Karhutla Sumsel Masih Berlangsung, Pemadaman Dipusatkan di OKI, Muba, dan Muara Enim
Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) masih terjadi di sejumlah wilayah Sumatera Selatan. Penanganan saat ini difokuskan pada tiga daerah yang memiliki luasan terbakar cukup besar, yakni Ogan Komering Ilir (OKI), Musi Banyuasin (Muba), dan Muara Enim.
Salah satu lokasi yang menjadi perhatian utama berada di Muara Medak, Kabupaten Musi Banyuasin. Berdasarkan estimasi awal, area yang terbakar di wilayah tersebut mencapai sekitar 115 hektare. Tim Manggala Agni masih melakukan pemadaman dan telah berada di lokasi selama delapan hari.
Pemadaman Karhutla di Muara Medak Berlangsung Delapan Hari
Kepala Balai Pengendalian Kebakaran Hutan dan Lahan Wilayah Sumatra Kementerian Kehutanan, Ferdian Krisnanto, mengatakan Muara Medak menjadi salah satu titik dengan luasan karhutla terbesar di Sumatera Selatan.
Menurut Ferdian, tim pemadam di lapangan masih terus berupaya mengendalikan api agar tidak meluas. Penanganan dari darat juga mendapat dukungan Satgas Udara untuk mempercepat proses pemadaman di titik-titik yang sulit dijangkau.
Satgas Udara menyiapkan satu helikopter untuk melakukan operasi water bombing. Dukungan tersebut diharapkan dapat membantu pemadaman, terutama ketika upaya dari tim darat menghadapi kendala di lapangan.
Ketersediaan Air Menjadi Kendala
Ferdian menjelaskan, salah satu hambatan utama dalam penanggulangan karhutla di Muara Medak adalah semakin terbatasnya sumber air. Kondisi itu membuat tim belum leluasa menambah kekuatan personel di lokasi.
Selain mengandalkan dukungan udara, Satgas juga sedang mengupayakan penggunaan alat berat. Langkah tersebut dilakukan untuk memperkuat penanganan di area terdampak dan membantu tim dalam mengendalikan kebakaran.
Karhutla di OKI Diupayakan Ditangani Sejak Dini
Selain Muba, wilayah Ogan Komering Ilir turut menjadi perhatian dalam operasi penanganan karhutla. Luas area yang terbakar di sejumlah lokasi di OKI diperkirakan berada pada kisaran 4 hingga 5 hektare.
Tim gabungan terus berupaya melakukan pemadaman sedini mungkin sebelum titik api meluas. Upaya tersebut dilakukan oleh tim darat dengan dukungan dari Satgas Udara.
Penanganan sejak awal menjadi bagian penting dalam mengendalikan kebakaran di wilayah yang memiliki sejumlah titik rawan. Dengan pemadaman yang dilakukan secara cepat, api diharapkan tidak berkembang menjadi kebakaran dengan luasan yang lebih besar.
Penguatan Personel untuk Penanganan di Ogan Ilir
Karhutla di wilayah Ogan Ilir juga masih muncul pada siang hingga malam hari. Namun, berdasarkan keterangan Ferdian, kebakaran di daerah tersebut umumnya dapat ditangani dalam waktu beberapa jam.
Untuk memperkuat operasi, Manggala Agni akan menggeser satu regu dari Daerah Operasi Sarolangun, Jambi. Regu tersebut dijadwalkan ditempatkan di posko lapangan Semambu pada Jumat, 21 Agustus, sambil menunggu tim pengganti dari Jambi.
Penambahan dukungan personel ini dilakukan untuk membantu menghadapi serangan api yang dapat terjadi pada siang maupun malam hari. Tim di lapangan tetap melakukan pemadaman secara berkelanjutan sesuai kondisi yang ditemukan.
Kemenhut Selidiki Kebakaran Hutan Produksi di Muba
Di sisi lain, Kementerian Kehutanan mengambil langkah penegakan hukum terkait kebakaran sekitar 25 hektare di kawasan Hutan Produksi wilayah KPH Lalan Mendis, Musi Banyuasin. Lokasi tersebut berada di areal Perizinan Berusaha Pemanfaatan Hutan (PBPH) PT TCP.
Balai Gakkum Kehutanan Sumatra di bawah Direktorat Jenderal Penegakan Hukum Kehutanan melakukan verifikasi lapangan. Kegiatan itu bertujuan mengidentifikasi titik awal kebakaran sekaligus mengumpulkan bahan keterangan untuk proses penyelidikan.
Direktur Jenderal Penegakan Hukum Kehutanan Dwi Januanto Nugroho menegaskan, kejadian tersebut harus menjadi peringatan bagi seluruh pemegang izin kehutanan. Perlindungan terhadap areal kerja perlu diperkuat, khususnya selama periode yang memiliki risiko kebakaran.
Menurut Dwi, pemegang izin wajib memastikan arealnya terjaga, sistem pencegahan berjalan, dan potensi kebakaran dapat ditangani sejak dini. Apabila ditemukan unsur kesengajaan, kelalaian, atau ketidakpatuhan yang menyebabkan kebakaran, proses penegakan hukum akan dilakukan.
Asal Api Masih Didalami
Kebakaran di kawasan tersebut dilaporkan terjadi sejak 26 Juli 2026. Api kemudian berhasil dipadamkan oleh Manggala Agni Daops Sumatera Selatan bersama BNPB, TNI, Polri, KPH, dan tim PT TCP. Upaya gabungan itu membuat api tidak meluas ke bagian hutan lainnya.
Hasil verifikasi awal menunjukkan dugaan bahwa titik awal kebakaran berasal dari areal kebun kelapa sawit dan pinang di dalam kawasan hutan pada areal PBPH PT TCP. Meski demikian, temuan tersebut masih dalam pendalaman untuk memastikan sumber dan penyebab kebakaran, status penguasaan lahan, serta pihak yang bertanggung jawab.
Tim Balai Gakkum Kehutanan Sumatera telah memeriksa pihak yang diduga menguasai dan mengelola lahan serta meminta keterangan dari sejumlah saksi. Pemeriksaan juga diarahkan untuk mengetahui kemungkinan adanya unsur kesengajaan atau kelalaian, keterlibatan pihak lain, serta kepatuhan pemegang izin terhadap kewajiban perlindungan dan pengendalian kebakaran.
Selain melakukan pemeriksaan, petugas memasang plang peringatan di lokasi. Papan tersebut menjadi penanda bahwa areal terkait berada dalam pengawasan aparat penegak hukum dan masih dalam proses penyelidikan.
Kesimpulan
Karhutla di Sumatera Selatan masih memerlukan penanganan intensif, terutama di Muara Medak, Muba, OKI, dan wilayah sekitarnya. Di Muara Medak, luas area terbakar diperkirakan mencapai 115 hektare dengan kendala utama berupa semakin minimnya ketersediaan air. Sementara itu, kebakaran di OKI dan Ogan Ilir terus diupayakan agar dapat dipadamkan sebelum meluas.
Dukungan helikopter, penambahan personel, penggunaan alat berat, serta koordinasi antarlembaga menjadi bagian dari langkah penanggulangan yang sedang dilakukan. Pada saat yang sama, penyelidikan terhadap kebakaran di kawasan hutan produksi Muba terus berjalan untuk memastikan penyebab dan pihak yang bertanggung jawab. Ke depan, penguatan pencegahan dan pengawasan oleh seluruh pemegang izin kehutanan tetap menjadi bagian penting agar kebakaran serupa dapat ditangani sejak dini.
Sumber: Cnnindonesia



Post Comment