Meta Hentikan Project OT, Rencana Restrukturisasi Berbasis AI dan PHK Ditunda

Meta menghentikan rencana restrukturisasi besar-besaran yang dikenal sebagai Project OT atau Organization Transformation. Program yang disiapkan CEO Meta Mark Zuckerberg bersama sejumlah eksekutif perusahaan tersebut dirancang untuk mengubah sistem kerja Meta di tengah perkembangan kecerdasan buatan atau AI.

Project OT semula berfokus pada pengurangan biaya melalui pemutusan hubungan kerja (PHK), penutupan posisi yang terbuka, serta pengalihan tugas bagi staf dengan keterampilan tertentu. Rencana itu awalnya akan diterapkan dalam dua gelombang, dengan skenario pengurangan ukuran tim hingga 60 persen. Namun, setelah Meta melakukan PHK terhadap sekitar 10 persen staf pada Mei, perusahaan memutuskan tidak meneruskan skenario restrukturisasi berikutnya.

Meta Sebut Project OT Hanya Latihan Perencanaan

Melansir Reuters pada 26 Agustus, Meta menyatakan bahwa Project OT pada dasarnya merupakan latihan untuk memetakan sejumlah skenario organisasi. Latihan tersebut digunakan untuk melihat kemungkinan dampak dari pengalihan tugas, penghapusan posisi terbuka, dan pengurangan jumlah staf.

Perusahaan menegaskan bahwa tidak satu pun skenario dalam latihan tersebut akhirnya dijalankan secara penuh. Meta juga menyebut sejak awal tidak pernah menganggap semua skenario itu sebagai rencana yang pasti diterapkan.

Keputusan menghentikan rencana tersebut diambil setelah perusahaan menilai berbagai dampak dari penerapan sistem kerja berbasis AI. Selain persoalan produktivitas, perubahan itu juga memunculkan kekhawatiran di antara karyawan mengenai masa depan pekerjaan mereka.

Perubahan Struktur Kerja dengan Dukungan AI

Wakil Kepala Manajemen Produk Meta, Ime Archibong, sebelumnya menggambarkan AI sebagai alat yang dapat membantu perusahaan mengeksplorasi lebih banyak gagasan dengan biaya lebih rendah. Ia menggunakan perumpamaan permainan basket, ketika serangan cepat memungkinkan tim memperoleh lebih banyak peluang untuk mencetak angka.

Tim Archibong kemudian menyiapkan panduan bertajuk AI-Native Playbook untuk digunakan oleh tim lain di Meta. Dalam konsep tersebut, posisi tradisional seperti desainer produk dan teknisi diarahkan menuju peran yang disebut builder.

Para builder akan berkoordinasi dengan sistem analisis berbantuan agen AI untuk menentukan tugas yang perlu dikerjakan setiap hari. Meta juga menugaskan sejumlah staf ke unit AI terapan. Unit ini bertugas mengembangkan perangkat lunak yang dapat meningkatkan kemampuan pengodean model AI milik perusahaan.

Menurut laporan tersebut, Meta melihat adanya kemajuan dari pengalihan tugas itu. Perusahaan juga mengembangkan mekanisme untuk mengidentifikasi tenaga kerja yang dianggap sangat penting atau irreplaceable talent. Istilah ini berkaitan dengan sebutan “10X Performer”, yakni seseorang yang dinilai mampu menghasilkan pekerjaan setara dengan banyak orang.

Karyawan Khawatir AI Menggantikan Pekerjaan Mereka

Perubahan berbasis AI tersebut menimbulkan kekhawatiran di kalangan staf Meta. Perusahaan bahkan sempat mewajibkan pemasangan perangkat lunak yang merekam setiap klik pada keyboard dan pergerakan kursor mouse. Data itu digunakan agar agen AI dapat mempelajari serta meniru cara manusia berinteraksi dengan komputer.

Ketika rumor reorganisasi mulai beredar, banyak karyawan merasa posisi mereka terancam. Meta membantah kabar tersebut dengan menyebutnya sebagai laporan spekulatif mengenai pendekatan yang masih bersifat teoretis.

