Iran Klaim Tebar Ranjau Laut Baru di Selat Hormuz di Tengah Ketegangan dengan AS

Iran mengklaim telah menebar ranjau laut baru di Selat Hormuz ketika hubungan negara tersebut dengan Amerika Serikat semakin memanas. Informasi itu disampaikan oleh Ebrahim Zolfaghari, juru bicara Markas Pusat Khatam Al Anbiya, melalui unggahan di media sosial X pada Kamis (3/9).

Menurut Zolfaghari, penebaran ranjau dilakukan dalam sebuah operasi pada Rabu (2/9) malam. Ia menyebut ranjau-ranjau tersebut ditempatkan di sepanjang jalur yang disebutnya sebagai jalur ilegal di wilayah selatan Selat Hormuz. Namun, hingga kini tidak diketahui secara pasti berapa jumlah ranjau yang ditebar maupun titik lokasi penempatannya.

Iran Klaim Tebar Ranjau pada Operasi Malam Hari

Dalam pernyataannya, Zolfaghari mengatakan operasi penebaran ranjau berlangsung sepanjang malam. Ia menyampaikan bahwa ranjau laut baru telah ditebar di sepanjang jalur ilegal di selatan Selat Hormuz.

Iran sejak awal diketahui tidak bersedia mengungkapkan lokasi penebaran ranjau di kawasan tersebut. Sikap itu membuat informasi mengenai posisi dan jumlah ranjau yang diklaim telah dipasang masih belum dapat dipastikan secara terbuka.

Klaim tersebut juga muncul setelah Komando Pusat Amerika Serikat atau CENTCOM sebelumnya menyatakan bahwa seluruh ranjau laut Iran telah dibersihkan dari jalur transit di Selat Hormuz. CENTCOM turut membantah laporan yang menyebut ada kapal tanker minyak menabrak ranjau di kawasan perairan tersebut.

Sindiran terhadap Donald Trump dan CENTCOM

Selain menyampaikan klaim mengenai penebaran ranjau, Zolfaghari juga melontarkan sindiran kepada Presiden Amerika Serikat Donald Trump. Sindiran itu berkaitan dengan keinginan Trump untuk mengganti nama Selat Hormuz menjadi “Selat Trump”.

Zolfaghari menyebut satu-satunya hal yang dapat dilakukan CENTCOM, yang bertanggung jawab atas operasi militer Amerika Serikat di Timur Tengah, adalah mengganti nama selat tersebut menggunakan Photoshop. Pernyataan itu disampaikan sebagai bentuk ejekan terhadap gagasan perubahan nama Selat Hormuz.

Ejekan soal Kapal Tanker

Ia juga menyindir Washington dengan mengatakan bahwa Amerika Serikat dapat menggunakan Photoshop untuk membuat kapal tanker minyak terlihat bisa melewati Selat Hormuz. Pernyataan tersebut memperlihatkan tingginya ketegangan retorika antara Iran dan Amerika Serikat, khususnya terkait akses pelayaran di jalur strategis tersebut.

Ketegangan AS-Iran Semakin Meningkat

Pernyataan Zolfaghari disampaikan ketika konflik antara Iran dan Amerika Serikat terus memanas. Amerika Serikat sebelumnya menyerang wilayah Sirik, Iran. Serangan tersebut dilaporkan menewaskan sedikitnya empat orang dan disebut menghantam sebuah pesta pernikahan.

Iran kemudian membalas dengan melancarkan serangan terhadap sejumlah pangkalan Amerika Serikat di beberapa negara Timur Tengah, termasuk Kuwait. Kementerian Luar Negeri Iran menyebut serangan Washington sebagai kejahatan perang.

Rangkaian serangan dan aksi balasan itu meningkatkan kekhawatiran terhadap situasi keamanan di kawasan. Dalam konteks tersebut, klaim mengenai penebaran ranjau baru di Selat Hormuz menjadi bagian penting dari perkembangan konflik karena selat tersebut disebut sebagai lokasi jalur transit yang menjadi perhatian kedua pihak.

Jumlah dan Lokasi Ranjau Belum Diketahui

Meski Iran menyatakan telah menebar ranjau laut baru, belum ada informasi mengenai jumlah ranjau yang dipasang. Lokasi penebaran juga masih belum diungkapkan oleh pihak Iran.

Di sisi lain, CENTCOM sebelumnya menyatakan bahwa ranjau-ranjau Iran telah dibersihkan dari jalur transit. Perbedaan pernyataan tersebut menunjukkan adanya ketidaksesuaian informasi antara Teheran dan Washington mengenai kondisi keamanan di Selat Hormuz.

Kesimpulan

Iran mengklaim telah menebar ranjau laut baru di selatan Selat Hormuz pada Rabu malam, di tengah meningkatnya ketegangan dengan Amerika Serikat. Klaim itu disampaikan Ebrahim Zolfaghari bersamaan dengan sindiran terhadap Donald Trump dan CENTCOM. Namun, jumlah serta lokasi ranjau yang disebut telah dipasang belum diketahui.

Untuk ke depan, perkembangan situasi di Selat Hormuz masih akan menjadi perhatian, terutama karena adanya perbedaan pernyataan antara Iran dan CENTCOM mengenai keberadaan ranjau laut serta keamanan jalur transit. Informasi lebih lanjut diperlukan untuk memastikan kondisi sebenarnya di kawasan tersebut.

Sumber: Cnnindonesia

Post Comment