Airlangga Ungkap Transaksi Ritel Offline Indonesia Masih Dua Kali Lipat Dibanding Online
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengungkapkan transaksi perdagangan ritel secara offline di Indonesia masih jauh lebih besar dibandingkan transaksi online. Berdasarkan nilai transaksi yang disampaikan, perdagangan ritel offline mencapai sekitar US$125 miliar, sedangkan transaksi online berada di kisaran US$61,18 miliar.
Dengan asumsi kurs Rp17.713 per dolar AS, nilai transaksi offline tersebut setara dengan sekitar Rp2.215,26 triliun. Sementara itu, transaksi online mencapai sekitar Rp1.083,68 triliun. Perbandingan ini menunjukkan bahwa aktivitas perdagangan ritel di Indonesia masih didominasi oleh kanal offline.
Airlangga menyampaikan data tersebut dalam acara Indonesia Retail Summit and Expo 2026 yang berlangsung di Swissotel PIK Avenue, Jakarta Utara, Rabu (26/8). Menurutnya, komposisi perdagangan ritel nasional saat ini terdiri atas sekitar dua pertiga transaksi offline dan sepertiga transaksi online.
Transaksi Ritel Offline Masih Mendominasi
Airlangga menjelaskan, nilai transaksi ritel offline yang mencapai US$125 miliar masih sekitar dua kali lipat dibandingkan transaksi online. Kondisi tersebut memperlihatkan bahwa meskipun perdagangan digital terus berkembang, toko fisik dan aktivitas belanja secara langsung tetap memiliki peran besar dalam perekonomian Indonesia.
“Memang kalau kita lihat antara offline dan online itu yang offline kira-kira nilainya sekitar US$125 miliar dan yang online US$61,18 miliar. Artinya perdagangan kita ini dua per tiga offline, sepertiga online,” ujar Airlangga.
Besarnya kontribusi perdagangan offline juga menunjukkan bahwa perkembangan industri ritel Indonesia tidak hanya ditentukan oleh pertumbuhan platform digital. Ketersediaan barang di toko, kelancaran distribusi, serta kemampuan pelaku usaha dalam memenuhi kebutuhan konsumen tetap menjadi bagian penting dalam menjaga aktivitas perdagangan.
Teknologi Berperan dalam Pengelolaan Ritel
Meski transaksi offline masih mendominasi, Airlangga menekankan bahwa teknologi tetap memiliki peran penting dalam pengelolaan bisnis ritel. Pemanfaatan teknologi tidak hanya berkaitan dengan kegiatan jual beli secara online, tetapi juga mendukung operasional toko dan jaringan distribusi secara keseluruhan.
Pengelolaan Stok dan Perkiraan Permintaan
Menurut Airlangga, teknologi dapat digunakan untuk mengatur stok barang, memperkirakan permintaan konsumen, serta menentukan pilihan barang yang akan dijual. Pengelolaan berbasis data tersebut dinilai penting agar pelaku usaha dapat menyesuaikan persediaan dengan kebutuhan pasar.
Ia mengatakan, sektor ritel di berbagai negara juga tidak terlepas dari penguasaan teknologi, khususnya untuk mengelola persediaan, memproyeksikan permintaan, dan menentukan produk yang ditawarkan kepada konsumen. Dengan pengelolaan yang lebih baik, pelaku ritel dapat menjaga ketersediaan barang sekaligus menyesuaikan pilihan produk dengan kebutuhan masyarakat.
Stok Barang Sejumlah Produk Masih Tipis
Selain membahas perbandingan transaksi offline dan online, Airlangga menyoroti kondisi stok barang di sektor ritel. Ia mengaku menerima masukan bahwa persediaan sejumlah barang masih terbatas. Kondisi tersebut terutama terjadi pada produk yang pasokannya bergantung pada aliran barang dari luar negeri.
Airlangga menilai persoalan distribusi dan ketersediaan stok perlu menjadi perhatian bersama. Pasokan barang di dalam negeri perlu dijaga agar kebutuhan masyarakat dapat dipenuhi secara lebih baik. Menurutnya, persediaan yang terlalu tipis dapat mendorong masyarakat berbelanja ke luar negeri.
Ia berharap aliran barang dapat lebih didorong dari dalam negeri. Upaya tersebut disebut menjadi pekerjaan rumah bersama, termasuk dengan Menteri Perdagangan Budi Santoso. Airlangga menegaskan bahwa ketersediaan stok yang lebih besar berpotensi mendorong peningkatan aktivitas belanja masyarakat di dalam negeri.
Konsumsi Tetap Menjadi Penggerak Ekonomi
Dalam kesempatan yang sama, Airlangga menyebut konsumsi masih menjadi salah satu penggerak utama perekonomian Indonesia. Pada kuartal II 2026, konsumsi tercatat tumbuh sebesar 5,06 persen.
Ia mengatakan konsumsi merupakan salah satu aset penting bagi Indonesia karena berkontribusi sebesar 53,32 persen terhadap produk domestik bruto (PDB). Angka tersebut memperlihatkan besarnya peran konsumsi rumah tangga dan aktivitas belanja masyarakat terhadap kinerja ekonomi nasional.
Airlangga juga menyampaikan bahwa indeks keyakinan konsumen masih berada di atas level 100. Selain itu, Purchasing Managers’ Index (PMI) manufaktur berada di atas angka 50. Kedua indikator tersebut disebut sebagai bagian dari gambaran kondisi perekonomian Indonesia pada paruh kedua 2026.
Pertumbuhan Ekonomi Semester I 2026
Airlangga menambahkan, pertumbuhan ekonomi Indonesia pada semester I 2026 mencapai 5,45 persen. Menurutnya, capaian tersebut merupakan pertumbuhan tertinggi dalam 13 tahun terakhir.
Kesimpulan
Nilai transaksi ritel offline di Indonesia masih mendominasi dengan capaian sekitar US$125 miliar, atau hampir dua kali lipat dibandingkan transaksi online yang berada di angka US$61,18 miliar. Komposisi tersebut menegaskan bahwa toko fisik masih menjadi bagian penting dari perdagangan nasional, meskipun pemanfaatan kanal digital terus berkembang.
Ke depan, penguasaan teknologi, penguatan distribusi, serta peningkatan ketersediaan stok menjadi faktor penting bagi pertumbuhan sektor ritel. Dengan pasokan barang yang lebih terjaga dan konsumsi yang tetap tumbuh, sektor ritel diharapkan terus mendukung perekonomian Indonesia.
Sumber: Cnnindonesia



Post Comment