Harga Minyak Dunia Melemah, Brent dan WTI Terancam Akhiri Tren Penguatan Dua Pekan

Harga minyak mentah dunia melemah pada perdagangan Jumat (28/8). Penurunan ini membuat minyak Brent dan West Texas Intermediate (WTI) berada di jalur untuk mengakhiri tren penguatan yang berlangsung selama dua pekan berturut-turut.

Pergerakan harga minyak dipengaruhi oleh sejumlah faktor, termasuk perkembangan hubungan Amerika Serikat dan Iran serta meningkatnya ketegangan geopolitik di Eropa Timur. Pasar mencermati dampak dari sikap tegas Washington terhadap Teheran dan ancaman Rusia yang berkaitan dengan konflik di Ukraina.

Harga Brent dan WTI Kompak Melemah

Mengutip Reuters, harga minyak mentah berjangka jenis Brent turun 25 sen atau 0,3 persen menjadi US$89,45 per barel. Pada saat yang sama, harga minyak mentah berjangka West Texas Intermediate (WTI) terkoreksi 22 sen atau 0,3 persen ke level US$83,31 per barel.

Penurunan tersebut terjadi setelah harga minyak sebelumnya sempat ditutup menguat. Namun, penguatan itu belum mampu mengubah kecenderungan pelemahan secara mingguan yang dialami kedua patokan minyak dunia tersebut.

Secara mingguan, Brent berpotensi mengakhiri perdagangan di zona merah dengan penurunan sebesar 5,3 persen. Sementara itu, WTI tercatat melemah 4,3 persen. Jika kondisi tersebut bertahan hingga penutupan, kedua harga acuan minyak itu akan mengakhiri tren kenaikan selama dua pekan berturut-turut.

Sikap AS terhadap Iran Mempengaruhi Pasar

Salah satu perhatian utama pasar adalah perkembangan hubungan Amerika Serikat dan Iran. Harga minyak sempat memperoleh dorongan setelah muncul kabar bahwa Presiden AS Donald Trump tidak bersedia kembali pada ketentuan kesepakatan awal dengan Iran.

Laporan Wall Street Journal menyebutkan bahwa pemerintahan Trump berulang kali menyampaikan kepada para mediator bahwa Amerika Serikat tidak berminat menghidupkan kembali nota kesepahaman yang telah disepakati pada Juni lalu.

Sikap tersebut dinilai dapat menghambat upaya diplomatik untuk membuka kembali perundingan antara Washington dan Teheran. Pemerintah AS juga menegaskan pada Kamis (27/8) bahwa mereka tidak sedang melakukan dialog dengan Iran, meskipun sejumlah negara berupaya mendekatkan kembali kedua pihak.

Sanksi Washington Menuai Kecaman Teheran

Kebijakan tegas Amerika Serikat terhadap Iran berlanjut setelah Washington mengumumkan sanksi yang disebut sebagai “sanksi terberat dalam sejarah” pada awal pekan sebelumnya. Langkah tersebut menjadi bagian penting dari perkembangan yang terus dipantau oleh pelaku pasar minyak.

Pemerintah Iran mengecam sanksi tersebut. Teheran menyebut kebijakan itu sebagai tindakan yang tidak manusiawi dan bermusuhan, serta menilai sanksi tersebut sudah tidak efektif.

Ketidakpastian mengenai hubungan AS dan Iran menjadi salah satu faktor yang membuat pasar mencermati arah kebijakan kedua negara. Perkembangan diplomatik maupun potensi memburuknya hubungan antara Washington dan Teheran dapat terus memengaruhi sentimen perdagangan minyak.

Eskalasi Geopolitik Eropa Timur Turut Dipantau

Selain perkembangan di Timur Tengah, pasar minyak juga mengamati peningkatan eskalasi geopolitik di Eropa Timur. Rusia dilaporkan mengancam akan menyerang target militer Inggris, baik yang berada di dalam maupun di luar wilayah Ukraina.

Ancaman Moskow tersebut disampaikan sebagai respons terhadap serangan Ukraina ke wilayah Rusia. Serangan itu dilakukan menggunakan rudal jelajah jarak jauh yang dipasok oleh Inggris.

Ketegangan tersebut menambah perhatian pasar terhadap risiko geopolitik yang dapat memengaruhi sentimen perdagangan komoditas, termasuk minyak mentah. Pasar terus mengikuti perkembangan antara Rusia, Ukraina, dan Inggris di tengah meningkatnya pernyataan keras dari masing-masing pihak.

Meski demikian, Donald Trump menilai Presiden Rusia Vladimir Putin tidak akan menyerang negara anggota NATO. Trump juga meremehkan laporan media mengenai peringatan Direktur CIA John Ratcliffe kepada pejabat Rusia terkait potensi serangan.

Kesimpulan

Harga minyak dunia melemah pada perdagangan Jumat (28/8), dengan Brent turun 0,3 persen menjadi US$89,45 per barel dan WTI terkoreksi 0,3 persen ke US$83,31 per barel. Secara mingguan, Brent dan WTI masing-masing berpotensi turun 5,3 persen dan 4,3 persen.

Pergerakan harga minyak selanjutnya akan tetap dipengaruhi oleh perkembangan hubungan Amerika Serikat dan Iran, termasuk kebijakan sanksi serta peluang dialog antara kedua negara. Di sisi lain, eskalasi geopolitik di Eropa Timur juga menjadi faktor yang terus dicermati pasar. Arah harga minyak akan bergantung pada perkembangan lebih lanjut dari berbagai isu tersebut.

Sumber: Cnnindonesia

Post Comment