Abu Vulkanik Mengancam Pernapasan Anak, Kenali Gejala dan Cara Melindunginya
Paparan abu vulkanik tidak hanya membuat udara tampak keruh, tetapi juga dapat mengganggu kesehatan saluran pernapasan, terutama pada anak-anak. Partikel abu yang berukuran sangat halus bisa terhirup dan menimbulkan iritasi. Risiko tersebut menjadi lebih besar pada anak yang memiliki riwayat asma, alergi saluran napas, atau penyakit paru kronis.
Ketua Unit Kerja Koordinasi (UKK) Respirologi Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), dr Wahyuni Indawati, mengatakan abu vulkanik dapat memicu berbagai keluhan pernapasan. Orang tua perlu memperhatikan kondisi anak, khususnya setelah mereka berada di wilayah yang terdampak sebaran abu vulkanik.
Abu Vulkanik Dapat Mengiritasi Saluran Pernapasan
Abu vulkanik bukanlah debu biasa. Material ini terdiri atas pecahan batuan, mineral, dan kaca vulkanik yang sangat halus. Karena ukurannya kecil, partikel tersebut dapat masuk ke saluran pernapasan ketika terhirup dan menyebabkan iritasi.
Menurut Wahyuni, gejala yang paling umum akibat paparan abu vulkanik meliputi bersin, batuk, pilek, hingga sesak napas. Keluhan tersebut perlu diperhatikan apabila muncul setelah anak terpapar lingkungan yang dipenuhi abu.
“Gejala yang paling umum adalah iritasi saluran napas yang menyebabkan bersin, batuk, pilek, hingga sesak napas. Pada anak dengan riwayat asma, alergi, atau penyakit paru kronis, paparan ini dapat memicu serangan akut atau eksaserbasi yang berbahaya,” kata Wahyuni dalam pernyataannya, Senin (7/9).
Anak dengan Asma dan Alergi Lebih Berisiko
Setiap anak dapat mengalami gangguan pernapasan setelah menghirup abu vulkanik. Namun, dampaknya dapat lebih serius pada anak yang sebelumnya telah memiliki asma, alergi saluran napas, atau penyakit paru kronis.
Paparan abu berpotensi memperburuk kondisi tersebut dan memicu serangan akut. Karena itu, orang tua perlu mencermati perubahan kondisi anak, termasuk keluhan batuk, pilek, atau sesak napas yang muncul setelah terpapar abu.
Orang tua juga dianjurkan memastikan obat rutin dan obat darurat yang biasa digunakan anak dengan asma atau alergi saluran napas selalu tersedia. Selain itu, anak sebaiknya dijauhkan dari asap rokok dan asap dapur karena keduanya dapat semakin mengiritasi saluran pernapasan.
Tanda Gangguan Pernapasan yang Perlu Diwaspadai
Tidak semua gejala dapat diabaikan. Wahyuni mengingatkan orang tua untuk segera membawa anak ke fasilitas kesehatan terdekat apabila muncul tanda gangguan pernapasan yang lebih serius.
Segera Cari Pertolongan Medis Jika:
- Anak mengalami napas cepat.
- Terlihat tarikan dinding dada ke dalam saat bernapas.
- Saturasi oksigen berada di bawah 94 persen.
“Kami mengingatkan orang tua untuk tidak menganggap remeh gejala yang muncul. Jika anak mulai menunjukkan tanda-tanda gangguan pernapasan seperti napas cepat, tarikan dinding dada ke dalam, atau saturasi oksigen di bawah 94 persen, segera bawa ke fasilitas kesehatan terdekat,” ujar Wahyuni.
Cara Melindungi Anak dari Paparan Abu Vulkanik
Untuk mengurangi risiko anak menghirup abu, IDAI menyarankan agar anak berada di dalam rumah dan menjauh dari wilayah terdampak apabila memungkinkan. Rumah juga perlu ditutup rapat supaya abu tidak mudah masuk ke dalam ruangan.
Jika menggunakan pendingin udara, orang tua dianjurkan memilih mode recirculation. Dengan pengaturan tersebut, udara di dalam ruangan diputar kembali dan tidak mengambil udara dari luar yang berpotensi membawa abu.
Kipas angin sebaiknya dihindari ketika abu masih banyak mengendap di dalam rumah. Hembusan kipas dapat membuat partikel abu yang sudah berada di lantai atau permukaan benda kembali beterbangan sehingga berisiko terhirup oleh anak.
Membersihkan Rumah dengan Cara yang Lebih Aman
Abu yang masuk ke dalam rumah perlu dibersihkan dengan hati-hati. Orang tua dianjurkan menggunakan kain atau lap basah saat membersihkan lantai dan permukaan benda. Menyapu abu dalam kondisi kering justru dapat membuat partikel kembali beterbangan di udara.
Apabila anak harus keluar rumah, gunakan masker yang terpasang dengan baik serta pelindung mata. Pakaian tertutup juga dapat membantu mengurangi kontak abu dengan kulit.
Selain perlindungan dari paparan, anak perlu mendapatkan cukup minum dan makanan bergizi untuk membantu menjaga kondisi tubuh selama kualitas udara terganggu. Orang tua perlu terus memantau kesehatan anak, terutama selama abu vulkanik masih berada di lingkungan sekitar.
Kesimpulan
Abu vulkanik dapat mengiritasi saluran pernapasan anak dan memicu gejala seperti bersin, batuk, pilek, hingga sesak napas. Anak dengan asma, alergi saluran napas, atau penyakit paru kronis memiliki risiko lebih besar mengalami kondisi yang memburuk.
Perlindungan dapat dilakukan dengan menjaga anak tetap berada di dalam rumah, menutup rapat ruangan, menggunakan mode recirculation pada AC, serta membersihkan abu memakai lap basah. Jika anak mengalami napas cepat, tarikan dinding dada ke dalam, atau saturasi oksigen di bawah 94 persen, segera bawa ke fasilitas kesehatan.
Ke depan, kewaspadaan orang tua tetap menjadi hal penting selama kualitas udara masih terganggu. Dengan mengenali gejala dan mengurangi paparan, risiko gangguan pernapasan pada anak dapat lebih diperhatikan sejak awal.
Sumber: Cnnindonesia



Post Comment