BPS Tegaskan Desil DTSEN Berbeda dengan Angka Kemiskinan

Badan Pusat Statistik (BPS) menepis anggapan bahwa penentuan desil keluarga berdasarkan Data Tunggal Sosial dan Ekonomi Nasional (DTSEN) dilakukan untuk mengurangi jumlah penerima bantuan sosial atau membuat angka kemiskinan terlihat menurun. BPS menegaskan bahwa desil dan tingkat kemiskinan merupakan dua hal yang berbeda, baik dari sisi konsep, tujuan, maupun metode perhitungannya.

Penjelasan tersebut disampaikan di tengah keluhan sebagian masyarakat yang merasa masih menghadapi kesulitan ekonomi, tetapi justru tercatat dalam desil yang relatif tinggi. Kondisi ini menjadi perhatian karena perubahan desil dapat berdampak pada akses keluarga terhadap sejumlah program bantuan sosial pemerintah.

BPS Bantah Desil Digunakan untuk Menurunkan Angka Kemiskinan

Sejumlah masyarakat menduga penempatan keluarga pada desil yang lebih tinggi dilakukan agar kondisi sosial ekonomi mereka terlihat lebih sejahtera. Dugaan tersebut kemudian dikaitkan dengan kemungkinan berkurangnya jumlah penduduk miskin yang dilaporkan, tanpa adanya upaya pengentasan kemiskinan yang nyata.

Deputi Bidang Statistik Sosial BPS RI, Nashrul Wajdi, membantah anggapan tersebut. Ia menjelaskan bahwa desil tidak dapat digunakan sebagai label mutlak untuk menentukan apakah seseorang termasuk miskin atau kaya. Desil hanya menunjukkan posisi kesejahteraan relatif suatu keluarga dibandingkan dengan keluarga lainnya.

Dengan kata lain, peringkat desil menggambarkan posisi sebuah keluarga dalam pemeringkatan sosial ekonomi. Posisi tersebut bersifat relatif karena membandingkan kondisi satu keluarga dengan keluarga lain yang tercatat dalam data.

Desil Selalu Terbagi Menjadi 10 Kelompok

Menurut Nashrul, sistem desil akan selalu memiliki kelompok desil 1 hingga desil 10. Setiap desil dirancang untuk mencakup sekitar 10 persen dari total keluarga atau penduduk. Karena itu, keberadaan desil 1 akan tetap ada dalam kondisi ekonomi apa pun.

“Apa pun kondisi ekonomi kita, mau kita maju, mau kita maju banget, mau kita masih kondisi seperti sekarang ini, akan selalu ada desil 1. Nah jadi, gak mungkin kemudian kita naik-naikin desil orang untuk ngurangi angka kemiskinan, karena itu dua hal yang berbeda,” kata Nashrul dalam wawancara Nusantara TV di Jakarta, Selasa (1/9).

Pernyataan tersebut menegaskan bahwa perubahan posisi desil tidak secara otomatis mengubah jumlah penduduk miskin. Desil dan kemiskinan dihitung dengan dasar yang berbeda sehingga keduanya tidak dapat disamakan.

Pemutakhiran Data DTSEN Masih Berlangsung

BPS mengakui bahwa ketidaksesuaian antara desil dan kondisi ekonomi aktual sebuah keluarga dapat terjadi apabila data yang digunakan belum sepenuhnya mutakhir. Oleh sebab itu, BPS terus membuka ruang bagi masyarakat untuk memberikan masukan dan melakukan pembaruan data.

Data Diperbarui Secara Berkala

Nashrul menyampaikan bahwa BPS telah merilis tujuh versi DTSEN. Pembaruan dilakukan setiap triwulan, dengan rilis terakhir pada Juli 2026. Dari pembaruan tersebut, persentase data yang telah dimutakhirkan tercatat sebesar 30 persen.

“BPS sudah merilis tujuh versi DTSEN, karena tiap triwulan kita rilis. Terakhir kemarin kita rilis bulan Juli 2026 kemarin, dan posisi persentase yang sudah dimutakhirkan datanya itu 30 persen. Artinya, masih ada 70 persen dari data awal dulu, yang tahun lalu, itu belum dimutakhirkan,” tutur Nashrul.

Selain BPS, proses pembaruan DTSEN juga dilakukan bersama kementerian, lembaga, serta pemerintah daerah. Pemutakhiran data dilakukan melalui sejumlah mekanisme, antara lain pemeriksaan langsung di lapangan atau ground check, pendataan oleh pemerintah daerah, dan pemanfaatan berbagai data administrasi.

BPS juga menyediakan kanal yang dapat diakses masyarakat untuk melakukan pembaruan data secara mandiri. Langkah tersebut diharapkan dapat membantu memperbaiki kesesuaian data dengan kondisi sosial ekonomi keluarga yang sebenarnya.

Penghitungan Kemiskinan Menggunakan Garis Kemiskinan

Berbeda dengan desil, penghitungan tingkat kemiskinan dilakukan menggunakan pendekatan garis kemiskinan. Garis kemiskinan merupakan nilai pengeluaran minimum yang diperlukan untuk memenuhi kebutuhan dasar, termasuk kebutuhan makanan dan nonmakanan.

Melalui pendekatan tersebut, BPS menghitung tingkat kemiskinan sebagai ukuran statistik agregat. Artinya, angka kemiskinan menggambarkan kondisi penduduk secara keseluruhan berdasarkan metode penghitungan yang telah ditetapkan.

Sementara itu, desil merupakan ukuran yang menunjukkan posisi kesejahteraan relatif keluarga dalam sebuah pemeringkatan. Perbedaan tujuan dan metode ini membuat perubahan desil pada suatu keluarga tidak dapat langsung diartikan sebagai kenaikan atau penurunan angka kemiskinan nasional.

Kesimpulan

BPS menegaskan bahwa penentuan desil dalam DTSEN bukanlah upaya untuk mengurangi penerima bantuan sosial atau menurunkan angka kemiskinan secara administratif. Desil berfungsi menunjukkan posisi kesejahteraan relatif keluarga, sedangkan tingkat kemiskinan dihitung berdasarkan garis kemiskinan dan menjadi ukuran statistik agregat.

Keluhan masyarakat mengenai ketidaksesuaian desil dengan kondisi ekonomi aktual dapat berkaitan dengan data yang belum sepenuhnya diperbarui. Karena itu, pembaruan DTSEN secara berkala, keterlibatan pemerintah daerah, serta partisipasi masyarakat menjadi hal penting ke depan agar data yang digunakan semakin sesuai dengan kondisi keluarga.

Sumber: Cnnindonesia

Post Comment