Tangis Keluarga Mengiringi Pemakaman Imam Soeparno, Korban Kapal Virgo Transport 8
Isak tangis keluarga mengiringi kedatangan jenazah Imam Soeparno, pria berusia 66 tahun yang menjadi salah satu korban meninggal dalam tragedi terbaliknya Kapal Motor Virgo Transport 8 di perairan Laut Jawa. Jenazah Imam tiba di rumah duka di kawasan Jalan Sememi Jaya Gang 4, Kota Surabaya, pada Rabu (16/9) siang.
Kedatangan ambulans yang membawa jenazah sontak memecah suasana duka. Anggota keluarga yang telah menunggu langsung menyambut peti jenazah dengan tangisan histeris. Seorang perempuan bahkan jatuh lemas dan pingsan hingga harus dibopong oleh kerabat serta petugas yang berada di lokasi.
Suasana Haru di Rumah Duka Imam Soeparno
Kesedihan semakin terasa ketika salah satu anggota keluarga memeluk erat peti jenazah Imam sebelum disemayamkan. Tangisan pecah di antara kerabat dan warga yang datang untuk memberikan penghormatan terakhir kepada korban kecelakaan kapal tersebut.
Setelah disemayamkan dan disalatkan oleh puluhan pelayat bersama warga sekitar, jenazah Imam kemudian dibawa menuju tempat peristirahatan terakhir. Iring-iringan pelayat berjalan kaki sambil mengangkat peti jenazah melewati jalanan kampung menuju Tempat Pemakaman Umum Babat Jerawat, Kota Surabaya.
Prosesi pemakaman berlangsung khidmat di bawah terik matahari siang. Taburan bunga di atas pusara dan lantunan doa menjadi salam perpisahan terakhir dari keluarga bagi Imam Soeparno, sosok pekerja keras yang selama hidupnya berjuang untuk memenuhi kebutuhan keluarga.
Imam Soeparno, Pekerja Keras yang Menyeberangi Pulau
Di mata keluarga, Imam dikenal sebagai pria yang tidak mengenal lelah. Ia bekerja sebagai mekanik sekaligus kernet truk. Pekerjaan tersebut membuatnya harus berulang kali bepergian dari satu pulau ke pulau lain.
Adik Imam, Syamsi, menuturkan bahwa sang kakak memilih mencari penghasilan hingga ke luar pulau karena peluang kerja di Surabaya semakin terbatas. Imam kemudian bekerja di Kalimantan dan terus berpindah mengikuti pekerjaan yang tersedia.
“Dia itu bekerja, asalnya bekerja di Surabaya, berhubung di Surabaya itu kemungkinan agak berkurang pendapatannya, dia ada pekerjaan di Kalimantan,” kata Syamsi.
Menurut Syamsi, Imam kerap pulang dari Kalimantan ke Surabaya sebelum kembali berangkat ketika mendapat pekerjaan baru. Selain mampu menjadi kernet, Imam juga memiliki keahlian sebagai mekanik.
“Habis dari Kalimantan pulang lagi ke Surabaya. Habis gitu dipanggil lagi, disuruh ada pekerjaan di sana, kembali sana lagi. Sebagai kernet bisa, mekanik juga bisa,” ujarnya.
Keluarga Sempat Tidak Percaya Kabar Duka
Kabar mengenai nasib Imam pertama kali diketahui keluarga melalui media sosial. Syamsi kemudian mendatangi posko terpadu di Pelabuhan Tanjung Perak, Surabaya, untuk mencocokkan informasi yang diterima.
Keluarga sempat meragukan kabar tersebut karena kartu identitas Imam masih dalam kondisi utuh. Selain itu, nomor telepon milik Imam juga masih dapat dihubungi, meski tidak ada jawaban. Syamsi akhirnya meminta foto jenazah untuk memastikan identitas kakaknya.
Setelah melihat foto tersebut, keluarga baru meyakini bahwa Imam termasuk korban dalam tragedi Kapal Motor Virgo Transport 8.
Pamitan Terakhir Imam kepada Anak Semata Wayangnya
Kepergian Imam meninggalkan duka mendalam bagi anak semata wayangnya, Novia. Sebelum tragedi terjadi, Novia sempat berkomunikasi dengan sang ayah melalui WhatsApp. Imam mengabarkan bahwa dirinya berangkat menggunakan Kapal Virgo.
Dalam percakapan itu, Imam menyampaikan bahwa perjalanan tersebut kemungkinan menjadi kali terakhir ia bekerja. Ia mengatakan hanya akan mengikuti pekerjaan itu satu kali, kemudian tidak lagi bekerja. Bagi Novia, ucapan tersebut menjadi pamitan terakhir dari sang ayah.
“Bilang ke aku, aku ikut satu kali ini aja, habis itu tidak kerja lagi. Terus tak tanyai kenapa? Enggak, enggak apa-apa, enggak kerja aja. Pamitan terakhir kerja justru berpulang,” tutur Novia lirih.
Meski jarang berada di rumah karena tuntutan pekerjaan, Imam tetap dikenal menyayangi keluarganya, terutama cucu-cucunya. Ia disebut selalu berusaha memenuhi keinginan sang cucu, termasuk ketika diminta membelikan mainan.
Data Korban Kapal Virgo Transport 8
Kapal Motor Virgo Transport 8 dilaporkan hilang kontak sebelum akhirnya terbalik di perairan Laut Jawa pada Minggu (13/9) sekitar pukul 02.00 WITA. Kapal tersebut berlayar dari Surabaya menuju Banjarmasin sejak Sabtu (12/9).
Kapal itu diketahui mengangkut 243 orang yang terdiri atas penumpang, awak kapal, dan kru, serta membawa 89 kendaraan. Hingga saat itu, sebanyak 114 korban telah ditemukan. Enam di antaranya meninggal dunia, sedangkan 129 korban lainnya masih belum ditemukan.
Enam korban meninggal yang telah teridentifikasi adalah Reyner Fausta Yosilianto asal Malang, Nurul Rian Hidayat asal Pamekasan, Deny Ridzal Saputra asal Kediri, Imam Soeparno asal Surabaya, serta Erick Maisul Latif dan Risyan Kurnia Putra asal Garut.
Kesimpulan
Pemakaman Imam Soeparno menjadi momen perpisahan penuh haru bagi keluarga dan warga Surabaya. Sosok pekerja keras yang selama hidupnya rela menyeberangi pulau demi menafkahi keluarga itu kini telah berpulang. Di tengah duka yang mendalam, keluarga dan masyarakat masih menantikan perkembangan pencarian korban Kapal Motor Virgo Transport 8 yang hingga kini belum ditemukan.
Sumber: Cnnindonesia



Post Comment