Kementerian PU Percepat Pemulihan SPAM Pascagempa M7,7 di NTT

Kementerian Pekerjaan Umum (PU) mempercepat pemulihan infrastruktur air minum pascagempa bumi bermagnitudo 7,7 yang melanda Nusa Tenggara Timur (NTT). Penanganan darurat difokuskan pada pemeriksaan, perbaikan, dan pemulihan Sistem Penyediaan Air Minum (SPAM) beserta jaringan distribusinya.

Langkah tersebut dilakukan untuk memastikan warga terdampak tetap memperoleh akses air bersih dan sanitasi selama masa tanggap darurat. Pemerintah menempatkan pemulihan sarana dasar sebagai prioritas setelah bencana yang terjadi pada Sabtu (15/8) lalu.

Pemulihan Sarana Air Minum Menjadi Prioritas

Menteri PU Dody Hanggodo mengatakan, infrastruktur yang berkaitan langsung dengan kebutuhan dasar masyarakat harus segera dipulihkan. Menurutnya, pemenuhan air bersih dan sanitasi tidak dapat ditunda karena menjadi kebutuhan utama warga, khususnya mereka yang berada di wilayah terdampak bencana.

“Yang penting sekarang bagaimana kebutuhan masyarakat bisa segera kita layani. Karena itu, infrastruktur yang berkaitan langsung dengan kebutuhan dasar, termasuk sarana air bersih dan sanitasi, harus segera kita cek dan tangani sesuai kondisi di lapangan,” ujar Dody dalam keterangan tertulis, Rabu (19/8).

Melalui Balai Prasarana Permukiman Wilayah (BPBPK) NTT, Kementerian PU telah melakukan pemeriksaan terhadap sarana dan prasarana air minum di Kabupaten Nagekeo, Ende, dan Sikka. Pemeriksaan mencakup Instalasi Pengolahan Air (IPA), jaringan perpipaan, sarana distribusi air, hingga tampungan air yang dimiliki masyarakat.

Jaringan SPAM di Ende Berhasil Diperbaiki

Salah satu penanganan dilakukan pada jaringan perpipaan SPAM Inpres 2024 IKK Nangaba di Kabupaten Ende. Jaringan tersebut mengalami kerusakan akibat gempa sehingga mengganggu distribusi air bersih kepada masyarakat di sekitarnya.

Perbaikan jaringan dilakukan Kementerian PU bersama PDAM Kabupaten Ende sejak 16 Agustus. Proses perbaikan rampung pada malam 17 Agustus 2026. Setelah pekerjaan selesai, aliran air bersih kembali tersalurkan hingga ke sambungan rumah warga.

Selain melakukan perbaikan, Kementerian PU melibatkan Tenaga Fasilitator Lapangan (TFL) dari Program Penyediaan Air Minum dan Sanitasi Berbasis Masyarakat (Pamsimas). Tim tersebut bertugas mendata kondisi sarana air minum di lapangan, menginventarisasi kerusakan, serta menangani langsung sarana yang mengalami gangguan.

Personel dan Peralatan Dikerahkan ke Sejumlah Wilayah

Untuk memperkuat penanganan, sebanyak 10 personel tambahan diberangkatkan dari Kupang. Mereka ditempatkan untuk mendukung pemeriksaan dan penanganan sarana air minum di Maumere, Ende, dan Nagekeo.

Tim tambahan tersebut tidak hanya memeriksa kondisi sarana yang terdampak, tetapi juga mengidentifikasi kebutuhan dukungan lanjutan di setiap wilayah. Langkah ini dilakukan agar penanganan dapat disesuaikan dengan kondisi serta tingkat kebutuhan masyarakat di lapangan.

Dukungan Mobil Tangki dan Hidran Umum

Di Kabupaten Nagekeo, Kementerian PU mengerahkan tiga unit Mobil Tangki Air (MTA) untuk membantu memenuhi kebutuhan air bersih warga. Dua unit telah berada di lokasi, sementara satu unit lainnya merupakan MTA pinjam pakai yang sebelumnya digunakan dalam penanganan banjir Mauponggo.

Kementerian PU juga menyiapkan 16 unit Hidran Umum (HU). Jumlah tersebut terdiri atas delapan unit dukungan yang tersedia saat ini dan delapan unit HU pinjam pakai. Sementara itu, di Kupang disiagakan dua unit mobil tangki air dan satu unit truk tinja untuk mendukung kebutuhan layanan air minum serta sanitasi.

Penanganan Dilakukan Berdasarkan Hasil Pemeriksaan

Dody menegaskan, penanganan infrastruktur air minum dilakukan secara bertahap. Prioritas pekerjaan ditentukan berdasarkan hasil pemeriksaan dan tingkat kebutuhan di masing-masing wilayah terdampak.

“Kita akan terus lakukan pengecekan dan inventarisasi di lapangan supaya penanganannya tepat sasaran. Kalau sumber air dan jaringan masih bisa difungsikan, kita optimalkan. Kalau belum, kita siapkan alternatif agar masyarakat tetap mendapatkan layanan air bersih selama masa tanggap darurat,” jelasnya.

Kementerian PU juga terus mendata pos-pos pengungsian untuk memastikan kebutuhan air bersih dan sanitasi dapat dipenuhi dengan cepat. Apabila kebutuhan di lapangan meningkat, mobilisasi prasarana dan sarana air minum akan dilakukan dari luar NTT, termasuk dari depo di Surabaya.

Alternatif Layanan Air Bersih Selama Tanggap Darurat

Pemenuhan kebutuhan air bersih akan dioptimalkan melalui SPAM atau PDAM apabila jaringan masih tersedia dan dapat berfungsi. Namun, jika jaringan perpipaan mengalami kerusakan atau belum tersedia, pemerintah akan menggunakan alternatif berupa mobil tangki air, hidran umum, dan tampungan air.

Melalui pemeriksaan langsung, perbaikan jaringan, serta pengerahan personel dan peralatan pendukung, Kementerian PU berupaya menjaga keberlanjutan layanan dasar bagi masyarakat terdampak gempa di NTT. Inventarisasi kondisi sarana dan kebutuhan di lapangan akan menjadi dasar untuk menentukan langkah penanganan berikutnya.

Kesimpulan

Kementerian PU mempercepat pemulihan SPAM dan jaringan distribusi air minum di NTT setelah gempa bermagnitudo 7,7. Perbaikan jaringan di SPAM Inpres 2024 IKK Nangaba, Kabupaten Ende, telah mengembalikan aliran air hingga ke sambungan rumah warga. Di wilayah lain, dukungan diberikan melalui pemeriksaan sarana, pengerahan personel, mobil tangki air, hidran umum, serta tampungan air.

Ke depan, penanganan akan terus disesuaikan dengan hasil inventarisasi dan tingkat kebutuhan setiap daerah. Jika jaringan yang ada masih dapat digunakan, optimalisasi akan dilakukan. Sementara itu, layanan alternatif akan disiapkan untuk memastikan akses air bersih dan sanitasi tetap tersedia selama masa tanggap darurat.

Sumber: Cnnindonesia

Post Comment