8 Tanda Anak Mulai Pandai Berteman dan Membangun Hubungan Positif

Berteman merupakan bagian penting dari proses tumbuh kembang anak. Melalui hubungan dengan teman sebaya, anak belajar mengenal orang lain, menyesuaikan diri, serta membangun hubungan sosial. Kemampuan ini tidak hanya ditandai oleh banyaknya teman yang dimiliki, tetapi juga oleh cara anak berinteraksi dan menjaga hubungan dengan orang lain.

Ketika anak bermain bersama teman, ia memperoleh kesempatan untuk memahami perasaan orang lain, mengikuti aturan, berbagi peran, hingga menghadapi perbedaan pendapat. Proses tersebut berkembang secara bertahap seiring bertambahnya usia dan pengalaman. Karena itu, setiap anak dapat memiliki cara dan kecepatan yang berbeda dalam membangun pertemanan.

Tanda Anak Mulai Pandai Berteman

1. Mau berbagi dan membantu teman

Salah satu tanda anak mulai memiliki kemampuan sosial yang baik adalah kesediaannya untuk berbagi mainan, membantu teman, atau menghibur ketika melihat temannya mengalami kesulitan. Perilaku tersebut termasuk perilaku prososial, yakni tindakan yang dilakukan untuk membantu atau memberi manfaat kepada orang lain.

Penelitian yang dimuat dalam Developmental Psychology pada anak usia 2 hingga 12 tahun menemukan hubungan antara kemampuan memahami pikiran dan perasaan orang lain dengan perilaku prososial. Ketika anak mulai mampu memahami apa yang dirasakan temannya, ia cenderung lebih mampu memberikan respons yang membantu.

2. Mampu mengikuti aturan dan bergantian

Bermain bersama membuat anak belajar menyesuaikan diri dengan teman. Ia mulai memahami pentingnya mengikuti aturan permainan, menunggu giliran, berbagi peran, serta memberi kesempatan kepada teman untuk menyampaikan keinginannya.

Keinginan untuk menjadi yang pertama atau berebut mainan masih dapat terjadi dan merupakan hal yang wajar dalam proses perkembangan anak. Namun, seiring waktu, anak mulai memahami bahwa bermain bersama berarti tidak semua hal dapat berjalan sesuai keinginannya sendiri. Ia pun belajar memberi ruang bagi keinginan teman.

3. Mulai menunjukkan empati

Anak yang kemampuan sosialnya berkembang biasanya mulai dapat mengenali ketika temannya sedang sedih, takut, atau kecewa. Bentuk responsnya mungkin masih sederhana, seperti bertanya apa yang terjadi, menghampiri teman yang menangis, atau mencoba memberikan hiburan.

Kemampuan memahami perasaan orang lain atau empati merupakan bagian penting dari perilaku prososial. Empati juga membantu anak membangun hubungan yang lebih positif karena ia mulai memperhatikan kondisi dan kebutuhan orang lain, bukan hanya memikirkan dirinya sendiri.

4. Dapat menghadapi konflik kecil

Konflik dalam permainan merupakan hal yang umum terjadi di antara anak-anak. Mereka dapat berebut mainan, memiliki pendapat berbeda mengenai aturan, atau sama-sama ingin menjadi pemimpin dalam permainan.

Seiring perkembangan kemampuan sosial, anak mulai belajar menghadapi situasi tersebut. Ia perlahan mampu menyampaikan keinginannya, mendengarkan teman, bernegosiasi, atau mencari jalan tengah. Anak mungkin belum selalu berhasil menyelesaikan konflik dengan tenang, tetapi kemauan untuk berkomunikasi dan tetap terlibat dalam permainan menunjukkan adanya perkembangan.

5. Memahami hubungan yang bersifat timbal balik

Pemahaman anak mengenai pertemanan berubah seiring bertambahnya usia. Pada awalnya, anak mungkin memandang pertemanan sebatas melakukan hal baik kepada orang lain. Selanjutnya, ia mulai memahami bahwa hubungan pertemanan bersifat timbal balik.

Artinya, berteman bukan hanya tentang dirinya berbuat baik kepada orang lain. Ada proses saling memberi, menerima, membantu, dan memperhatikan. Pemahaman tersebut menjadi dasar bagi anak untuk membangun hubungan yang lebih nyaman dan positif.

6. Memiliki hubungan yang positif

Punya banyak teman bukan satu-satunya ukuran bahwa anak pandai berteman. Hal yang lebih penting adalah kualitas hubungan yang dibangun. Anak dapat dikatakan mulai mampu berteman ketika ia memiliki teman yang sering diajak bermain, dapat saling membantu, dan tetap mau berinteraksi meskipun sesekali terjadi perbedaan pendapat.

Studi dalam Child Development yang melibatkan 22.657 anak dan remaja menunjukkan bahwa perilaku prososial berkaitan dengan pertemanan yang lebih positif serta lebih sedikit pengalaman pertemanan negatif. Temuan ini menunjukkan bahwa kualitas hubungan dapat lebih berarti daripada sekadar menghitung jumlah teman yang dimiliki anak.

7. Berani memulai interaksi

Tanda lainnya adalah anak mulai berani memulai interaksi dengan teman sebaya. Misalnya, ia menghampiri anak lain untuk ikut bermain, mengajak berbicara, atau bergabung dengan kelompok tanpa selalu menunggu diajak.

Kemampuan memulai interaksi dan masuk ke dalam kelompok sebaya merupakan bagian dari kompetensi sosial. Meski demikian, setiap anak memiliki cara dan kecepatan yang berbeda dalam membangun hubungan. Ada anak yang lebih mudah membuka percakapan, sementara anak lainnya membutuhkan waktu sebelum merasa nyaman.

Kesimpulan

Kepandaian anak dalam berteman tidak ditentukan oleh banyaknya teman yang dimiliki. Kemampuan tersebut dapat terlihat dari kesediaan berbagi, membantu, menunjukkan empati, mengikuti aturan, menghadapi konflik, memahami hubungan timbal balik, serta berani memulai interaksi.

Perkembangan sosial berlangsung secara bertahap dan dipengaruhi oleh usia serta pengalaman anak. Ke depan, kemampuan memahami perasaan orang lain dan membangun hubungan yang saling mendukung dapat membantu anak mengembangkan pertemanan yang lebih positif. Oleh sebab itu, orang tua dapat memperhatikan proses interaksi anak tanpa hanya berfokus pada jumlah teman yang dimilikinya.

Sumber: Cnnindonesia

Post Comment