Dua Serangan Udara Israel di Gaza Tewaskan Dua Orang dan Lukai Tujuh Warga

Jalur Gaza kembali menjadi sasaran serangan udara Israel. Dua serangan yang terjadi pada Minggu (23/8) waktu setempat dilaporkan menewaskan dua orang dan melukai tujuh lainnya. Serangan tersebut berlangsung ketika Israel memperingatkan akan meningkatkan operasi militernya di Gaza setelah adanya peluncuran balon, drone, dan layang-layang dari wilayah Palestina ke arah Israel.

Serangan ini menambah ketegangan di tengah situasi gencatan senjata yang disebut belum mampu menghentikan kekerasan di Gaza. Di sisi lain, Hamas menuduh Israel melanggar kesepakatan tersebut serta menghambat upaya perdamaian yang diusulkan Presiden Amerika Serikat Donald Trump untuk mengakhiri konflik.

Serangan Menghantam Bangunan di Zawayda

Dilansir Reuters, salah satu serangan udara Israel menghantam sebuah bangunan di kota Zawayda. Serangan itu terjadi setelah militer Israel memperingatkan pemilik properti agar meninggalkan area tersebut. Tidak lama setelah serangan, puing-puing bangunan dan serpihan logam dilaporkan beterbangan hingga puluhan meter dari lokasi kejadian.

Petugas medis menyebut enam orang mengalami luka akibat serangan tersebut. Salah satu korban merupakan seorang anak berusia empat tahun bernama Mohammad Abdel Salam Taha. Ia sempat menjadi korban luka sebelum akhirnya dinyatakan meninggal dunia.

Kesaksian warga menggambarkan dampak serangan terhadap penduduk sipil di sekitar lokasi. Seorang warga Palestina bernama Abu Ahmed menyampaikan keinginannya agar konflik segera berakhir dan masyarakat dapat menjalani kehidupan secara damai.

“Tidak ada gencatan senjata, tidak ada apa-apa. Kami menginginkan solusi, kami ingin hidup damai,” kata Abu Ahmed.

Serangan Kedua Terjadi di Kamp Pengungsi Nuseirat

Serangan udara kedua berlangsung di kamp pengungsi Nuseirat. Lokasi tersebut berada tidak jauh dari tempat serangan pertama di Zawayda. Serangan ini turut menyebabkan korban jiwa dan luka, sehingga total dari dua serangan tersebut mencapai dua orang meninggal dunia serta tujuh orang terluka.

Israel menyatakan sedang menyelidiki kedua serangan udara tersebut. Namun, informasi mengenai hasil penyelidikan itu belum disampaikan dalam laporan tersebut. Kondisi ini menambah kekhawatiran terhadap keselamatan warga sipil yang tinggal di kawasan padat penduduk dan kamp pengungsi.

Israel Sebut Milisi Senior Hamas Tewas

Sehari sebelumnya, pada Sabtu (22/8) malam, Israel mengatakan telah melancarkan serangan yang menewaskan seorang milisi senior Hamas bernama Sharif Al-Hasnat. Serangan tersebut terjadi di kota Deir Al Balah.

Menurut klaim Israel, Sharif Al-Hasnat memimpin upaya untuk memulihkan infrastruktur bawah tanah Hamas. Pernyataan itu menjadi bagian dari alasan Israel dalam melanjutkan operasi militernya di Gaza. Israel sebelumnya juga menyatakan bahwa peningkatan serangan dilakukan sebagai respons terhadap peluncuran balon, drone, dan layang-layang dari Gaza menuju wilayah Israel.

Gencatan Senjata dan Upaya Perdamaian Kembali Dipertanyakan

Hamas menuduh Israel melanggar gencatan senjata serta merusak upaya perdamaian yang diusulkan Presiden Amerika Serikat Donald Trump. Tuduhan tersebut muncul ketika serangan militer masih terus terjadi meskipun gencatan senjata telah diberlakukan.

Sejak gencatan senjata dimulai pada Oktober 2025, lebih dari 1.280 warga Palestina dilaporkan tewas di Gaza. Kesepakatan tersebut dinilai gagal menghentikan serangan militer Israel. Israel mengeklaim operasi itu bertujuan menggagalkan serangan Hamas dan kelompok milisi lainnya di Gaza.

Kesimpulan

Dua serangan udara Israel di Zawayda dan kamp pengungsi Nuseirat kembali menyoroti rapuhnya situasi keamanan di Jalur Gaza. Korban jiwa dan luka, termasuk anak-anak, menunjukkan bahwa warga sipil masih menghadapi risiko besar di tengah konflik yang belum berakhir.

Dengan Israel menyatakan akan meningkatkan serangan dan Hamas menuduh adanya pelanggaran gencatan senjata, prospek perdamaian masih menghadapi tantangan serius. Ke depan, perhatian tertuju pada hasil penyelidikan Israel terhadap dua serangan tersebut serta kemungkinan berlanjutnya upaya diplomatik untuk menghentikan kekerasan dan melindungi penduduk Gaza.

Sumber: Cnnindonesia

Post Comment