IHSG Menguat 3,55 Persen Sepekan, Simak Proyeksi dan Saham Pilihan Analis
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menutup perdagangan Jumat, 21 Agustus 2026, di zona positif. IHSG naik 24,10 poin atau 0,37 persen ke level 6.525. Penguatan tersebut terjadi di tengah aktivitas perdagangan yang cukup tinggi, dengan nilai transaksi mencapai Rp17,47 triliun dan volume saham yang diperdagangkan sebanyak 59,12 miliar saham.
Dalam sepekan perdagangan pada periode 18 hingga 21 Agustus 2026, IHSG tercatat menguat selama tiga hari dan melemah pada satu hari lainnya. Secara keseluruhan, kinerja indeks mengalami kenaikan sebesar 3,55 persen. Bursa Efek Indonesia (BEI) juga mencatat sejumlah indikator perdagangan mengalami peningkatan sepanjang pekan tersebut.
Kinerja Perdagangan Bursa Menguat
Sekretaris Perusahaan BEI Kautsar Primadi Nurahmad mengatakan perdagangan saham selama periode 18-21 Agustus 2026 ditutup dengan kinerja positif. Hal itu tercermin dari kenaikan kapitalisasi pasar, volume transaksi, nilai transaksi harian, serta frekuensi perdagangan.
Kapitalisasi pasar bursa meningkat 1,83 persen dari Rp11.243 triliun menjadi Rp11.449 triliun. Selain itu, rata-rata volume transaksi harian naik 47,90 persen, dari 34,01 miliar lembar saham menjadi 50,30 miliar lembar saham.
Rata-rata nilai transaksi harian juga mengalami kenaikan sebesar 2,36 persen. Angkanya meningkat dari Rp15,21 triliun menjadi Rp15,57 triliun. Sementara itu, rata-rata frekuensi transaksi harian naik 5,52 persen, dari 2,09 juta kali transaksi menjadi 2,21 juta kali transaksi pada penutupan pekan lalu.
Dari sisi investor asing, tercatat nilai beli bersih sebesar Rp974,58 miliar pada perdagangan Jumat. Namun, secara kumulatif sepanjang 2026, investor asing masih membukukan nilai jual bersih sebesar Rp70,64 triliun.
Proyeksi IHSG Pekan Berikutnya
VP Equity Retail Kiwoom Sekuritas Indonesia Oktavianus Audi memperkirakan IHSG masih berpeluang bergerak menguat secara terbatas. Berdasarkan proyeksinya, IHSG akan bergerak dalam rentang support 6.450 dan resistance 6.620.
Menurut Oktavianus, arah pergerakan pasar akan dipengaruhi oleh berbagai sentimen global dan domestik. Salah satu faktor eksternal yang menjadi perhatian adalah potensi berlanjutnya pelemahan dolar Amerika Serikat seiring dengan rencana pembelian kembali obligasi atau buyback bonds oleh pemerintah AS.
Pelemahan dolar AS berpotensi mendorong investor mengalihkan dana dari aset berbasis dolar menuju aset safe haven, seperti emas dan perak. Kondisi tersebut dinilai dapat memberikan dampak positif bagi emiten produsen emas dalam negeri karena berpotensi meningkatkan harga jual acuan.
Selain itu, harga minyak mentah dunia masih berpeluang menguat seiring tingginya ketegangan geopolitik di Timur Tengah. Keputusan Uni Emirat Arab memutus hubungan ekonomi dengan Iran turut menjadi perhatian pasar. Perkembangan tersebut menimbulkan kekhawatiran terhadap potensi kembali meningkatnya inflasi.
Sentimen Rupiah dan Kebijakan The Fed
Dari dalam negeri, pergerakan nilai tukar rupiah juga menjadi salah satu faktor yang dicermati investor. Rupiah bergerak di level Rp17.647 per dolar AS. Oktavianus menilai kondisi tersebut dapat mendorong stabilitas pasar sekaligus membuka peluang masuknya aliran dana ke pasar negara berkembang.
