Prabowo Perkuat Alutsista Indonesia: KRI Sriwijaya, Rafale, A400M, dan Radar GCI

Presiden RI Prabowo Subianto terus memperkuat sektor pertahanan nasional melalui pengadaan dan penerimaan berbagai alat utama sistem persenjataan (alutsista). Langkah tersebut menjadi bagian dari upaya pemerintah menjaga stabilitas negara sekaligus meningkatkan kemampuan operasional Tentara Nasional Indonesia (TNI).

Salah satu alutsista terbaru yang diterima Indonesia adalah kapal induk ITS Giuseppe Garibaldi. Kapal hibah dari Italia itu tiba di Dermaga 107, Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta Utara, pada Jumat (18/9). Pemerintah berencana mengubah fungsi kapal tersebut menjadi kapal induk yang dapat mendukung operasi helikopter dan pesawat nirawak atau drone.

Selain kapal induk, Indonesia juga menerima sejumlah pesawat tempur, pesawat pendukung, rudal, senjata presisi, serta radar pertahanan. Berikut sejumlah alutsista yang didatangkan atau diterima Indonesia dalam dua tahun periode pemerintahan Prabowo Subianto dan Gibran Rakabuming Raka.

KRI Sriwijaya, Kapal Induk Pertama Indonesia

ITS Giuseppe Garibaldi yang kemudian diubah namanya menjadi KRI Sriwijaya menjadi kapal induk pertama Indonesia. Kapal tersebut diproyeksikan untuk mendukung operasi udara dari laut, terutama dengan mengoperasikan helikopter dan drone.

Prabowo menyebut kapal ini dapat menampung sekitar 10 unit helikopter kelas menengah. Dengan panjang 180,2 meter, KRI Sriwijaya mampu melaju hingga 30 knot atau sekitar 56 kilometer per jam. Bobot kapal diperkirakan mencapai 13,8 ribu ton.

Kapal tersebut juga memiliki kapasitas personel yang besar. KRI Sriwijaya dapat membawa sekitar 600 kru inti kapal, 230 personel grup udara, serta sekitar 100 personel komando. Dalam kondisi tertentu, kapal ini bahkan dapat mengangkut hingga 600 pasukan komando tambahan.

Saat masih digunakan Angkatan Laut Italia, Garibaldi memiliki kemampuan untuk mengoperasikan pesawat tempur AV-8B Harrier II. Pesawat tersebut dapat lepas landas dalam jarak pendek dan mendarat secara vertikal. Kemampuan itu didukung oleh keberadaan ski-jump di bagian depan kapal.

Rafale dan Persenjataan Modern

Pada Senin, 18 Mei 2026, Prabowo menyerahkan sejumlah alutsista kepada Panglima TNI Jenderal Agus Subianto di Pangkalan Udara TNI AU Halim Perdanakusuma. Penyerahan tersebut mencakup enam unit pesawat tempur multirole combat aircraft atau MRCA Rafale.

Rafale merupakan pesawat tempur bermesin ganda yang dapat beroperasi dari pangkalan darat maupun kapal induk. Pesawat produksi Dassault Aviation itu dirancang untuk menjalankan berbagai misi, mulai dari superioritas udara, pertahanan udara, dukungan jarak dekat, serangan jarak dalam, pengintaian, serangan antikapal, hingga pencegahan nuklir.

Menurut data Dassault Aviation, Rafale memiliki bentang sayap 10,90 meter, panjang 15,30 meter, dan tinggi 5,30 meter. Bobot kosongnya sekitar 10 ton, sedangkan bobot lepas landas maksimum mencapai 24,5 ton. Pesawat ini juga mampu membawa beban eksternal hingga 9,5 ton.

Dari sisi performa, Rafale dapat mencapai kecepatan maksimum Mach 1,8 atau sekitar 750 knot. Pesawat ini mampu terbang hingga ketinggian 50 ribu kaki, atau sekitar 15.240 meter. Rafale ditenagai dua mesin dengan daya dorong masing-masing 7,5 ton dan dapat menahan beban gravitasi antara -3,2 G hingga +9 G.

