Shell Indonesia Optimistis Bisnis Pelumas Tetap Prospektif di Tengah Pertumbuhan Kendaraan Listrik
Shell Indonesia menilai bisnis pelumas masih memiliki prospek yang kuat meskipun adopsi kendaraan listrik atau electric vehicle (EV) di Tanah Air terus meningkat. Penilaian tersebut didasarkan pada kondisi pasar otomotif domestik yang hingga kini masih didominasi kendaraan bermesin pembakaran internal atau internal combustion engine (ICE).
Selain kendaraan ICE, pasar kendaraan penumpang Indonesia juga diisi oleh kendaraan hybrid. Kedua kategori tersebut masih membutuhkan produk pelumas, sehingga perubahan menuju kendaraan listrik murni dinilai tidak akan serta-merta menghapus kebutuhan terhadap pelumas.
Kendaraan ICE Masih Mendominasi Pasar
Global Executive Vice President Shell Lubricants Jason Wong mengatakan, perkembangan kendaraan listrik di Indonesia memang semakin terlihat. Namun, komposisi kendaraan penumpang yang beredar saat ini masih cukup beragam. Mobil listrik murni belum menjadi satu-satunya pilihan konsumen karena kendaraan hybrid dan kendaraan konvensional masih memiliki porsi besar.
“Memang adopsi EV sudah semakin banyak, tapi dari sisi mobil penumpang sendiri sebetulnya kategorinya masih banyak, ada hybrid dan mayoritas masih ICE,” kata Wong di Jakarta, Selasa (15/9).
Menurut dia, kondisi tersebut membuat konsumen kendaraan konvensional tetap menjadi bagian penting dari pasar yang akan dilayani Shell dalam beberapa waktu ke depan. Dengan masih besarnya jumlah kendaraan ICE yang beroperasi, kebutuhan terhadap pelumas mesin diperkirakan tetap tersedia.
“Nah itu adalah porsi konsumen atau pelanggan yang akan terus kami layani,” ujar Wong.
Kendaraan Hybrid Masih Membutuhkan Pelumas
Shell juga melihat kendaraan hybrid sebagai salah satu segmen yang tetap memberikan peluang bagi bisnis pelumas. Berbeda dengan mobil listrik murni, kendaraan hybrid masih menggunakan mesin pembakaran internal yang membutuhkan pelumasan.
Shell menyebut sekitar 70 hingga 80 persen kebutuhan pelumasan pada kendaraan hybrid masih tetap ada. Artinya, pergeseran konsumen ke kendaraan hybrid tidak langsung menghilangkan permintaan terhadap produk pelumas.
“Dan kemudian untuk hybrid, 70-80 persen masih butuh pelumasan. Jadi tidak akan langsung hilang semuanya,” kata Wong.
Porsi Mobil Listrik Terus Meningkat
Meskipun pasar ICE masih mendominasi, pertumbuhan kendaraan listrik di Indonesia menunjukkan tren yang signifikan. Berdasarkan data Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo), kontribusi kendaraan ICE terhadap total pasar turun dari 99,6 persen pada 2021 menjadi 78,2 persen pada 2025.
Pada periode yang sama, porsi battery electric vehicle (BEV) meningkat tajam. Kontribusi mobil listrik murni tersebut naik dari 0,1 persen pada 2021 menjadi 12,9 persen pada akhir 2025. Per Maret 2026, porsi BEV kembali meningkat menjadi 15,6 persen, sedangkan kendaraan ICE turun menjadi 75 persen.
Dari sisi penjualan, BEV mencatat pertumbuhan sebesar 96 persen, yakni dari 16.926 unit menjadi 33.146 unit. Pertumbuhan tersebut jauh melampaui pertumbuhan industri otomotif secara keseluruhan yang tercatat sebesar 1,7 persen.
Sementara itu, penjualan kendaraan ICE menurun dari 174.776 unit menjadi 156.684 unit. Porsi kendaraan listrik murni bahkan diperkirakan dapat meningkat menjadi sekitar 19 hingga 20 persen hingga akhir 2026.
Shell Siapkan Produk untuk Era Kendaraan Listrik
Mobil listrik murni tidak membutuhkan pelumas mesin seperti kendaraan ICE karena tidak memiliki mesin pembakaran dengan banyak komponen bergerak. Meski demikian, kendaraan listrik tetap membutuhkan cairan pelumas untuk mendukung sejumlah komponen dan sistemnya.
Melihat perubahan tersebut, Shell mulai menyesuaikan lini bisnisnya dengan meluncurkan produk yang ditujukan untuk kendaraan listrik. Produk tersebut dikenal sebagai e-fluids atau cairan pelumas khusus kendaraan listrik.
Langkah tersebut menjadi bagian dari upaya Shell untuk tetap relevan di tengah transformasi industri otomotif. Perusahaan tidak hanya mempertahankan bisnis pelumas untuk kendaraan konvensional, tetapi juga mulai mengembangkan produk yang sesuai dengan kebutuhan kendaraan listrik.
Perluas Bisnis melalui Pabrik Gemuk
Selain mengembangkan produk e-fluids, Shell terus memperluas bisnisnya melalui peresmian Pabrik Manufaktur Gemuk atau Grease Manufacturing Plant (GMP) di Indonesia. Fasilitas ini ditujukan untuk memenuhi kebutuhan sektor industri.
Pabrik tersebut memiliki kapasitas produksi hingga 12 kiloton per tahun. Kehadirannya melengkapi Pabrik Pelumas atau Lubricants Oil Blending Plant (LOBP) Marunda milik Shell yang berlokasi di Bekasi, Indonesia.
Shell menargetkan sektor industri sebagai salah satu pasar utama dari produk yang dihasilkan pabrik tersebut. Menurut Wong, kebutuhan lubrikasi di sektor industri masih akan bertahan hingga beberapa tahun mendatang.
“Target kami sektor industri, sektor ini akan tetap butuh lubrikasi sampai beberapa tahun ke depan,” kata Wong.
Kesimpulan
Shell Indonesia melihat prospek bisnis pelumas tetap terbuka di tengah meningkatnya penggunaan kendaraan listrik. Dominasi kendaraan ICE, pertumbuhan kendaraan hybrid, serta kebutuhan pelumasan di sektor industri menjadi penopang utama pasar tersebut.
Di sisi lain, Shell mulai beradaptasi melalui pengembangan produk e-fluids dan penguatan kapasitas produksi melalui pabrik manufaktur gemuk di Indonesia. Dengan perubahan komposisi kendaraan yang terus berlangsung, strategi perusahaan akan mencakup layanan untuk kendaraan konvensional sekaligus pengembangan produk bagi ekosistem kendaraan listrik.
Sumber: Cnnindonesia



Post Comment