China Ancam Balas Rencana Tarif Impor 7,5 Persen dari AS

China mengancam akan mengambil tindakan balasan terhadap rencana Amerika Serikat (AS) yang mempertimbangkan penerapan tarif impor tambahan sebesar 7,5 persen terhadap produk-produk asal Negeri Tirai Bambu. Beijing menilai kebijakan tersebut sebagai bentuk politisasi isu ekonomi dan perdagangan yang mencerminkan praktik unilateralisme serta proteksionisme.

Pernyataan itu disampaikan juru bicara Kementerian Perdagangan China, Huang Ling, dalam konferensi pers rutin di Beijing, Kamis (27/8). Menurut Huang, China dengan tegas menentang rencana kebijakan perdagangan AS tersebut dan akan terus memantau perkembangan langkah Washington.

China Siapkan Tindakan Balasan

Beijing memperingatkan bahwa pihaknya siap mengambil tindakan balasan apabila kebijakan tarif tambahan tersebut benar-benar diberlakukan dan dinilai diperlukan. Sikap ini disampaikan sebagai respons atas laporan yang menyebutkan bahwa pemerintah AS tengah mempertimbangkan tarif tambahan sebesar 7,5 persen terhadap barang-barang impor dari China.

Huang mengatakan, China akan mencermati setiap langkah yang diambil AS sebelum menentukan tindakan selanjutnya. Pemerintah China juga menegaskan bahwa mereka tetap memiliki hak untuk mengambil semua langkah yang dianggap perlu guna melindungi kepentingannya.

“Kami akan terus memantau secara ketat dan mengevaluasi secara menyeluruh langkah-langkah AS selanjutnya, serta mempertahankan hak kami untuk mengambil semua tindakan yang diperlukan,” kata Huang.

Dalam pernyataannya, Huang juga menolak penggunaan isu kapasitas produksi sebagai alasan untuk menerapkan kebijakan perdagangan secara sepihak. Ia menilai kapasitas produksi sebuah negara harus dianalisis secara komprehensif, objektif, dan adil.

Tarif Tambahan Dipicu Tuduhan Kelebihan Kapasitas

Rencana tarif tambahan AS tersebut dipicu tuduhan mengenai adanya kelebihan kapasitas manufaktur atau excess manufacturing capacity di China. Namun, berdasarkan laporan media, besaran tarif final yang akan diterapkan masih belum diputuskan oleh pemerintah AS.

Isu kelebihan kapasitas industri menjadi salah satu bagian yang disoroti dalam kebijakan perdagangan AS terhadap China. Pada Maret lalu, Kantor Perwakilan Dagang AS atau USTR merilis laporan investigasi yang dikenal sebagai Section 301.

Investigasi tersebut menargetkan praktik manufaktur di China serta 15 negara mitra ekonomi lainnya. Selain China, penyelidikan itu juga mencakup Indonesia, Uni Eropa, Jepang, India, Korea Selatan, Vietnam, Malaysia, Thailand, Singapura, dan sejumlah negara lainnya.

China Tolak Hasil Investigasi AS

Pemerintah China menolak hasil investigasi tersebut, khususnya tuduhan terkait kelebihan kapasitas industri. Beijing berargumen bahwa produksi dan permintaan global seharusnya dinilai dari perspektif internasional, bukan hanya berdasarkan perbandingan antara kapasitas produksi dan konsumsi domestik suatu negara.

China juga menegaskan bahwa volume produksi yang lebih besar daripada konsumsi dalam negeri tidak dapat secara otomatis dikategorikan sebagai kelebihan kapasitas. Menurut pandangan Beijing, penilaian mengenai kapasitas industri harus mempertimbangkan kondisi produksi dan permintaan secara menyeluruh.

Total Tarif AS terhadap Barang China Bisa Mencapai 20 Persen

Saat ini, tarif pengganti atau replacement tariff AS terhadap barang-barang dari China berada di level 12,5 persen. Apabila tarif tambahan sebesar 7,5 persen diberlakukan, total tarif AS terhadap produk China akan berada di kisaran 20 persen.

Rencana tersebut berpotensi meningkatkan ketegangan dalam hubungan perdagangan antara Beijing dan Washington. Meski demikian, keputusan final mengenai besaran tarif tambahan masih belum ditetapkan. China menyatakan akan terus mengevaluasi langkah AS dan mempertimbangkan respons yang sesuai.

Kesimpulan

China menentang rencana AS menerapkan tarif impor tambahan 7,5 persen terhadap produk asal China. Beijing menilai kebijakan itu sebagai bentuk unilateralisme dan proteksionisme, sementara tuduhan mengenai kelebihan kapasitas manufaktur juga dianggap tidak tepat karena penilaiannya semestinya dilakukan secara objektif dan berdasarkan kondisi global.

Jika tarif tambahan tersebut diberlakukan, total tarif AS terhadap barang China diperkirakan mencapai sekitar 20 persen. Untuk saat ini, besaran final tarif masih dalam tahap pertimbangan. China pun menyatakan akan memantau perkembangan kebijakan AS dan tidak menutup kemungkinan mengambil tindakan balasan apabila diperlukan.

Sumber: Cnnindonesia

Post Comment