Namun, sebagian staf tetap memprotes situasi tersebut melalui Workplace, jaringan komunikasi internal Meta. Mereka khawatir sedang melatih teknologi AI yang pada akhirnya dapat menggantikan pekerjaan mereka. Kurangnya kejelasan mengenai rencana PHK juga menjadi salah satu faktor yang mendorong munculnya keresahan di internal perusahaan.

Survei internal tengah tahunan Meta menunjukkan bahwa sentimen positif karyawan terhadap perusahaan turun dari 74 persen menjadi 55 persen. Pada saat yang sama, upaya pengorganisasian serikat pekerja di lingkungan perusahaan semakin menguat.

Teknologi AI Belum Berjalan Sesuai Harapan

Di tengah meningkatnya ketidakpuasan karyawan, data internal Meta menunjukkan bahwa teknologi yang menjadi inti Project OT belum sepenuhnya mencapai target produktivitas. Laporan pada April juga menyebutkan bahwa agen AI tanpa pengawasan sempat melakukan tindakan disruptif dalam skala besar yang dinilai tidak mungkin dilakukan manusia.

Akibatnya, gangguan layanan dan potensi kebocoran data meningkat 40 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Selain itu, waktu yang harus digunakan staf untuk menyelesaikan masalah naik hingga 70 persen, berdasarkan unggahan internal perusahaan.

Rangkaian persoalan tersebut menjadi salah satu pertimbangan Zuckerberg untuk membatalkan gelombang kedua restrukturisasi yang sebelumnya direncanakan berlangsung pada November. Gelombang pertama Project OT diketahui dijalankan pada 20 Mei.

Zuckerberg Janjikan Stabilitas bagi Karyawan

Melalui memo yang diunggah di Workplace, Zuckerberg memberi tahu karyawan bahwa ia tidak mengharapkan adanya PHK berskala perusahaan lainnya pada tahun ini. Ia juga menyampaikan keinginan untuk memberikan lebih banyak stabilitas kepada para staf.

Setelah rencana restrukturisasi dihentikan, Meta menarik sementara program pelacakan keyboard dan mouse. Sejumlah karyawan yang sebelumnya dipindahkan ke unit AI juga diperbolehkan kembali ke tim lama mereka. Perusahaan turut menjamin fasilitas pendukung lain bagi staf.

Meski demikian, penghentian tersebut belum sepenuhnya menghapus kekhawatiran karyawan. Ada pandangan bahwa Project OT hanya ditunda hingga tahun ini dan dapat kembali dijalankan pada waktu mendatang.

Masa Depan Restrukturisasi Meta

Pada awal Juli, Zuckerberg mengakui adanya salah perhitungan mengenai kecepatan reorganisasi. Menurutnya, teknologi agen AI belum mengalami percepatan sebagaimana yang diharapkan.

Dalam esai sepanjang 6.500 kata berjudul The Future is for Everyone, Zuckerberg juga memprediksi bahwa perkembangan AI dapat mendorong penyusutan jumlah karyawan di sejumlah perusahaan. Ia membandingkan perubahan tersebut dengan transisi dari perusahaan industri besar menuju perusahaan teknologi.

Namun, Zuckerberg menilai kondisi itu tidak selalu berarti jumlah pekerjaan secara keseluruhan akan berkurang. Menurutnya, masa depan dapat ditandai dengan semakin banyak perusahaan yang masing-masing memiliki jumlah karyawan lebih sedikit.

Kesimpulan

Penghentian Project OT menunjukkan bahwa Meta belum sepenuhnya siap menerapkan restrukturisasi berbasis AI dalam skala besar. Persoalan produktivitas, risiko gangguan layanan, potensi kebocoran data, serta penurunan sentimen karyawan menjadi faktor penting dalam keputusan perusahaan.

Untuk sementara, Meta memilih memberikan stabilitas kepada staf dan menunda langkah reorganisasi lanjutan. Namun, perkembangan teknologi agen AI tetap akan menjadi bagian penting dari strategi perusahaan. Karena itu, masa depan Project OT masih terbuka, terutama apabila kemampuan AI dinilai telah berkembang sesuai dengan target manajemen.

Sumber: Cnnindonesia

Post Comment