Menelusuri 5 Gang Bersejarah di Jakarta, dari Glodok hingga Pekojan
Menyusuri kawasan bersejarah di Jakarta tidak selalu harus dilakukan dengan mengunjungi museum atau bangunan tua yang berdiri megah. Di balik padatnya jalan utama, terdapat sejumlah gang kecil yang menyimpan cerita mengenai perkembangan kota dari masa ke masa.
Gang-gang tersebut berada di kawasan yang sejak dahulu menjadi pusat perdagangan dan kehidupan masyarakat Jakarta. Sebagian di antaranya masih mempertahankan suasana lama melalui deretan bangunan tua, tempat ibadah, hingga kedai makanan yang telah berjualan selama puluhan tahun.
Beberapa gang bersejarah dapat ditemukan di kawasan Pecinan Glodok, Pasar Baru, serta Pekojan. Masing-masing memiliki latar belakang yang berbeda, mulai dari sejarah komunitas Tionghoa, jejak masyarakat Muslim keturunan India, hingga perkembangan Kampung Arab pada masa Batavia.
Gang Gloria, Sentra Kuliner Lama di Glodok
Gang Gloria berada di kawasan Pancoran-Glodok, Jakarta Barat. Gang sempit dengan lebar sekitar 4 meter ini dikenal sebagai salah satu pusat kuliner lama di kawasan Pecinan.
Di dalam Gang Gloria, pengunjung dapat menemukan sejumlah kedai yang telah lama dikenal masyarakat. Beberapa di antaranya adalah Kopi Es Tak Kie, Bakmi Amoy, Toko Kawi, dan Soto Betawi Nyonya Afung.
Nama Gang Gloria berasal dari pertokoan Gloria yang dahulu berdiri di kawasan tersebut. Popularitasnya berkembang seiring dengan kawasan Pancoran-Glodok yang telah menjadi pusat kehidupan masyarakat Tionghoa sejak awal abad ke-20.
Gang Gloria sempat mengalami penurunan popularitas. Namun, kawasan ini kembali ramai dan direvitalisasi pada 2022 dengan tetap mempertimbangkan nilai sejarah yang dimilikinya.
Gang Kelinci dan Sejarah Pasar Baru
Gang Kelinci terletak di kawasan Pasar Baru, Jakarta Pusat. Gang ini menjadi salah satu bagian menarik dari kawasan perdagangan yang telah berkembang sejak masa Batavia.
Pasar Baru mulai berkembang sebagai pusat perdagangan pada abad ke-19 setelah dibangun oleh pemerintah Belanda. Nama Gang Kelinci kemudian semakin dikenal setelah lagu berjudul “Gang Kelinci” yang dinyanyikan Lilis Suryani populer pada era 1960-an.
Selain menjadi bagian dari sejarah Pasar Baru, Gang Kelinci juga menjadi akses menuju Vihara Sin Tek Bio yang disebut telah berdiri sejak 1698. Di kawasan ini, wisatawan juga dapat menemukan kuliner legendaris, seperti Bakmi Gang Kelinci dan Cakwe Ko Atek.
Gang Koja, Jejak Komunitas Muslim India
Gang Koja berada di kawasan Pekojan, Tambora, Jakarta Barat. Meskipun secara resmi telah berganti nama menjadi Jalan Pengukiran II, masyarakat masih menggunakan nama Gang Koja dalam keseharian.
Gang ini menjadi salah satu jejak keberadaan komunitas Khoja, yakni masyarakat Muslim keturunan India yang pernah tinggal di Pekojan. Daya tarik utamanya adalah Masjid Al-Anshor yang berada di dalam kawasan tersebut.
Masjid Al-Anshor dibangun pada 1648 oleh komunitas Muslim India dan menjadi salah satu peninggalan penting dalam sejarah Pekojan. Pada masa kolonial, kawasan ini kemudian berkembang sebagai Kampung Arab dan masih menyimpan sejumlah bangunan bersejarah lainnya.
Petak Sembilan, Kawasan Pecinan di Belakang Pasar Glodok
Petak Sembilan berada di kawasan Gang Pancoran, Glodok, Jakarta Barat, tepat di belakang Pasar Glodok. Hingga kini, kawasan tersebut masih dikenal sebagai salah satu bagian dari Pecinan Jakarta dan tetap menjadi lokasi aktivitas perdagangan.
Nama Petak Sembilan dipercaya berasal dari sembilan rumah petak yang dahulu berada di kawasan itu. Meski bangunan petaknya sudah tidak ada, nama Petak Sembilan tetap digunakan oleh masyarakat.
Pengunjung dapat menemukan pedagang bahan makanan, kue, serta berbagai kebutuhan khas masyarakat Tionghoa. Suasana kawasan ini juga semakin ramai menjelang perayaan Imlek.
Gang Jelakeng dan Jejak Batavia
Gang Jelakeng berlokasi di Jalan Perniagaan Barat, Tambora, Jakarta Barat, di antara Jalan Toko Tiga dan Jalan Pasar Pagi. Kawasan ini berada di sepanjang Kali Krukut dengan deretan bangunan yang membentang sekitar satu kilometer.
Saat ini, nama Jelakeng digunakan untuk menyebut jalan sempit atau gang yang membentang dari barat ke timur. Berdasarkan penelitian yang diterbitkan dalam Berkala Arkeologi BRIN, nama Jelakeng diyakini berasal dari istilah dialek Tionghoa “Jie Lak Keng”, yang berkaitan dengan 26 bangunan yang dahulu terdapat di kawasan tersebut.
Jelakeng memiliki sejarah panjang sebagai bagian dari kehidupan sosial dan hiburan Batavia. Sejumlah bangunan lama bergaya Tionghoa masih dapat ditemukan, meskipun kondisi kawasan telah banyak berubah.
Gang Kecil dengan Cerita Besar
Lima gang tersebut menunjukkan bahwa sejarah Jakarta tidak hanya tersimpan di museum atau bangunan besar. Gang Gloria, Gang Kelinci, Gang Koja, Petak Sembilan, dan Gang Jelakeng memperlihatkan hubungan antara perdagangan, kuliner, komunitas, tempat ibadah, serta perubahan sosial di ibu kota.
Keberadaan kawasan-kawasan ini menjadi pengingat bahwa perkembangan Jakarta berlangsung melalui ruang-ruang kecil yang terus digunakan masyarakat. Ke depan, pemahaman terhadap nilai sejarah gang-gang tersebut penting agar suasana dan cerita yang masih tersisa dapat tetap dikenali oleh generasi berikutnya.
Sumber: Cnnindonesia



Post Comment