12 Bekantan Mati Terbakar akibat Karhutla di Hulu Sungai Selatan, BKSDA Kalsel Turunkan Tim Rescue
Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kalimantan Selatan segera mengerahkan tim penyelamat satwa atau wildlife rescue setelah menerima laporan mengenai bekantan yang menjadi korban kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Sebanyak 12 bekantan ditemukan mati akibat terbakar di Desa Balimau, Kecamatan Kalumpang, Kabupaten Hulu Sungai Selatan.
Penemuan tersebut mengungkap jumlah korban yang lebih banyak dibandingkan informasi awal. Sebelumnya, bekantan yang terdampak karhutla di kawasan tersebut diperkirakan berjumlah 10 ekor. Namun, setelah dilakukan pemeriksaan langsung di lapangan, tim BKSDA Kalsel memastikan terdapat 12 bekantan yang mati akibat kebakaran.
BKSDA Kalsel Lakukan Penyisiran di Lokasi Karhutla
Kepala BKSDA Kalsel Agus Ngurah Krisna Kepakisan mengatakan, pihaknya langsung memerintahkan tim penyelamat satwa untuk mendatangi lokasi kejadian. Tim diturunkan ke Desa Balimau untuk melakukan pengecekan dan memastikan kondisi bekantan yang dilaporkan terdampak kebakaran.
Setibanya di lokasi, tim berkoordinasi dengan aparat desa, kepala desa, serta masyarakat setempat. Penyisiran dilakukan di sepanjang sungai yang berada di sekitar kawasan terdampak karhutla. Dari kegiatan tersebut, tim menemukan 12 bekantan yang telah terkena dampak kebakaran.
Hasil pemeriksaan memastikan seluruh bekantan tersebut telah mati akibat terbakar. Bangkai satwa endemik Kalimantan itu kemudian dikuburkan oleh tim dengan disaksikan oleh kepala desa dan masyarakat setempat.
Karhutla Melanda Lahan Seluas Sekitar Sembilan Hektare
Kebakaran hutan dan lahan di wilayah tersebut melanda area seluas kurang lebih sembilan hektare. Selain menemukan bekantan yang mati, tim BKSDA Kalsel juga mendapati kelompok bekantan lain yang masih hidup di sekitar kawasan tersebut.
Menurut Agus, terdapat 32 bekantan dari kelompok yang sama yang masih bertahan hidup. Puluhan satwa tersebut berada di lokasi lain, tepatnya di sisi berbeda dari area yang terbakar.
Api Diduga Merembet akibat Tiupan Angin
Berdasarkan keterangan kepala desa dan hasil peninjauan lapangan, api diduga tidak berasal dari kawasan habitat bekantan maupun dari Desa Balimau. Api diperkirakan berasal dari lokasi lain, kemudian terbawa angin kencang dan merembet ke area habitat bekantan pada sore menjelang malam hari.
Kondisi tersebut menyebabkan kawasan yang menjadi habitat satwa endemik Kalimantan ikut terdampak kebakaran. Peristiwa ini menunjukkan bahwa habitat satwa liar di luar kawasan konservasi tetap menghadapi ancaman karhutla.
Bekantan Merupakan Satwa Dilindungi dan Ikon Kalsel
BKSDA Kalsel menyampaikan keprihatinan atas kematian belasan bekantan tersebut. Bekantan merupakan primata yang dilindungi sekaligus salah satu satwa yang menjadi ikon Kalimantan Selatan. Karena itu, perlindungan terhadap populasi dan habitatnya membutuhkan perhatian bersama.
Masyarakat bersama pemerintah desa diketahui telah melakukan sejumlah upaya untuk menjaga kawasan tersebut. Salah satunya dengan memasang papan-papan peringatan sejak 2016. Selain itu, kegiatan pelestarian lingkungan juga aktif didokumentasikan dan dibagikan melalui media sosial.
BKSDA Kalsel berharap para pemerhati lingkungan dapat bekerja sama dalam menjaga keberadaan satwa liar di Kalimantan Selatan. Kolaborasi antara pemerintah, masyarakat, dan pihak yang peduli terhadap lingkungan dinilai penting untuk mencegah berulangnya kejadian serupa.
Mayoritas Populasi Bekantan Berada di Luar Kawasan Konservasi
Berdasarkan catatan BKSDA Kalsel, populasi bekantan di provinsi tersebut pada 2025 diperkirakan mencapai sekitar 3.700 individu. Sekitar sepertiga populasi berada di kawasan konservasi, sedangkan dua pertiganya hidup di luar kawasan konservasi.
Habitat bekantan di luar kawasan konservasi mencakup hutan produksi, hutan lindung, serta Areal Penggunaan Lain (APL). Sebanyak 12 bekantan yang menjadi korban karhutla di Balimau berada di kawasan APL yang merupakan tanah milik desa setempat.
Rencana Penguatan Perlindungan Habitat
Ke depan, BKSDA Kalsel berkomitmen melanjutkan pendataan terhadap kawasan APL yang menjadi habitat satwa liar. Langkah ini akan dilakukan bersama dengan sosialisasi kepada kepala desa dan masyarakat terkait pentingnya perlindungan habitat bekantan.
BKSDA juga akan mengoptimalkan peran pusat penyelamatan satwa melalui layanan call center. Selain itu, lembaga tersebut mendorong penetapan area preservasi baru berbasis resor sebagai bagian dari upaya memperkuat perlindungan satwa liar.
Kesimpulan
Kematian 12 bekantan akibat karhutla di Desa Balimau menjadi perhatian serius karena satwa tersebut merupakan primata yang dilindungi dan ikon Kalimantan Selatan. BKSDA Kalsel telah melakukan pemeriksaan, menguburkan bangkai bekantan, serta memastikan masih ada 32 bekantan lain yang selamat di sekitar kawasan tersebut.
Keberadaan sebagian besar populasi bekantan di luar kawasan konservasi membuat perlindungan habitat membutuhkan keterlibatan pemerintah desa dan masyarakat. Pendataan kawasan APL, sosialisasi, layanan penyelamatan satwa, serta rencana pembentukan area preservasi diharapkan dapat memperkuat upaya pelestarian tanpa mengubah status kepemilikan tanah masyarakat.
Sumber: Cnnindonesia



Post Comment