Harga Minyak Dunia Menguat di Tengah Risiko Konflik AS-Iran dan Gangguan Pasokan

Harga minyak dunia kembali menguat pada perdagangan Selasa (8/9). Penguatan tersebut terjadi ketika ketegangan antara Amerika Serikat (AS) dan Iran meningkat serta memunculkan kekhawatiran mengenai kemungkinan perang berkepanjangan di Timur Tengah.

Situasi geopolitik itu mendorong pelaku pasar memperhitungkan risiko terganggunya pasokan minyak global, terutama dari kawasan Teluk Persia. Kawasan tersebut merupakan salah satu jalur penting dalam pengiriman minyak dunia sehingga setiap eskalasi konflik berpotensi memengaruhi stabilitas pasokan dan harga energi.

Harga Brent dan WTI Kompak Naik

Mengutip Reuters, harga minyak mentah Brent naik 34 sen atau 0,35 persen menjadi US$97,34 per barel. Pada saat yang sama, harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) Amerika Serikat meningkat US$1,15 atau 1,26 persen menjadi US$92,63 per barel.

Kenaikan tersebut terjadi setelah Iran menyampaikan ancaman untuk melakukan pembalasan apabila AS kembali melancarkan serangan terhadap aset-aset miliknya. Pernyataan itu meningkatkan kewaspadaan pasar terhadap potensi meluasnya konflik dan dampaknya terhadap infrastruktur serta jalur distribusi minyak.

Harga Brent bahkan telah menyentuh level tertinggi sejak 24 Juli pada perdagangan sebelumnya. Seiring meningkatnya ketegangan di sekitar Selat Hormuz, pelaku pasar terus memasukkan premi risiko ke dalam harga minyak.

Ketegangan di Teluk Persia Picu Kekhawatiran Pasokan

Pada Senin (7/9), Iran memperingatkan bahwa infrastruktur energi di kawasan Teluk rentan menjadi sasaran. Peringatan tersebut mencakup kepentingan minyak dan gas milik AS yang berada di kawasan tersebut.

Pernyataan itu disampaikan setelah terjadi aksi saling serang antara AS dan Iran sepanjang akhir pekan. Sampai saat ini, belum terlihat adanya terobosan diplomatik yang dapat meredakan konflik tersebut.

Serangan terhadap Kapal Tanker Iran

Pada Sabtu (5/9), pasukan AS dilaporkan menyerang tiga kapal tanker minyak Iran. Salah satu kapal yang menjadi sasaran berada di dekat Pulau Kharg, yang dikenal sebagai pusat utama ekspor minyak Iran.

Serangan tersebut dilakukan setelah Korps Garda Revolusi Islam Iran atau IRGC melancarkan serangan terhadap kapal perang AS yang beroperasi di kawasan tersebut. Rangkaian aksi saling serang itu meningkatkan kekhawatiran bahwa gangguan terhadap aktivitas pelayaran dan distribusi minyak dapat berlangsung lebih lama.

Risiko tersebut menjadi perhatian utama pasar karena kawasan Teluk Persia memiliki peran penting dalam arus pengiriman minyak. Setiap gangguan di wilayah tersebut dapat mendorong pelaku pasar menaikkan premi risiko, yang kemudian tercermin dalam pergerakan harga minyak mentah.

Pasokan Minyak Diperkirakan Terbatas hingga 2026

Analis ANZ Daniel Hynes menilai eskalasi konflik terbaru meningkatkan kemungkinan terjadinya kebuntuan dalam waktu yang lebih panjang. Menurut dia, kondisi itu berpotensi membuat pasokan minyak dari kawasan Teluk tetap terbatas hingga akhir 2026.

“Kami tidak memperkirakan arus pasokan kembali sepenuhnya ke tingkat sebelum perang hingga akhir kuartal I atau awal kuartal II 2027,” kata Hynes dalam catatannya.

Perkiraan tersebut menunjukkan bahwa pemulihan arus pasokan minyak kemungkinan tidak berlangsung cepat apabila konflik terus berlanjut. Pasar juga akan tetap mencermati perkembangan di sekitar Selat Hormuz dan infrastruktur energi di kawasan Teluk.

Goldman Sachs Naikkan Proyeksi Harga Minyak

Risiko gangguan pasokan yang berpotensi berlangsung lebih lama turut mendorong sejumlah lembaga menaikkan proyeksi harga minyak. Goldman Sachs menaikkan proyeksi harga Brent dan WTI masing-masing sebesar US$5.

Untuk Desember 2026, Goldman Sachs kini memperkirakan harga minyak Brent berada di level US$85 per barel. Sementara itu, harga WTI diproyeksikan mencapai US$80 per barel.

Untuk 2027, Goldman Sachs memperkirakan harga Brent berada di level US$80 per barel dan WTI sebesar US$75 per barel. Kenaikan proyeksi tersebut mencerminkan kekhawatiran terhadap durasi konflik serta dampaknya terhadap pasokan minyak dari kawasan Teluk.

Kesimpulan

Harga minyak dunia menguat karena meningkatnya ketegangan antara AS dan Iran serta ancaman terhadap infrastruktur energi di kawasan Teluk. Brent tercatat naik menjadi US$97,34 per barel, sedangkan WTI meningkat ke level US$92,63 per barel.

Ke depan, arah harga minyak akan sangat dipengaruhi oleh perkembangan konflik, kemungkinan munculnya gangguan terhadap jalur pengiriman, serta prospek pemulihan pasokan. Selama belum ada terobosan diplomatik yang mampu meredakan ketegangan, premi risiko diperkirakan tetap membayangi pasar minyak dan menjaga perhatian pelaku pasar terhadap potensi kenaikan harga.

Sumber: Cnnindonesia

Post Comment