Karhutla TNBTS Lumajang Berdampak pada Satwa, Kijang Ditemukan Mati Terbakar

Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang melanda kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS), Kabupaten Lumajang, Jawa Timur, tidak hanya menghanguskan vegetasi. Kebakaran tersebut juga berdampak pada kehidupan satwa liar yang berada di dalam kawasan konservasi tersebut.

Petugas menemukan seekor kijang mati terbakar di area yang terdampak api. Selain itu, ditemukan pula tengkorak satwa di kawasan hutan yang telah terbakar. Temuan tersebut menjadi gambaran mengenai dampak karhutla terhadap fauna yang menghuni kawasan TNBTS.

Kijang Ditemukan Mati di Area Kebakaran

Kabag Tata Usaha Balai Besar TNBTS Bambang Suriyono mengatakan, petugas telah mendokumentasikan sejumlah temuan satwa di lokasi kebakaran. Dokumentasi itu mencakup satwa yang mati serta tengkorak yang ditemukan di area terdampak.

“Kita mengambil tiga dokumentasi. Ada satwa yang mati, kemudian ada tengkorak satwa,” kata Bambang, Selasa (1/9), seperti dikutip dari detikJatim.

Seekor kijang menjadi salah satu satwa yang ditemukan dalam kondisi mati terbakar. Keberadaan bangkai kijang tersebut menunjukkan bahwa kebakaran telah memberikan dampak langsung terhadap satwa yang berada di kawasan hutan.

Jejak Macan Tutul Ditemukan di Kawasan Terbakar

Di tengah dampak kebakaran terhadap satwa, petugas juga menemukan jejak macan tutul Jawa atau Panthera pardus melas. Temuan ini menjadi petunjuk penting karena menunjukkan kemungkinan satwa dilindungi tersebut berhasil menyelamatkan diri dari kobaran api.

Bambang menyebut jejak tersebut diduga merupakan tanda bahwa macan tutul masih hidup. Satwa itu diperkirakan telah berpindah atau bermigrasi keluar dari area yang terbakar untuk mencari lokasi yang lebih aman.

“Kami juga menemukan jejak macan tutul yang masih hidup, kemungkinan ia bermigrasi,” ujar Bambang.

Meski demikian, informasi tersebut masih berupa dugaan berdasarkan temuan jejak di lapangan. Petugas terus memantau kondisi kawasan dan pergerakan satwa liar yang terdampak kebakaran.

Sejumlah Satwa Diduga Berpindah ke Area Aman

Macan tutul bukan satu-satunya satwa yang diduga berpindah akibat karhutla. Petugas juga melihat adanya indikasi migrasi babi hutan dan berbagai jenis burung menuju kawasan hutan yang belum terbakar.

Perpindahan tersebut diduga dilakukan satwa untuk menghindari api dan asap yang masih berada di sejumlah titik. Kawasan hutan yang belum terdampak menjadi lokasi yang lebih aman bagi satwa untuk menyelamatkan diri.

“Selain itu burung dan lainnya juga bermigrasi,” kata Bambang.

Petugas gabungan kini tidak hanya berfokus pada upaya pemadaman api, tetapi juga memantau kemungkinan perpindahan satwa liar. Pemantauan tersebut penting untuk mengetahui kondisi fauna yang terdampak serta memastikan satwa tidak kembali masuk ke area yang masih berbahaya.

Api Masih Terlihat di Empat Lokasi

Sementara itu, titik kebakaran di kawasan TNBTS masih berada di empat lokasi, termasuk kawasan Ayek-Ayek dan Kalimati. Dari kejauhan, kepulan asap akibat kobaran api masih terlihat membumbung di area taman nasional tersebut.

Tim gabungan terus melakukan upaya untuk menjinakkan api. Namun, proses pemadaman belum sepenuhnya berhasil karena petugas menghadapi berbagai kendala di lapangan.

Vegetasi Kering Mempercepat Perambatan Api

Kepala BPBD Kabupaten Lumajang Isnugroho menjelaskan, salah satu kendala utama dalam pemadaman adalah banyaknya vegetasi yang kering akibat musim kemarau. Kondisi itu membuat api lebih mudah menjalar ke area hutan di sekitarnya.

Vegetasi kering menjadi bahan yang mudah terbakar sehingga mempercepat perluasan karhutla. Situasi tersebut membuat petugas harus bekerja lebih keras untuk mengendalikan kobaran api di kawasan TNBTS.

Medan Terjal dan Sumber Air Menjadi Kendala

Selain kondisi vegetasi, medan di lokasi kebakaran juga menyulitkan proses pemadaman. Sejumlah area memiliki kontur yang terjal dan curam, sehingga akses petugas menuju titik api menjadi terbatas.

Jarak sumber air yang cukup jauh turut menjadi hambatan. Petugas harus menghadapi tantangan medan sekaligus keterbatasan akses terhadap sumber air dalam upaya memadamkan kebakaran.

“Selain itu, upaya pemadaman kebakaran terkendala medan yang curam dan jauhnya sumber air,” ujar Isnugroho.

Kesimpulan

Karhutla di kawasan TNBTS Lumajang telah menimbulkan dampak terhadap vegetasi dan satwa liar. Penemuan kijang yang mati terbakar serta tengkorak satwa menunjukkan adanya fauna yang menjadi korban kebakaran. Di sisi lain, jejak macan tutul, perpindahan babi hutan, dan migrasi berbagai jenis burung mengindikasikan bahwa sebagian satwa berusaha mencari kawasan yang lebih aman.

Dengan api yang masih berada di sejumlah titik, upaya pemadaman dan pemantauan satwa perlu terus dilakukan. Kondisi vegetasi yang kering, medan terjal, serta jauhnya sumber air menjadi tantangan yang harus dihadapi petugas agar kebakaran dapat segera dikendalikan dan dampaknya tidak meluas.

Sumber: Cnnindonesia

Post Comment