Mayoritas Organisasi di Indonesia Masih Andalkan Sistem IT Reaktif untuk Atasi Downtime

Mayoritas perusahaan dan organisasi di Indonesia dinilai masih menggunakan pendekatan reaktif dalam menghadapi gangguan teknologi informasi atau downtime. Penanganan baru dilakukan setelah insiden terjadi, sementara penerapan sistem proaktif dan ketahanan operasional teknologi informasi dinilai belum cukup matang.

Hanief Bastian, Technical Manager ManageEngine Indonesia, menjelaskan bahwa pendekatan reaktif membuat perusahaan lebih sering melakukan firefighting. Dalam pola ini, tim teknologi informasi baru mencari penyebab dan memperbaiki sistem setelah gangguan muncul.

Padahal, perusahaan perlu mulai membangun sistem yang mampu memprediksi dan mendeteksi potensi masalah sejak dini. Dengan begitu, tindakan pencegahan dapat dilakukan sebelum gangguan berkembang menjadi downtime yang menghambat aktivitas bisnis.

Organisasi Masih Terjebak dalam Pola Firefighting

Menurut Hanief, banyak organisasi di Indonesia belum berpindah secara matang menuju sistem IT proaktif maupun resilience IT operational. Sebagian besar perusahaan masih menunggu terjadinya insiden sebelum mengambil tindakan.

“Di Indonesia, masih banyak organisasi yang masih belum secara mature berpindah ke proaktif ataupun resilience IT operational. Mereka sebagian besar masih melakukan sistem reaktif, baru ketika ada kejadian melakukan firefighting,” ungkap Hanief saat ditemui CNNIndonesia.com di Jakarta, Rabu (26/8).

Pola penanganan tersebut membuat tim IT harus terus berkutat dengan berbagai gangguan yang muncul. Akibatnya, waktu dan sumber daya yang tersedia untuk mengerjakan roadmap jangka panjang, melakukan pengembangan, serta meningkatkan kapasitas infrastruktur menjadi terbatas.

Ketika sebagian besar energi tim terserap untuk menyelesaikan insiden, perusahaan akan kesulitan menjalankan pengembangan teknologi secara berkelanjutan. Kondisi ini juga dapat menghambat upaya organisasi dalam meningkatkan kemampuan infrastruktur sesuai kebutuhan bisnis.

Perubahan Mindset Manajemen Dibutuhkan

Hanief menilai, salah satu faktor yang memengaruhi lambatnya perubahan tersebut adalah cara pandang manajemen terhadap teknologi informasi. Di sejumlah perusahaan, IT masih diposisikan hanya sebagai fungsi pendukung, bukan sebagai bagian yang dapat membantu pertumbuhan bisnis.

Perubahan mindset di tingkat manajemen dinilai penting agar investasi pada sistem proaktif dan ketahanan operasional dapat ditempatkan sebagai bagian dari strategi bisnis. Teknologi informasi tidak hanya berperan dalam menjaga operasional tetap berjalan, tetapi juga dapat mendukung perkembangan perusahaan.

“Mereka juga harus bisa melihat bahwa IT bisa juga mendukung perkembangan bisnis mereka. Itulah mindset yang harus diterima dari sisi manajemen,” kata Hanief.

Kompleksitas Infrastruktur Hambat Migrasi ke Sistem Proaktif

Peralihan dari sistem reaktif menuju sistem proaktif tidak selalu mudah. Salah satu kendala yang ditemukan Hanief adalah kompleksitas infrastruktur dan aplikasi yang digunakan perusahaan.

Banyak organisasi memakai berbagai perangkat dan aplikasi dari vendor yang berbeda. Masing-masing perangkat tersebut memiliki dashboard sendiri, sehingga tim IT perlu menghubungkan serta menganalisis data secara manual untuk memahami kondisi lingkungan teknologi mereka.

Data Terpisah Menyulitkan Deteksi Gangguan

Penggunaan banyak tools dengan dashboard yang terpisah dapat menyulitkan tim dalam memperoleh gambaran menyeluruh mengenai kondisi sistem. Proses analisis yang masih dilakukan secara manual juga dapat membuat tim lebih lambat dalam mengetahui potensi masalah.

Dalam situasi seperti ini, perusahaan cenderung baru mengambil tindakan setelah gangguan terlihat atau berdampak pada operasional. Padahal, kemampuan mendeteksi pola dan tanda-tanda kegagalan lebih awal menjadi salah satu hal penting untuk mencegah sistem mengalami downtime.

Backup Tidak Menjamin Pemulihan Secara Instan

Selain persoalan kompleksitas infrastruktur, masih ada anggapan bahwa pencadangan data atau backup sudah cukup untuk membuat sistem tangguh terhadap gangguan. Hanief menilai anggapan tersebut tidak sepenuhnya tepat.

Backup memang penting karena menjadi salah satu metode pemulihan atau recovery. Namun, proses recovery membutuhkan waktu dan tidak dapat dilakukan secara instan. Waktu yang dibutuhkan dapat berlangsung selama beberapa jam, beberapa hari, bahkan beberapa minggu.

“Backup itu penting tentunya. Itu adalah salah satu metode recovery. Tapi recovery itu membutuhkan waktu,” ujar Hanief.

Karena itu, perusahaan tidak cukup hanya mengandalkan backup ketika menghadapi gangguan. Organisasi juga perlu memiliki kemampuan untuk mengenali pola maupun indikasi kegagalan sejak awal agar langkah pencegahan dapat dilakukan sebelum sistem benar-benar berhenti.

Dampak Downtime terhadap Bisnis

Gangguan pada sistem IT dapat menimbulkan berbagai konsekuensi bagi perusahaan. Hanief mengingatkan bahwa downtime berpotensi menyebabkan kehilangan pendapatan, menurunkan kepercayaan pengguna, serta memicu pelanggaran kontrak.

Dampak tersebut menunjukkan bahwa pengelolaan IT tidak dapat dipandang hanya sebagai urusan teknis. Ketika sistem mengalami gangguan, aktivitas bisnis dan hubungan perusahaan dengan pengguna maupun pihak lain dapat ikut terdampak.

Kesimpulan

Perusahaan dan organisasi di Indonesia perlu mulai meninggalkan ketergantungan pada pendekatan IT reaktif yang hanya mengandalkan penanganan setelah insiden terjadi. Peralihan menuju sistem proaktif membutuhkan kemampuan prediksi, deteksi dini, serta ketahanan operasional yang lebih baik.

Selain mengatasi kompleksitas infrastruktur dan penggunaan berbagai tools, perubahan juga perlu dimulai dari tingkat manajemen. IT harus dipandang sebagai bagian dari strategi pertumbuhan bisnis, bukan sekadar fungsi pendukung. Dengan membenahi sistem proaktif dan resilience, perusahaan memiliki peluang lebih besar untuk mencegah downtime serta mengurangi dampaknya terhadap operasional dan bisnis.

Sumber: Cnnindonesia

Post Comment