Rafale memiliki 14 titik gantung senjata. Persenjataan yang dapat dioperasikan mencakup rudal udara-ke-udara MICA varian pencari panas atau IR dan pencari radar aktif atau EM. Pesawat ini juga dapat membawa senjata presisi udara-ke-darat HAMMER dalam varian 250 kilogram dan 1.000 kilogram yang dilengkapi sistem panduan INS/GPS.

Falcon 8X dan Airbus A400M

Selain Rafale, Indonesia menerima empat unit Falcon 8X. Pesawat yang juga diproduksi Dassault Aviation tersebut merupakan jet bisnis jarak jauh dengan jangkauan terbang hingga 11.945 kilometer. Kemampuan itu memungkinkan penerbangan tanpa henti dari Beijing ke New York maupun dari Singapura ke London.

Falcon 8X memiliki tiga mesin, panjang 24,46 meter, rentang sayap 26,29 meter, dan tinggi 7,94 meter. Pesawat ini menggunakan mesin Pratt & Whitney Canada PW307D. Kecepatan jelajah maksimumnya mencapai Mach 0,90, sementara ketinggian terbangnya dapat mencapai 51.000 kaki.

Indonesia juga menerima satu unit Airbus A400M MRTT. A400M merupakan pesawat angkut militer bermesin turboprop empat unit yang memadukan kemampuan penerbangan jarak strategis dengan kapasitas muatan berat. Pesawat ini juga mampu mendarat dan mengirimkan muatan di landasan pendek maupun landasan yang tidak beraspal.

A400M dapat membawa muatan maksimum 37 ton dengan ruang kargo bervolume 340 meter kubik dan penampang berukuran 4 x 4 meter. Kecepatan jelajah maksimum pesawat ini mencapai Mach 0,72 pada ketinggian hingga 40.000 kaki.

Ruang kargo A400M dapat dikonfigurasi untuk berbagai kebutuhan, termasuk mengangkut 54 prajurit bersama sembilan palet, membawa kontainer ISO hingga 40 kaki, melaksanakan penerjunan pasukan dan kargo secara bersamaan, serta menjalankan evakuasi medis. Pesawat ini juga mampu menjatuhkan muatan hingga 25 ton atau menurunkan hingga 116 penerjun payung.

Radar GCI dan Sistem Pertahanan Udara

Dalam penyerahan alutsista tersebut, Prabowo juga menyerahkan radar Ground Control Intercept atau GCI tipe GM403 buatan Thales, Prancis. Radar ini merupakan radar jarak jauh tiga dimensi yang dirancang untuk mendeteksi objek pada berbagai ketinggian, mulai dari sangat tinggi hingga rendah.

Pengadaan radar GM403 menjadi bagian dari kerja sama Indonesia dan Prancis yang melibatkan PT Len Industri serta Thales. Kontrak kerja sama tersebut ditandatangani pada 20 April 2022.

Kesimpulan

Penguatan alutsista pada masa kepemimpinan Prabowo dan Gibran mencakup berbagai jenis kemampuan, mulai dari kapal induk, pesawat tempur, pesawat angkut, senjata presisi, rudal, hingga radar pertahanan. Kehadiran KRI Sriwijaya membuka kemampuan baru bagi Indonesia dalam mendukung operasi helikopter dan drone dari laut.

Sementara itu, Rafale, A400M, Falcon 8X, serta radar GCI memperluas kemampuan TNI dalam menjalankan misi pertahanan udara, mobilitas pasukan, pengangkutan logistik, pengawasan, dan operasi militer lainnya. Ke depan, penguatan tersebut diharapkan semakin meningkatkan kesiapan serta stabilitas pertahanan Indonesia.

Sumber: Cnnindonesia

Post Comment