Stok Rudal Pencegat AS Menipis Akibat Perang Iran, Pengisian Kembali Butuh Lima Tahun

Stok rudal pencegat milik Amerika Serikat dilaporkan menipis setelah digunakan dalam operasi militer di Timur Tengah. Kantor Anggaran Kongres Amerika Serikat atau Congressional Budget Office (CBO) memperkirakan militer AS telah menghabiskan antara setengah hingga dua pertiga persediaan rudal pencegatnya dalam perang AS versus Iran.

Kondisi tersebut dinilai dapat memengaruhi kemampuan Pentagon dalam merespons konflik di masa mendatang. Selain menghadapi persoalan berkurangnya persediaan, Washington juga harus berhadapan dengan keterbatasan kapasitas industri pertahanan untuk memproduksi kembali amunisi dalam jumlah besar.

Persediaan Rudal Pencegat AS Menipis

Dilansir dari Reuters, rudal pencegat yang digunakan dalam operasi di Timur Tengah mencakup sejumlah sistem pertahanan utama Amerika Serikat. Sistem tersebut antara lain Patriot, Terminal High Altitude Area Defense (THAAD), SM-3, dan SM-6.

CBO menyebut penggunaan rudal-rudal tersebut telah mengurangi persediaan strategis AS secara signifikan. Militer Amerika diperkirakan telah memakai 50 hingga 66 persen stok rudal pencegat dalam operasi yang berlangsung di kawasan Timur Tengah.

Rudal pencegat memiliki peran penting dalam sistem pertahanan karena digunakan untuk menghadang ancaman dari udara. Dengan persediaan yang semakin terbatas, kemampuan AS untuk mempertahankan pangkalan maupun merespons serangan dalam konflik lain berpotensi ikut terpengaruh.

Pengisian Stok Diperkirakan Memakan Waktu

Badan federal AS tersebut memperkirakan proses pengisian kembali persediaan rudal pencegat akan membutuhkan waktu setidaknya lima tahun. Durasi tersebut menunjukkan bahwa pengadaan amunisi tidak dapat dilakukan secara cepat untuk segera menutup kekurangan yang muncul akibat operasi militer.

CBO juga memperkirakan produksi rudal pencegat akan membutuhkan biaya sekitar 13,1 miliar dolar AS atau sekitar Rp231 triliun. Anggaran tersebut merupakan bagian dari total kebutuhan sebesar 21,7 miliar dolar AS, setara sekitar Rp384 triliun, untuk mengisi kembali persediaan amunisi.

Selain itu, Amerika Serikat masih perlu mengalokasikan sekitar 7,3 miliar dolar AS atau sekitar Rp129 triliun untuk mengganti rudal jelajah serangan darat. Besarnya kebutuhan anggaran tersebut memperlihatkan dampak finansial yang harus ditanggung Washington setelah penggunaan amunisi dalam operasi di Timur Tengah.

Stok Amunisi Berisiko Hambat Respons Pentagon

CBO memperingatkan bahwa minimnya persediaan amunisi dapat menghambat respons Pentagon apabila Amerika Serikat kembali menghadapi konflik di masa depan. Kekhawatiran tersebut tidak hanya berkaitan dengan jumlah rudal pencegat, tetapi juga dengan kemampuan industri pertahanan untuk memasok kembali amunisi yang telah digunakan.

Pada Senin (14/9), Pentagon, yang dalam laporan tersebut juga disebut sebagai Departemen Perang, mengakui bahwa Amerika Serikat telah mengalami kekurangan amunisi akibat perang di Timur Tengah.

“Pengeluaran amunisi untuk Operasi Enduring Freedom (OEF) telah mengakibatkan kekurangan persediaan strategis dan mengungkap hambatan basis industri untuk pemasokan kembali amunisi,” demikian laporan inspektur jenderal departemen kepada Kongres, seperti dikutip Middle East Eye.

Kerugian pada Armada dan Pangkalan AS

Laporan tersebut juga memuat sejumlah kerugian yang dialami armada Amerika Serikat. Kerusakan dan kehilangan itu mencakup satu pesawat tempur F-15 yang hancur, satu pesawat tempur F-35 yang rusak, serta tujuh pesawat tanker KC-135 yang mengalami kerusakan.

Selain itu, sekitar 30 pesawat nirawak MQ-9 Reaper dilaporkan hancur. Kerugian pada armada tersebut menambah tekanan terhadap kebutuhan pengadaan dan perbaikan peralatan militer AS setelah berlangsungnya operasi di kawasan Timur Tengah.

Kerusakan juga dilaporkan terjadi di sejumlah pangkalan militer Amerika Serikat. “Ratusan bangunan dan struktur” di pangkalan-pangkalan AS yang berada di Kuwait, Bahrain, Qatar, Uni Emirat Arab, Arab Saudi, Irak, Oman, dan Yordania disebut mengalami kerusakan maupun kehancuran akibat serangan Iran.

Kesimpulan

Laporan CBO menunjukkan bahwa perang di Timur Tengah telah membuat persediaan rudal pencegat dan amunisi strategis Amerika Serikat menurun drastis. Militer AS diperkirakan telah menggunakan setengah hingga dua pertiga stok rudal pencegat, sementara proses pengisian kembali membutuhkan waktu setidaknya lima tahun dan biaya miliaran dolar.

Di tengah kerusakan armada serta pangkalan militer, Washington juga menghadapi tantangan kapasitas industri pertahanan untuk memproduksi kembali amunisi. Ke depan, kemampuan AS dalam mengembalikan persediaan rudal dan memperbaiki infrastruktur militernya akan menjadi faktor penting dalam menentukan kesiapan Pentagon menghadapi potensi konflik berikutnya.

Sumber: Cnnindonesia

Post Comment