Pasar juga akan memperhatikan perkembangan kebijakan bank sentral Amerika Serikat atau The Fed. Analis Teknikal MNC Sekuritas Herditya Wicaksana mengatakan IHSG masih memiliki ruang untuk menguat dalam sepekan ke depan, dengan level support 6.373 dan resistance 6.628.
Herditya menyebut Jackson Hole Symposium sebagai salah satu agenda penting yang akan dicermati investor. Pertemuan tersebut berpotensi memberikan petunjuk mengenai arah kebijakan The Fed ke depan.
Investor juga akan mengamati rebalancing indeks MSCI pada Agustus 2026 yang dijadwalkan efektif pada awal September. Perubahan komposisi indeks tersebut dapat memengaruhi pergerakan saham-saham yang masuk maupun keluar dari indeks.
Dari pasar komoditas, emas dan minyak mentah dunia juga masih berpeluang mencatatkan penguatan. Pergerakan kedua komoditas tersebut diperkirakan tetap menjadi sentimen penting bagi pasar saham pada pekan mendatang.
Daftar Saham yang Dicermati Analis
Rekomendasi Kiwoom Sekuritas
Oktavianus merekomendasikan sejumlah saham berdasarkan analisis teknikal. Salah satunya adalah saham PT Aneka Tambang Tbk atau ANTM. Saham tersebut ditutup menguat 0,96 persen ke level 3.170 pada pekan lalu dan diproyeksikan dapat mencapai level 3.370 pada pekan ini.
Saham berikutnya adalah PT Sumber Alfaria Trijaya Tbk atau AMRT. AMRT menguat 4,73 persen ke posisi 1.440 pada pekan lalu. Saham ini diperkirakan berpotensi menyentuh level 1.560.
Oktavianus juga mencermati saham PT Bank Central Asia Tbk atau BBCA. Saham BBCA ditutup menguat 0,78 persen ke level 6.450 dan diproyeksikan dapat mencapai level 6.750 pada pekan ini.
Rekomendasi MNC Sekuritas
Sementara itu, Herditya merekomendasikan saham PT Fore Kopi Indonesia Tbk atau FORE. Saham FORE ditutup menguat 1,84 persen ke level 830 pada pekan lalu. Berdasarkan analisisnya, saham tersebut berpotensi mencapai level 915.
Saham lain yang menjadi perhatian adalah PT Merdeka Battery Materials Tbk atau MBMA. Saham MBMA ditutup di level 565 pada pekan lalu dan diproyeksikan dapat menyentuh level 660.
Herditya turut merekomendasikan saham PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk atau TLKM. Saham TLKM ditutup di level 2.610 pada pekan lalu dan diperkirakan berpotensi naik menuju level 2.840.
Kesimpulan
IHSG menutup pekan perdagangan dengan penguatan 3,55 persen dan berada di level 6.525 pada Jumat, 21 Agustus 2026. Peningkatan kapitalisasi pasar, volume transaksi, nilai transaksi harian, serta frekuensi perdagangan menunjukkan aktivitas pasar yang lebih tinggi.
Untuk sepekan ke depan, analis masih melihat peluang penguatan IHSG, meskipun pergerakannya diperkirakan terbatas. Investor akan mencermati arah kebijakan The Fed melalui Jackson Hole Symposium, rebalancing indeks MSCI, pergerakan rupiah, serta harga emas dan minyak mentah dunia. Sejumlah saham yang menjadi perhatian analis antara lain ANTM, AMRT, BBCA, FORE, MBMA, dan TLKM.
Informasi ini bukan merupakan rekomendasi untuk membeli atau menjual saham tertentu. Setiap keputusan investasi sepenuhnya menjadi tanggung jawab investor dengan mempertimbangkan kondisi pasar dan profil risikonya.
Sumber: Cnnindonesia



Post Comment