Extended Concourse Bundaran HI Dibangun dengan Dana KLB Rp200 Miliar, Ditargetkan Rampung 2027
Pembangunan jalur pejalan kaki bawah tanah atau extended concourse di kawasan Bundaran Hotel Indonesia (HI), Jakarta, dibiayai melalui kontribusi Kewajiban Peningkatan Nilai Tambah dan Kompensasi Lahan dan Bangunan (KLB). Nilai kontribusi untuk proyek tersebut mencapai Rp200 miliar dan tidak menggunakan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD).
Proyek yang diinisiasi oleh MRT Jakarta melalui anak usahanya, PT Integrasi Transit Jakarta (ITJ), ini dirancang untuk memperluas ruang pergerakan pejalan kaki sekaligus menyediakan area multifungsi. Pembangunan dilakukan di bawah halte TransJakarta Bundaran HI dan diharapkan memperkuat konektivitas antara MRT, TransJakarta, serta sejumlah bangunan di kawasan tersebut.
Kontribusi KLB Capai Rp200 Miliar
Direktur Utama PT Integrasi Transit Jakarta, Ferdiansyah Roestam, mengatakan total kontribusi KLB yang digunakan untuk pembangunan extended concourse Bundaran HI mencapai Rp200 miliar. Dana tersebut berasal dari kontribusi sejumlah pengembang, bukan dari APBD.
Dari total nilai tersebut, sekitar Rp150 miliar dialokasikan untuk kebutuhan konstruksi. Sementara itu, sisa dana digunakan untuk membiayai konsultan perencana, konsultan pengawas, serta pajak.
Ferdi menjelaskan, apabila komponen pajak dikeluarkan, nilai kontribusi tersebut menjadi sekitar Rp181 miliar. Dari jumlah itu, Rp150 miliar digunakan untuk konstruksi, sedangkan sisanya dialokasikan untuk jasa konsultan perencana dan pengawas.
Secara sederhana, KLB merupakan kontribusi yang dikenakan kepada pengembang ketika mendapatkan tambahan intensitas atau luas bangunan. Dana tersebut kemudian dapat diarahkan untuk mendukung pembangunan infrastruktur publik di kawasan terkait.
Area Bawah Tanah Seluas 4.439 Meter Persegi
Extended concourse Bundaran HI memiliki luas sekitar 4.439 meter persegi. Area ini berada sekitar 18 meter di bawah permukaan jalan, pada level yang sama dengan concourse MRT dan di atas jalur rel.
Lokasinya berada tepat di bawah halte TransJakarta Bundaran HI. Karena itu, pembangunan harus dilakukan secara hati-hati agar tidak mengganggu fondasi halte maupun layanan transportasi yang selama ini berjalan.
Dua Akses Baru ke Bangunan Sekitar
Fasilitas bawah tanah tersebut akan dilengkapi dua akses baru atau muara. Akses di sisi barat berada di area Plaza Indonesia dan Grand Hyatt. Sementara itu, akses di sisi timur mengarah ke Wisma Nusantara dan Hotel Pullman.
Selain berfungsi sebagai jalur perpindahan pejalan kaki, area ini juga disiapkan sebagai ruang multifungsi dan komersial. Di dalamnya akan tersedia area ritel serta makanan dan minuman atau food and beverage (F&B).
Infrastruktur tersebut juga dirancang agar dapat terhubung dengan bangunan di sekitar Bundaran HI. Koneksi itu nantinya disiapkan melalui panel yang dapat dibongkar-pasang atau knock-down panel. Rencananya, akses tersebut dapat tersambung langsung dengan area basement 1 Plaza Indonesia dan basement 1 Wisma Nusantara yang akan dikembangkan.
Disiapkan Menghadapi Kenaikan Pengguna MRT
Pembangunan extended concourse berkaitan dengan proyeksi peningkatan jumlah pengguna MRT di kawasan Bundaran HI. Jumlah pengguna Stasiun MRT Bundaran HI diperkirakan bertambah sekitar 6.000 orang seiring perpanjangan rute dari Bundaran HI menuju Stasiun Thamrin dan Monas, yang selanjutnya dipersiapkan hingga kawasan Kota Tua Jakarta.
Dengan adanya tambahan pengguna tersebut, kapasitas ruang di sekitar stasiun perlu disiapkan untuk mengantisipasi peningkatan arus penumpang. Oleh sebab itu, area bawah tanah ini tidak hanya difungsikan sebagai jalur berjalan, tetapi juga sebagai ruang yang mendukung berbagai aktivitas mobilitas publik.
Jika pembangunan selesai, fasilitas tersebut diharapkan mampu mendukung sirkulasi pengguna yang meningkat hingga sekitar 17 ribu orang. Kehadirannya juga diharapkan memberikan koneksi baru antara jaringan MRT, TransJakarta, dan bangunan-bangunan di sekitar Bundaran HI.
Progres Pembangunan dan Target Penyelesaian
Hingga Juli 2026, progres pembangunan extended concourse Bundaran HI telah mencapai 21,46 persen. Capaian itu sedikit lebih tinggi dibandingkan target yang ditetapkan, yakni 21,07 persen.
ITJ menargetkan progres pembangunan meningkat menjadi sekitar 24 persen pada Agustus 2026. Selanjutnya, proyek ini diharapkan mencapai progres 45 persen pada akhir 2026.
Pembangunan ditargetkan rampung pada Mei 2027. Setelah itu, fasilitas tersebut direncanakan diresmikan pada Juni 2027, bertepatan dengan peringatan lima abad Jakarta.
Pembangunan Dilakukan Bertahap
Karena berada di tengah kawasan dengan aktivitas kendaraan dan transportasi publik yang padat, pembangunan dilakukan secara bertahap. Rekayasa lalu lintas diterapkan di sisi barat dan timur Bundaran HI agar pekerjaan konstruksi dapat berjalan tanpa menghentikan aktivitas di permukaan jalan.
Tahap pertama berlangsung sejak April hingga September 2026. Pada tahap ini, pekerjaan berfokus pada fondasi dan pemancangan steel sheet pile (SSP). Tahap kedua dijadwalkan berlangsung dari Oktober 2026 hingga Mei 2027, dengan sejumlah penutupan area untuk mendukung pekerjaan struktur.
ITJ juga harus melakukan koordinasi secara ketat dengan sejumlah pemangku kepentingan. Posisi bangunan yang berada tepat di bawah halte TransJakarta menjadi salah satu tantangan utama. Fondasi halte yang sudah ada harus tetap terlindungi, sementara layanan TransJakarta dan MRT Jakarta tidak boleh terganggu.
Kesimpulan
Extended concourse Bundaran HI dibangun menggunakan kontribusi KLB senilai Rp200 miliar, dengan Rp150 miliar di antaranya dialokasikan untuk konstruksi. Proyek ini tidak menggunakan dana APBD dan dirancang bukan hanya sebagai jalur pejalan kaki bawah tanah, tetapi juga sebagai ruang multifungsi, area ritel, serta penghubung antara MRT, TransJakarta, dan bangunan di sekitarnya.
Dengan target rampung pada Mei 2027 dan peresmian pada Juni 2027, fasilitas ini diharapkan mampu menjawab kebutuhan ruang akibat peningkatan jumlah pengguna transportasi publik. Tantangan pembangunan di bawah halte TransJakarta serta kawasan lalu lintas padat akan menjadi faktor penting yang perlu terus dikelola hingga proyek selesai.
Sumber: Cnnindonesia



Post Comment