Kualitas Udara Kubu Raya dan Mempawah Masuk Kategori Berbahaya akibat Asap Karhutla
Kualitas udara di Kabupaten Kubu Raya dan Kabupaten Mempawah, Kalimantan Barat, berada dalam kategori berbahaya atau hitam. Kondisi tersebut dipengaruhi kepungan asap kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang melanda wilayah tersebut. Berdasarkan pantauan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) pada Selasa (1/9) pukul 10.00 WIB, konsentrasi partikulat PM2.5 di kedua kabupaten telah melampaui ambang batas kategori berbahaya.
Situasi ini menjadi perhatian karena kualitas udara yang buruk beriringan dengan peningkatan titik panas karhutla di Kalimantan Barat. Di sisi lain, Dinas Kesehatan Kalimantan Barat juga mencatat tingginya jumlah kasus infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) sepanjang 2026.
Konsentrasi PM2.5 di Kubu Raya dan Mempawah Melampaui Ambang Bahaya
BMKG melaporkan, konsentrasi PM2.5 di Kabupaten Kubu Raya mencapai 385,2 µg/m³. Sementara itu, kadar PM2.5 di Kabupaten Mempawah tercatat lebih tinggi, yakni 448,1 µg/m³. Kedua angka tersebut telah melewati batas ambang kategori berbahaya yang berada di atas 250,51 µg/m³.
Dengan catatan tersebut, Mempawah menjadi wilayah dengan konsentrasi PM2.5 lebih tinggi dibandingkan Kubu Raya. Tingginya partikulat di udara menunjukkan kuatnya dampak asap karhutla terhadap kondisi lingkungan di dua wilayah Kalimantan Barat tersebut.
Mengenal Partikulat PM2.5
PM2.5 merupakan partikel udara berukuran lebih kecil atau sama dengan 2,5 mikrometer. Karena ukurannya sangat kecil, partikulat ini dapat masuk ke saluran pernapasan dan terserap ke dalam aliran darah ketika seseorang bernapas.
Karakteristik tersebut membuat PM2.5 menjadi salah satu polutan yang memiliki ancaman kesehatan besar. Partikel ini dapat berasal dari berbagai sumber, termasuk asap yang dihasilkan oleh kebakaran hutan dan lahan.
Hotspot Karhutla di Kalimantan Barat Meningkat
Peningkatan kualitas udara buruk di Kubu Raya dan Mempawah terjadi di tengah bertambahnya titik panas karhutla di Kalimantan Barat. Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) melaporkan, jumlah hotspot di Kalbar naik sebanyak 3.533 titik hingga mencapai 7.377 titik pada Senin (31/8).
Selain hotspot, jumlah titik api atau firespot di Kalimantan Barat juga meningkat. BNPB mencatat penambahan sebanyak 16 titik sehingga total firespot di wilayah tersebut mencapai 72 titik.
Plt Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB Berton SP Panjaitan mengatakan, peningkatan titik panas terjadi di sejumlah wilayah Kalimantan. Namun, kenaikan paling signifikan tercatat di Kalimantan Barat.
“Kita lihat bahwa di Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah maupun Kalimantan Selatan, jumlah titik panas itu relatif bertambah. Di Kalimantan Barat signifikan bertambahnya. Di Kalimantan Selatan, maupun Kalimantan Tengah, relatif menurun,” ujar Berton dalam konferensi pers, Senin (31/8).
Kasus ISPA di Kalbar Mencapai 165.727 Kasus
Dampak kabut asap juga terlihat dari perkembangan kasus kesehatan masyarakat. Dinas Kesehatan Kalimantan Barat mencatat total 165.727 kasus ISPA sejak 1 Januari hingga 22 Agustus 2026.
Kenaikan kasus ISPA mulai terlihat sejak akhir Mei 2026 dan terus berlangsung hingga pertengahan Agustus. Peningkatan tersebut juga tercermin dari bertambahnya kunjungan masyarakat ke fasilitas pelayanan kesehatan, termasuk puskesmas, seiring meningkatnya jumlah hotspot di Kalimantan Barat.
Kepala Dinkes Kalbar Erna Yulianti menyampaikan bahwa kunjungan masyarakat ke fasilitas kesehatan mengalami peningkatan dibandingkan minggu-minggu sebelumnya.
“Terjadi peningkatan ISPA di fasilitas pelayanan kesehatan dibandingkan minggu-minggu sebelumnya. Artinya kunjungan masyarakat ke puskesmas lebih meningkat,” ujar Erna, Sabtu (29/8).
Kesimpulan
Kualitas udara di Kubu Raya dan Mempawah berada pada kategori berbahaya setelah konsentrasi PM2.5 masing-masing mencapai 385,2 µg/m³ dan 448,1 µg/m³. Kondisi tersebut berlangsung saat jumlah hotspot dan firespot karhutla di Kalimantan Barat mengalami peningkatan signifikan.
Lonjakan kasus ISPA hingga 165.727 kasus sepanjang 2026 turut memperlihatkan dampak kabut asap terhadap kesehatan masyarakat. Ke depan, perkembangan kualitas udara, titik panas, serta kasus ISPA di Kalimantan Barat masih menjadi hal penting untuk terus dipantau seiring berlangsungnya kondisi karhutla.
Sumber: Cnnindonesia



Post Comment