Trump Ancam “Beri Pelajaran” kepada Kanada Usai Perundingan Perdagangan Gagal

Washington, D.C.—Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyatakan akan memberi “pelajaran” kepada Kanada setelah perundingan perdagangan antara kedua negara gagal mencapai kesepakatan. Pernyataan tersebut disampaikan setelah Kanada memberlakukan tarif balasan terhadap sejumlah produk impor dari Amerika Serikat.

Perselisihan perdagangan ini bermula ketika pemerintah AS menerapkan tarif baru sebesar 50 persen terhadap impor dari Kanada senilai sekitar US$20 miliar pada Sabtu (22/8). Kebijakan itu diambil setelah pembicaraan perdagangan antara Washington dan Ottawa tidak menghasilkan kesepakatan yang diharapkan.

Kanada Balas Tarif Impor Amerika Serikat

Kanada kemudian merespons kebijakan tersebut dengan mengenakan tarif terhadap impor tahunan dari Amerika Serikat yang nilainya diperkirakan mencapai sekitar US$20 miliar. Langkah ini menunjukkan meningkatnya ketegangan perdagangan antara kedua negara yang selama ini memiliki hubungan ekonomi erat.

Respons Kanada itu memicu pernyataan keras dari Trump. Ia menilai Amerika Serikat tidak terlalu bergantung pada Kanada untuk memenuhi kebutuhan ekonominya. Menurut Trump, sebagian kebutuhan yang selama ini diperoleh dari Kanada masih dapat dicari dari negara lain.

“Kami sudah memiliki kesepakatan, kesepakatan yang cukup bagus, Anda tahu, lumayan bagus. Mereka tidak memiliki apa pun yang mutlak kita butuhkan, kita bisa tetap berjalan tanpa mereka,” ujar Trump, dikutip dari Reuters pada Kamis (27/8).

Trump kemudian menyatakan bahwa Kanada perlu mendapatkan pelajaran agar tidak lagi mengambil tindakan yang dianggap merugikan kepentingan Amerika Serikat.

“Maksud saya, ada beberapa hal yang mungkin sedikit merepotkan, tetapi kita bisa mendapatkannya dari tempat lain. Dan sudah saatnya memberi pelajaran kepada Kanada bahwa mereka tidak bisa lagi melakukan hal ini,” kata Trump.

Tarif Kendaraan dan Suku Cadang Kanada

Selain tarif sebesar 50 persen terhadap impor Kanada senilai US$20 miliar, Trump juga mengumumkan penerapan tarif 50 persen untuk kendaraan dan suku cadang otomotif asal Kanada. Kebijakan tersebut dijadwalkan mulai berlaku pada 1 Januari.

Kanada menyebut penolakan Amerika Serikat untuk memberikan keringanan tarif bagi kendaraan berukuran sedang dan berat sebagai salah satu faktor yang menyebabkan perundingan perdagangan tidak mencapai kesepakatan.

Isu tarif kendaraan menjadi bagian penting dalam pembicaraan kedua negara. Kanada berharap terdapat pengecualian atau pengurangan beban tarif untuk sektor otomotif, khususnya kendaraan berukuran sedang dan berat. Namun, permintaan tersebut tidak mendapat persetujuan dari pihak AS.

Jalur Komunikasi AS-Kanada Disebut Tidak Terbuka

Perwakilan Dagang AS Jamieson Greer mengatakan bahwa saat ini tidak ada jalur komunikasi terbuka antara pemerintah Amerika Serikat dan Kanada. Ia juga menegaskan bahwa Washington tidak akan mengabaikan tindakan balasan yang dilakukan Ottawa.

Greer memperingatkan bahwa Amerika Serikat dapat mengambil langkah lanjutan apabila Kanada kembali menerapkan tindakan balasan terhadap kebijakan perdagangan AS.

“Jika ada tindakan balasan lebih lanjut dari pihak Kanada, tentu saja kami tidak akan tinggal diam dan menerimanya begitu saja. Kami memiliki kebijakan perdagangan sendiri dan akan melanjutkannya dengan cara terbaik bagi AS,” ujar Greer.

Gedung Putih Prediksi Kesepakatan Lebih Buruk bagi Kanada

Penasihat Gedung Putih Peter Navarro turut menyampaikan pandangannya mengenai kemungkinan berlanjutnya perundingan perdagangan antara Amerika Serikat dan Kanada. Ia memperkirakan kesepakatan yang nantinya dicapai tidak akan lebih baik bagi Kanada dibandingkan tawaran yang sempat diajukan sebelumnya.

Navarro bahkan mengatakan bahwa kesepakatan yang sebelumnya telah diperoleh Kanada, tetapi kemudian ditolak, kemungkinan tidak akan kembali tersedia.

“Hasil akhirnya tidak akan baik bagi Kanada, dan saya memperkirakan bahwa kesepakatan yang sempat didapat Kanada dan kemudian ditolak, tidak akan pernah didapat lagi,” ujar Navarro.

Ketegangan Perdagangan Berpotensi Berlanjut

Rangkaian kebijakan tarif dan ancaman penerapan tarif tambahan menunjukkan bahwa hubungan perdagangan Amerika Serikat dan Kanada tengah menghadapi ketegangan. Kegagalan perundingan, tarif balasan Kanada, serta belum terbukanya kembali jalur komunikasi membuat peluang tercapainya kesepakatan baru menjadi semakin tidak pasti.

Ke depan, perkembangan hubungan dagang kedua negara akan sangat dipengaruhi oleh respons Kanada terhadap tarif kendaraan dan suku cadang yang dijadwalkan berlaku pada 1 Januari. Pernyataan dari Trump, Greer, dan Navarro juga menunjukkan bahwa pemerintah AS masih mempertahankan sikap tegas terhadap Kanada.

Dengan demikian, perselisihan tarif antara kedua negara belum menunjukkan tanda-tanda segera berakhir. Jika tidak ada perubahan dalam posisi masing-masing pihak, kebijakan perdagangan dan tindakan balasan berpotensi terus menjadi sumber ketegangan dalam hubungan Amerika Serikat dan Kanada.

Kesimpulan

Presiden Donald Trump mengancam akan memberi “pelajaran” kepada Kanada setelah perundingan perdagangan kedua negara gagal. Ancaman itu muncul setelah AS memberlakukan tarif 50 persen terhadap impor Kanada senilai US$20 miliar dan Kanada membalas dengan tarif bernilai serupa terhadap produk AS. Trump juga menetapkan tarif 50 persen untuk kendaraan dan suku cadang otomotif Kanada yang mulai berlaku pada 1 Januari.

Di tengah tidak adanya jalur komunikasi terbuka, pejabat AS memperingatkan bahwa Washington akan merespons setiap tindakan balasan Kanada. Sementara itu, Gedung Putih menilai hasil perundingan berikutnya kemungkinan akan lebih merugikan Kanada. Situasi tersebut membuat masa depan hubungan perdagangan kedua negara masih dibayangi ketidakpastian.

Sumber: Cnnindonesia

Post Comment