Tiga Langkah Strategis Mewujudkan AI Driven Security di Indonesia
Wakil Menteri Komunikasi dan Digital (Wamenkomdigi) Nezar Patria mengungkapkan tiga aspek penting yang perlu disiapkan untuk mewujudkan AI driven security atau sistem keamanan siber berbasis kecerdasan buatan di Indonesia. Ketiga aspek tersebut mencakup pembentukan regulasi yang adaptif, pertukaran informasi untuk mengembangkan solusi keamanan berbasis AI, serta penciptaan talenta digital yang andal.
Nezar menegaskan, upaya membangun keamanan siber berbasis AI tidak dapat dilakukan oleh pemerintah secara sendiri. Kolaborasi antara pemerintah, industri, akademisi, lembaga nasional, dan komunitas masyarakat diperlukan agar teknologi yang dikembangkan mampu menjawab kebutuhan keamanan siber secara nyata.
Hal itu disampaikan Nezar dalam acara Kaspersky Academy Partners Summit 2026 di Jakarta, Rabu (19/8), seperti dilansir Antara. Menurutnya, kolaborasi lintas sektor menjadi fondasi penting untuk memastikan pengembangan AI driven security berjalan secara berkelanjutan dan memberikan manfaat luas.
Tiga Aspek Penting AI Driven Security
1. Regulasi yang Adaptif dan Kolaboratif
Aspek pertama yang perlu diperkuat adalah regulasi keamanan siber. Nezar menyebut, proses penyusunan aturan harus berlangsung secara berkelanjutan dengan melibatkan berbagai pemangku kepentingan. Pemerintah, industri, akademisi, dan pihak terkait lainnya perlu bersama-sama menyesuaikan regulasi dengan perkembangan teknologi serta risiko yang terjadi di lapangan.
Pemerintah, kata Nezar, secara aktif membuka ruang bagi para pemangku kepentingan untuk berkontribusi dalam penyusunan aturan keamanan siber. Pelibatan tersebut juga diterapkan dalam pembentukan sejumlah aturan yang saat ini masih berjalan, termasuk peraturan pelaksana Undang-Undang Pelindungan Data Pribadi (PDP) dan Rancangan Undang-Undang Keamanan dan Ketahanan Siber (RUU KKS).
Masukan dari berbagai pihak dinilai penting agar kerangka regulasi tidak hanya bersifat normatif, tetapi juga praktis, adaptif, dan sesuai dengan risiko nyata. Pemerintah mengundang pemangku kepentingan untuk menyampaikan pengalaman di lapangan, bukti, serta keahlian yang dimiliki sebagai bahan dalam penyusunan aturan.
2. Pertukaran Informasi dan Pengembangan Solusi AI
Aspek kedua adalah membangun pertukaran informasi secara rutin antara industri dan lembaga-lembaga nasional yang menjadi mitra di bidang keamanan siber. Komunikasi yang berkelanjutan dibutuhkan untuk memahami pola serangan siber sekaligus merancang solusi yang dapat mendeteksi dan mencegah serangan tersebut.
Nezar menilai industri dan lembaga nasional perlu bekerja sama mengembangkan teknologi AI yang mampu mendukung sistem keamanan siber. Solusi tersebut diharapkan tidak hanya ditujukan bagi perusahaan berskala besar, tetapi juga dapat dimanfaatkan oleh masyarakat dalam menjalankan aktivitas sehari-hari.
Sejumlah contoh solusi yang dapat dikembangkan antara lain layanan penyaringan panggilan telepon, pemeriksaan identitas palsu, serta sistem verifikasi pemerintah yang dapat digunakan secara nasional. Pengembangan layanan semacam itu dinilai dapat memperluas penerapan AI driven security di berbagai lapisan masyarakat.
3. Penciptaan Talenta Digital
Aspek ketiga berkaitan dengan pengembangan sumber daya manusia atau talenta digital di bidang keamanan siber. Nezar menyebut manusia sebagai faktor penting dalam mewujudkan AI driven security. Talenta digital tidak hanya berperan menciptakan solusi teknologi, tetapi juga menyusun tata kelola dan memastikan solusi tersebut dapat bekerja secara optimal.
Karena itu, Nezar mengajak universitas dan mitra industri untuk mengambil bagian dalam menumbuhkan talenta digital keamanan siber. Talenta tersebut diharapkan dapat mengisi posisi strategis sekaligus memperkuat kapasitas industri keamanan siber di Indonesia.
Kolaborasi pengembangan talenta juga diharapkan tidak berhenti pada kebutuhan profesional di sektor industri. Upaya tersebut perlu menjangkau masyarakat awam, khususnya kelompok yang rentan menjadi korban serangan siber dalam kehidupan sehari-hari.
Literasi Digital untuk Kelompok Rentan
Selain membangun sumber daya manusia profesional, peningkatan kesadaran masyarakat terhadap keamanan siber juga menjadi bagian penting dari pengembangan AI driven security. Nezar mendorong komunitas masyarakat dan industri untuk memperluas jangkauan literasi digital.
Kelompok yang perlu mendapat perhatian antara lain pengguna internet pemula, kalangan pensiunan, dan pemilik usaha kecil. Kelompok-kelompok tersebut dinilai rentan menjadi sasaran kejahatan siber sehingga membutuhkan pemahaman yang lebih baik mengenai keamanan digital.
Dengan meningkatnya kesadaran masyarakat, inovasi keamanan siber berbasis AI diharapkan dapat berkembang lebih cepat. Masyarakat yang memahami risiko digital juga dapat lebih siap memanfaatkan layanan keamanan yang tersedia.
AI Makin Berperan dalam Keamanan Siber
Pengembangan AI driven security semakin relevan seiring dengan perkembangan kecerdasan buatan yang berlangsung masif. Teknologi AI kini dinilai memiliki peran penting dalam bidang keamanan siber, baik untuk mendeteksi maupun mencegah potensi serangan.
Hal tersebut sejalan dengan laporan Global Cybersecurity Outlook 2026 dari World Economic Forum. Laporan itu menyebutkan bahwa banyak pemimpin bisnis menilai AI sebagai faktor pendorong perubahan paling signifikan dalam keamanan siber. Sebanyak sembilan dari sepuluh pemimpin juga mengidentifikasi AI sebagai teknologi yang berpengaruh terhadap kerentanan keamanan siber.
Kesimpulan
Menurut Nezar Patria, pembangunan AI driven security di Indonesia membutuhkan tiga fondasi utama, yaitu regulasi yang adaptif, pertukaran informasi dan pengembangan solusi AI, serta talenta digital yang andal. Seluruh aspek tersebut harus dikerjakan melalui kolaborasi antara pemerintah, industri, akademisi, lembaga nasional, dan komunitas masyarakat.
Ke depan, kolaborasi lintas sektor dan peningkatan literasi digital menjadi langkah penting agar kecerdasan buatan dapat dimanfaatkan untuk memperkuat keamanan. Dengan demikian, teknologi diharapkan hadir sebagai pelindung dari ancaman siber, bukan justru menjadi sumber kerentanan baru.
Sumber: Cnnindonesia



Post Comment