” ujar Ricko.
Ia menambahkan bahwa belum ada pihak yang dapat memastikan kapan gempa bumi akan terjadi sebelum peristiwa tersebut berlangsung. Oleh sebab itu, kesiapsiagaan setiap individu perlu terus ditingkatkan.
Video Klaim Sesar Baru Viral di Media Sosial
Sebelumnya, sebuah video mengenai keberadaan sesar aktif di Surabaya beredar luas di media sosial. Video tersebut diunggah oleh akun @gempa_dan_cuaca sekitar enam hari sebelum penjelasan BMKG disampaikan.
Unggahan itu telah ditonton sebanyak 497 ribu kali, mendapat 15,9 ribu tanda suka, serta mengumpulkan 1.063 komentar. Dalam video tersebut, seorang pria menjelaskan klaim mengenai keberadaan patahan aktif di Surabaya.
“Sudah tahu kah kalian, Surabaya memiliki patahan aktif baru? Ini daerah yang dilintasinya,” tulis akun @gempa_dan_cuaca dalam keterangan video.
Klaim mengenai “patahan aktif baru” itulah yang kemudian mendapat perhatian publik. BMKG meluruskan bahwa sesar di Surabaya-Madura memang aktif, tetapi bukan sesar yang baru ditemukan. Keberadaannya telah tercantum dalam kajian Pusgen 2017 dan pemutakhiran 2024.
Kesimpulan
BMKG memastikan sesar Surabaya-Madura merupakan sesar aktif yang telah tercatat dalam kajian resmi, bukan patahan baru sebagaimana klaim dalam video viral. Masyarakat diminta tidak panik, tetapi tetap memahami potensi bahaya gempa dan meningkatkan kesiapsiagaan.
Ke depan, informasi mengenai kegempaan perlu disampaikan dan diterima secara bijak berdasarkan kajian resmi. Dengan pemahaman yang tepat, masyarakat dapat menghindari kepanikan sekaligus lebih siap menghadapi potensi gempa bumi.
Sumber: Cnnindonesia



Post Comment