Badak Putih Utara Tersisa Dua Betina, 39 Embrio Berhasil Dihasilkan tetapi Belum Ada Kehamilan Bertahan

Badak putih utara (northern white rhino) kini berada di ambang kepunahan. Subspesies ini hanya menyisakan dua individu betina, yakni Najin dan anaknya, Fatu, yang saat ini hidup di Ol Pejeta Conservancy, Kenya, dengan penjagaan bersenjata.

Berbagai upaya dilakukan untuk mempertahankan keberadaan badak putih utara, termasuk melalui teknologi reproduksi berbantu. Konsorsium penyelamat subspesies tersebut telah menghasilkan 39 embrio murni badak putih utara di laboratorium. Namun, hingga April 2026, enam embrio yang dipindahkan ke induk pengganti belum menghasilkan kehamilan yang bertahan.

Hanya Tersisa Najin dan Fatu

Najin dan Fatu merupakan dua badak putih utara terakhir yang diketahui masih hidup. Najin lahir di sebuah taman safari di Republik Ceko pada 11 Juli 1989. Sementara itu, Fatu lahir pada 29 Juni 2000 dan kini berusia 26 tahun.

Keduanya tidak mampu mengandung anak. Kondisi tersebut membuat proses penyelamatan harus dilakukan melalui pengambilan sel telur, pembuahan di luar tubuh, serta penanaman embrio ke dalam tubuh badak putih selatan yang berperan sebagai induk pengganti.

Najin telah dihentikan dari program pengambilan sel telur setelah menjalani tiga prosedur tanpa menghasilkan embrio. Sebaliknya, Fatu masih mampu menghasilkan oosit atau sel telur. Sejak Oktober 2021, Fatu menjadi satu-satunya donor sel telur dalam program penyelamatan badak putih utara.

39 Embrio Dihasilkan di Laboratorium

Pengambilan sel telur pertama dari Najin dan Fatu dilakukan pada 22 Agustus 2019. Hingga Agustus 2025, Fatu tercatat telah menjalani 21 kali pengambilan oosit. Dari rangkaian tersebut, konsorsium berhasil menghasilkan 38 embrio murni badak putih utara.

Pengambilan sel telur berikutnya pada awal 2026 menghasilkan satu embrio tambahan. Dengan demikian, jumlah embrio yang pernah dihasilkan mencapai 39. Seluruh sel telur dimatangkan dan dibuahi di laboratorium Avantea di Cremona, Italia.

Proses pembuahan dilakukan menggunakan sperma beku yang berasal dari badak putih utara jantan yang telah mati. Tiga embrio pertama yang dihasilkan pada prosedur 2019 seluruhnya berasal dari Fatu. Najin tidak menghasilkan embrio dari tiga prosedur pengambilan oosit yang dijalaninya.

Enam Embrio Telah Ditransfer

Angka 39 merupakan jumlah embrio yang pernah dihasilkan, bukan jumlah embrio yang masih tersimpan. Enam embrio telah digunakan dalam upaya transfer embrio ke badak putih selatan sebagai induk pengganti di Kenya.

Badak putih selatan dipilih karena masih memiliki hubungan kekerabatan dekat dengan badak putih utara. Meski demikian, hingga April 2026 belum ada satu pun dari enam transfer tersebut yang menghasilkan kehamilan yang bertahan.

Kondisi ini menunjukkan bahwa penyelamatan badak putih utara melalui teknologi reproduksi berbantu masih menghadapi tantangan besar. Sel telur Fatu memang masih dapat diambil dan dibuahi di luar tubuh, tetapi keberhasilan proses tersebut belum berlanjut hingga kelahiran.

Populasi Liar Menghilang akibat Perburuan dan Konflik

Badak putih utara sebelumnya tersebar di sejumlah wilayah Afrika, termasuk Uganda bagian barat laut, Chad bagian selatan, Sudan Selatan, Republik Afrika Tengah bagian timur, serta Republik Demokratik Kongo bagian timur laut.

Perburuan untuk mendapatkan cula menjadi salah satu ancaman utama terhadap populasi subspesies ini. Konflik bersenjata yang terjadi di sebagian besar wilayah persebarannya juga memperburuk situasi karena menghambat perlindungan dan kegiatan konservasi.

Empat individu liar terakhir terlihat di Taman Nasional Garamba, Republik Demokratik Kongo, pada Agustus 2005. Tanda-tanda keberadaan badak putih utara masih ditemukan hingga 2007. Pada 2008, sempat muncul laporan yang belum terkonfirmasi mengenai tiga badak putih di Sudan Selatan. Namun, survei pada Juni tahun yang sama tidak menemukan keberadaan mereka.

Pemindahan ke Kenya Tidak Berhasil Memulihkan Populasi

Pada Desember 2009, empat badak putih utara yang terdiri dari dua jantan dan dua betina dipindahkan dari Safari Park Dvur Kralove di Republik Ceko ke Ol Pejeta Conservancy, Kenya. Pemindahan tersebut diharapkan dapat mendorong perkembangbiakan dalam habitat yang lebih alami.

Harapan itu kemudian semakin sulit diwujudkan setelah badak jantan bernama Suni mati pada Oktober 2014 akibat sebab alami. Badak jantan terakhir, Sudan, meninggal pada 19 Maret 2018 karena usia tua. Sudan merupakan ayah Najin sekaligus kakek Fatu.

Pada 2014, Najin dan Fatu didiagnosis mengalami gangguan serius pada sistem reproduksi. Keduanya memang pernah terlihat kawin di Ol Pejeta, tetapi tidak pernah berhasil mengalami kehamilan. Konsorsium menyebut gangguan tersebut kemungkinan telah berlangsung cukup lama sebelum akhirnya terdeteksi.

Kesimpulan

Upaya penyelamatan badak putih utara kini bergantung pada Fatu, teknologi reproduksi berbantu, embrio hasil pembuahan laboratorium, serta badak putih selatan sebagai induk pengganti. Sebanyak 39 embrio telah dihasilkan, tetapi enam embrio yang ditransfer hingga April 2026 belum menghasilkan kehamilan yang bertahan.

Dengan hanya dua betina yang tersisa dan tidak adanya badak jantan hidup, setiap prosedur menjadi bagian penting dari usaha mempertahankan subspesies ini. Keberhasilan di masa depan akan sangat ditentukan oleh kemampuan konsorsium mengembangkan proses transfer embrio hingga menghasilkan kelahiran.

Sumber: Cnnindonesia

Post Comment