Rupiah Melemah ke Rp17.669 per Dolar AS, Tertekan Antisipasi Kenaikan Suku Bunga The Fed
Nilai tukar rupiah kembali melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Senin (14/9) sore. Mata uang Garuda ditutup di level Rp17.669 per dolar AS, turun 58 poin atau 0,33 persen dibandingkan posisi pada perdagangan sebelumnya.
Pergerakan rupiah tersebut berlangsung di tengah penguatan dolar AS terhadap sejumlah mata uang global. Selain faktor eksternal dari pasar keuangan dunia, tekanan terhadap rupiah juga dipengaruhi oleh meningkatnya harga minyak mentah akibat eskalasi di kawasan Timur Tengah.
Rupiah Melemah 0,33 Persen
Pada akhir perdagangan, rupiah berada di level Rp17.669 per dolar AS. Pelemahan sebesar 58 poin atau 0,33 persen menunjukkan tekanan terhadap mata uang domestik masih cukup kuat.
Pergerakan rupiah terjadi bersamaan dengan dinamika mata uang Asia yang mayoritas berada dalam tekanan terhadap dolar AS. Kondisi tersebut mencerminkan penguatan dolar AS di pasar global, terutama menjelang agenda kebijakan moneter bank sentral Amerika Serikat.
Namun, terdapat sejumlah mata uang kawasan yang masih mencatat penguatan tipis. Yuan China menguat 0,01 persen terhadap dolar AS. Sementara itu, mata uang Asia lainnya mengalami pelemahan dengan tingkat yang beragam.
Mayoritas Mata Uang Asia Tertekan
Ringgit Malaysia tercatat terdepresiasi 0,13 persen. Dolar Singapura turun 0,31 persen, sedangkan yen Jepang melemah 0,63 persen terhadap dolar AS.
Pergerakan Mata Uang Asia
Tekanan juga terlihat pada won Korea Selatan yang turun 0,30 persen. Peso Filipina terdepresiasi 0,24 persen, sementara dolar Hong Kong melemah 0,01 persen terhadap dolar AS.
Pergerakan tersebut menunjukkan bahwa pelemahan tidak hanya dialami rupiah, tetapi juga terjadi pada sebagian besar mata uang di kawasan Asia. Penguatan dolar AS menjadi salah satu faktor utama yang memengaruhi nilai tukar berbagai negara.
Mata Uang Negara Maju Ikut Melemah
Tekanan terhadap mata uang juga terjadi pada sejumlah negara maju. Euro Eropa turun 0,52 persen terhadap dolar AS. Poundsterling Inggris melemah 0,32 persen, sedangkan dolar Australia terdepresiasi 0,52 persen.
Selain itu, dolar Kanada tercatat turun 0,14 persen. Franc Swiss juga melemah 0,29 persen terhadap dolar AS. Pergerakan tersebut memperlihatkan bahwa dolar AS berada dalam posisi yang relatif kuat dibandingkan mayoritas mata uang utama dunia.
Antisipasi Kebijakan The Fed Menekan Rupiah
Analis mata uang DOO Financial Futures, Lukman Leong, mengatakan pelemahan rupiah terjadi seiring dengan antisipasi pasar terhadap kemungkinan kenaikan suku bunga oleh The Fed, bank sentral AS.
Menurut dia, ekspektasi terhadap kebijakan tersebut mendorong penguatan dolar AS. Pasar juga menanti hasil rapat Federal Open Market Committee (FOMC) yang dijadwalkan berlangsung pada pekan tersebut.
“Rupiah ditutup melemah terhadap dolar AS yang menguat oleh antisipasi kenaikan suku bunga pada FOMC minggu ini,” ujar Lukman kepada CNNIndonesia.com, Senin (14/9).
Kenaikan Harga Minyak Menambah Tekanan
Selain faktor kebijakan moneter Amerika Serikat, rupiah juga menghadapi tekanan dari kenaikan harga minyak mentah dunia. Harga komoditas tersebut terus meningkat seiring dengan eskalasi yang terjadi di Timur Tengah.
Lukman menjelaskan, kondisi tersebut turut membebani pergerakan rupiah. “Harga minyak mentah dunia yang terus meningkat oleh eskalasi di Timteng ikut menekan rupiah,” katanya.
Kesimpulan
Rupiah ditutup melemah ke level Rp17.669 per dolar AS pada perdagangan Senin (14/9), turun 58 poin atau 0,33 persen. Pelemahan ini berlangsung ketika dolar AS menguat terhadap mayoritas mata uang Asia dan negara maju.
Ke depan, perhatian pasar tertuju pada keputusan FOMC terkait arah suku bunga The Fed. Selain itu, perkembangan harga minyak mentah dunia dan eskalasi di Timur Tengah juga menjadi faktor yang berpotensi memengaruhi pergerakan rupiah. Kedua faktor tersebut diperkirakan masih menjadi perhatian dalam perdagangan mata uang berikutnya.
Sumber: Cnnindonesia



Post Comment