BNPB Minta Malaysia dan Singapura Tak Saling Menyalahkan soal Asap Karhutla

JAKARTA — Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) meminta negara-negara tetangga, khususnya Malaysia dan Singapura, tidak saling menyalahkan dalam menyikapi dampak asap kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Asap yang berasal dari kebakaran di sejumlah wilayah Sumatra dan Kalimantan berpotensi menimbulkan dampak lintas batas sehingga membutuhkan penanganan bersama.

Pelaksana Tugas Kepala Pusat Data dan Informasi BNPB Berton Pandjaitan menegaskan bahwa karhutla tidak mengenal batas administrasi maupun batas negara. Karena itu, penanganan bencana tersebut dinilai perlu dilakukan melalui kerja sama dan langkah nyata di wilayah masing-masing, bukan dengan memperdebatkan sumber asap secara sembarangan.

BNPB Dorong Penanganan Karhutla secara Bersama

Berton mengatakan Indonesia memahami kekhawatiran negara-negara tetangga terhadap kemungkinan munculnya asap lintas batas. Namun, ia menekankan bahwa pendekatan yang perlu dikedepankan adalah kolaborasi untuk mengurangi dampak karhutla.

“Jadi pendekatan kita bukan saling menyalahkan, tetapi bagaimana masing-masing negara melakukan upaya maksimal di wilayahnya dan bersama-sama mengurangi dampak asap lintas batas,” kata Berton dalam keterangan tertulis, Minggu (23/8).

Menurut dia, pemerintah Indonesia telah mengerahkan sumber daya dalam jumlah besar untuk mengendalikan kebakaran. Upaya tersebut dilakukan melalui pemadaman darat, patroli, pemadaman udara, serta pengerahan pesawat untuk operasi water bombing.

Selain itu, pemerintah menjalankan Operasi Modifikasi Cuaca dan memperkuat keterlibatan personel TNI-Polri. Penanganan juga dilakukan bersama pemerintah daerah serta masyarakat. Di sisi lain, penegakan hukum terhadap pihak yang diduga melakukan pembakaran hutan dan lahan turut menjadi bagian dari upaya pengendalian karhutla.

52 Pesawat Dikerahkan di Enam Provinsi

BNPB mencatat pemerintah telah mengerahkan 52 pesawat untuk mendukung operasi karhutla di enam provinsi prioritas. Dari jumlah tersebut, sebanyak 30 pesawat ditempatkan di wilayah Kalimantan, sedangkan 22 pesawat lainnya beroperasi di Sumatra.

Pemerintah juga menambah kekuatan TNI Angkatan Udara guna memperkuat operasi penanganan kebakaran di Kalimantan. BNPB menilai pengendalian api sedekat mungkin dari titik sumber menjadi langkah penting untuk menekan produksi asap dan mengurangi kemungkinan dampak lintas batas.

“Jadi fokus kita saat ini adalah mengendalikan api sedekat mungkin dari sumbernya dan secepat mungkin, karena apabila sumber kebakaran dapat dikendalikan, maka produksi asap dan potensi dampak lintas batas juga dapat kita tekan,” ujar Berton.

Pergerakan Asap Dipantau melalui Data Meteorologi

Berton menjelaskan, pergerakan asap tidak dapat dilihat hanya berdasarkan dugaan mengenai lokasi kebakaran. Analisis terhadap arah dan dampak asap perlu mempertimbangkan sejumlah data meteorologi, antara lain arah serta kecepatan angin dan kondisi atmosfer.

Selain data cuaca, pemerintah juga menggunakan hasil pemantauan satelit dan informasi dari lapangan. Data tersebut menjadi bahan untuk melihat perkembangan kebakaran sekaligus memperkirakan pergerakan asap yang berpotensi melintasi wilayah negara lain.

Presiden Pimpin Rapat Penanganan Karhutla

Upaya penanganan karhutla juga dibahas Presiden RI Prabowo Subianto dalam rapat terbatas di kediamannya di Hambalang, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, pada Minggu (23/8) malam. Dalam pertemuan tersebut, Presiden memanggil sejumlah pejabat, termasuk Menteri Pertahanan Sjafrie Sjamsoeddin dan Panglima TNI Jenderal Agus Subiyanto.

Tiga kepala staf angkatan TNI turut hadir dalam sesi pertemuan yang membahas tindak lanjut instruksi Presiden terkait penanganan karhutla dan bantuan pascagempa di Nusa Tenggara Timur (NTT). Informasi tersebut disampaikan Sekretaris Kabinet Letkol TNI Teddy Indra Wijaya melalui unggahan akun resmi Sekretariat Kabinet.

Teddy menyebut dukungan yang diperintahkan Presiden akan didistribusikan ke wilayah Kalimantan dan NTT, terutama melalui jalur penerbangan udara. Untuk memperkuat operasi karhutla di Kalimantan, pemerintah menambah 17 pesawat water bombing dan memobilisasi 1.500 personel tambahan beserta perlengkapan perorangan.

Luas Karhutla Capai 72.798 Hektare

Karhutla saat ini melanda sejumlah wilayah di Indonesia, terutama di Pulau Kalimantan dan Sumatra. BNPB mencatat total luas kebakaran hutan dan lahan di Indonesia mencapai 72.798 hektare.

Deputi Bidang Pencegahan BNPB Abdul Muhari menyampaikan bahwa hingga Minggu (23/8), Kalimantan Barat menjadi provinsi dengan luas karhutla terbesar. Luas wilayah yang terdampak kebakaran di provinsi tersebut tercatat mencapai 38.310 hektare.

Kesimpulan

BNPB menilai persoalan asap karhutla lintas batas perlu dihadapi melalui kerja sama, bukan saling menyalahkan. Indonesia menyatakan telah mengerahkan berbagai sumber daya, mulai dari pemadaman darat dan udara hingga penambahan personel serta pesawat water bombing.

Ke depan, pengendalian api dari sumbernya, pemantauan berbasis data meteorologi, serta koordinasi antarlembaga dan antarnegara menjadi hal penting untuk menekan produksi asap. Dengan langkah yang terukur dan dilakukan secara bersama, dampak karhutla terhadap masyarakat di Indonesia maupun negara-negara tetangga diharapkan dapat dikurangi.

Sumber: Cnnindonesia

Post Comment