PFI Desak Basarnas Buka Kembali Operasi SAR Lima Jurnalis dan Dua Kru KM Arupadatu
Pewarta Foto Indonesia (PFI) mendesak Badan Nasional Pencarian dan Pertolongan atau Basarnas kembali membuka operasi pencarian dan penyelamatan (SAR) terhadap lima jurnalis dan dua kru kapal yang hilang kontak di perairan Selat Sunda. Rombongan tersebut dilaporkan sedang meliput aktivitas Gunung Anak Krakatau ketika hubungan dengan mereka terputus sejak 7 September.
Desakan PFI disampaikan setelah ditemukannya jasad seorang anak buah kapal (ABK) KM Arupadatu di Pulau Enggano, Bengkulu. Jasad tersebut kemudian dipastikan melalui tes DNA sebagai Surakman, salah satu dari tiga ABK yang berada dalam rombongan kapal tersebut.
PFI Minta Operasi SAR Segera Dibuka Kembali
Ketua Umum PFI Pusat, Dwi Pambudo, mengatakan penemuan jasad Surakman merupakan bukti baru yang perlu ditindaklanjuti oleh Basarnas dan tim SAR gabungan. Karena itu, PFI secara resmi meminta agar operasi pencarian kembali dilaksanakan.
“Atas dasar penemuan bukti baru ini, PFI secara resmi meminta dan mendesak Basarnas beserta tim SAR gabungan TNI/Polri untuk segera membuka kembali Operasi SAR Gabungan,” kata Dwi melalui keterangan tertulis pada Rabu (23/9).
Menurut PFI, operasi pencarian perlu dilakukan secara intensif di sekitar lokasi ditemukannya jasad. Penyisiran juga diminta diperluas ke jalur perairan dari arah Selat Sunda menuju Pulau Enggano, Bengkulu.
Penemuan Jasad Menjadi Petunjuk Baru
Jasad Surakman ditemukan di Pulau Enggano pada 12 September. Pada awalnya, jasad tersebut berstatus sebagai Mr X. Setelah dilakukan koordinasi antara Polda Banten dan Polda Bengkulu, identitas korban berhasil dipastikan melalui pencocokan data antemortem dan postmortem.
Data tersebut diperoleh dari pemeriksaan terhadap anggota keluarga delapan orang yang berada di dalam kapal. Hasil pemeriksaan DNA menunjukkan bahwa jasad yang ditemukan memiliki kecocokan dengan Surakman, ABK KM Arupadatu yang membawa lima jurnalis dalam peliputan di kawasan Selat Sunda.
Kapolda Banten Irjen Hengki mengatakan informasi mengenai penemuan jasad tersebut diterima pada hari kelima pencarian. Jasad itu ditemukan di Pulau Enggano, wilayah Bengkulu Utara.
“Pada hari Sabtu, hari kelima pencarian, kita mendapatkan informasi dari Bengkulu, bahwa di sana di Pulau Enggano, Bengkulu Utara, ditemukan seorang jenazah Mr X,” ujar Hengki dalam konferensi pers di Mapolda Banten, Serang, Rabu (23/9).
PFI Ingatkan Komitmen Pembukaan Kembali SAR
PFI mengingatkan bahwa penutupan operasi SAR pada pekan sebelumnya disertai komitmen untuk membuka kembali pencarian apabila ditemukan petunjuk atau tanda-tanda baru mengenai keberadaan para korban. Bagi PFI, penemuan jasad Surakman memenuhi unsur tersebut.
Dwi menegaskan, harapan keluarga dan rekan-rekan korban belum berakhir. Ia meminta pemerintah dan seluruh unsur terkait hadir secara maksimal untuk melacak keberadaan lima jurnalis serta dua kru kapal yang masih berstatus hilang.
“Harapan kami dan pihak keluarga sama sekali belum padam. Kami meminta negara hadir secara maksimal untuk melacak keberadaan 5 rekan jurnalis kami dan 2 kru kapal lainnya yang masih berstatus hilang. Waktu sangat berharga, dan setiap detiknya berarti bagi keselamatan mereka,” ujar Dwi.
Operasi Pencarian Dinilai Masih Penting
Permintaan pembukaan kembali operasi SAR tersebut menjadi perhatian penting karena pencarian berkaitan dengan keselamatan tujuh orang yang belum diketahui keberadaannya. Dengan adanya petunjuk berupa penemuan dan identifikasi jasad salah satu ABK, PFI berharap proses pencarian dapat kembali dilakukan secara terarah di wilayah yang dianggap memiliki keterkaitan dengan jalur pelayaran rombongan.
Penyisiran di sekitar Pulau Enggano dan jalur perairan menuju Selat Sunda diharapkan dapat membantu tim gabungan memperoleh informasi tambahan. PFI juga meminta agar pencarian dilakukan secara intensif dengan tetap berpedoman pada prosedur operasi SAR.
Kesimpulan
PFI mendesak Basarnas bersama tim SAR gabungan TNI/Polri membuka kembali operasi pencarian terhadap lima jurnalis dan dua kru KM Arupadatu yang hilang kontak sejak 7 September. Desakan itu muncul setelah jasad Surakman ditemukan di Pulau Enggano dan dipastikan melalui tes DNA sebagai salah satu ABK dalam rombongan.
Penemuan tersebut menjadi petunjuk baru yang dinilai perlu segera ditindaklanjuti. Ke depan, PFI berharap penyisiran dapat dilakukan secara intensif di sekitar lokasi penemuan jasad serta jalur perairan dari Selat Sunda menuju Enggano. Keluarga dan rekan-rekan korban masih menunggu kepastian mengenai keberadaan para korban lainnya.
Sumber: Cnnindonesia



Post Comment