7 Destinasi Wisata Indonesia yang Disebut Mirip Luar Negeri, dari Swiss hingga Afrika

Indonesia memiliki beragam destinasi wisata dengan panorama alam yang tidak kalah menarik dibandingkan tempat-tempat populer di luar negeri. Keindahan tersebut hadir dalam berbagai bentuk, mulai dari danau vulkanik yang dikelilingi pegunungan, gugusan pulau dengan laut biru, hutan bambu, padang savana, hingga lembah yang diapit tebing-tebing tinggi.

Sejumlah destinasi di Tanah Air bahkan kerap dibandingkan dengan tempat wisata di negara lain. Perbandingan itu umumnya muncul karena adanya karakter lanskap yang serupa, seperti bentuk pegunungan, warna air, hamparan padang rumput, maupun suasana kawasan. Meski demikian, kemiripan tersebut tidak berarti kondisi alamnya benar-benar sama.

Bagi wisatawan yang ingin merasakan suasana liburan seperti di luar negeri tanpa harus bepergian ke negara lain, berikut tujuh destinasi Indonesia yang dapat menjadi pilihan. Informasi tarif yang tercantum dapat berubah mengikuti kebijakan pengelola masing-masing kawasan.

1. Danau Toba, Sumatera Utara

Danau Toba merupakan salah satu danau vulkanik terbesar di dunia. Danau ini memiliki bentang perairan yang luas dan dikelilingi perbukitan serta pegunungan. Di tengahnya terdapat Pulau Samosir yang menjadi salah satu ciri khas kawasan Danau Toba.

Panorama Danau Toba pernah dibandingkan dengan pemandangan di Swiss, terutama ketika dilihat dari Huta Ginjang, Tapanuli Utara. Dari ketinggian sekitar 1.095 meter di atas permukaan laut, wisatawan dapat menyaksikan kaldera Toba, Pulau Samosir, serta hamparan danau yang dikelilingi perbukitan.

Berdasarkan informasi pengelola yang dikutip BPODT, tiket masuk Huta Ginjang sekitar Rp6.000 per orang.

2. Raja Ampat, Papua Barat Daya

Raja Ampat dikenal melalui gugusan pulau, laut yang jernih, pantai berpasir putih, dan panorama karst yang menjadi daya tarik utama. Kawasan ini juga memiliki peran penting dalam konservasi laut serta kawasan konservasi perairan yang luas.

Pemandangan kepulauan dan laut biru Raja Ampat kerap dibandingkan dengan Maladewa. Salah satu lokasi yang terkenal adalah Piaynemo, kawasan dengan pulau-pulau karst berukuran kecil yang tersebar di tengah perairan biru.

Untuk tiket atau pungutan masuk kawasan, wisatawan lokal dikenakan biaya sekitar Rp500.000, sedangkan wisatawan mancanegara dikenakan Rp1 juta. Tarif tersebut dapat mengikuti kebijakan terbaru dari pengelola.

3. Hutan Bambu Keputih, Surabaya

Hutan Bambu Keputih berada di Jalan Raya Marina Asri, Keputih, Kecamatan Sukolilo, Surabaya, Jawa Timur. Destinasi ini memiliki jalan setapak yang diapit rumpun bambu tinggi dan rimbun.

Suasana tersebut membuat Hutan Bambu Keputih sering dianggap mirip dengan Sagano Bamboo Forest di Kyoto, Jepang. Walaupun skalanya berbeda, deretan bambu yang membentuk lorong menjadi karakter lanskap yang membuat kedua tempat itu terasa serupa.

Pengunjung tidak dikenakan tiket masuk ke kawasan ini. Wisatawan hanya perlu membayar biaya parkir sekitar Rp2.000 untuk sepeda motor dan Rp5.000 untuk mobil.

4. Savana Bekol, Taman Nasional Baluran

Savana Bekol merupakan bagian dari Taman Nasional Baluran yang berada di Kabupaten Situbondo, Jawa Timur. Kawasan ini memiliki hamparan padang rumput luas, pepohonan yang tersebar, serta keberadaan satwa liar.

Karakter tersebut membuat Savana Bekol mendapat julukan “Africa van Java”. Suasananya mengingatkan wisatawan pada lanskap sabana Afrika, terutama ketika rusa atau satwa lainnya terlihat berada di area padang rumput.

Tiket masuk Taman Nasional Baluran bagi warga negara Indonesia tercatat sebesar Rp21.000 pada hari kerja dan Rp31.000 pada akhir pekan. Biaya kendaraan dikenakan secara terpisah, yakni sekitar Rp5.000 untuk sepeda motor dan Rp10.000 untuk mobil.

5. Patung Buddha Tidur, Mojokerto

Patung Buddha Tidur berada di kompleks Maha Vihara Mojopahit, Desa Bejijong, Kecamatan Trowulan, Kabupaten Mojokerto. Patung Buddha dalam posisi berbaring ini menjadi salah satu ikon wisata religi di kawasan Trowulan.

Pemerintah Kabupaten Mojokerto juga masih menyebut kompleks tersebut sebagai kawasan wisata religi dengan ikon Patung Buddha Tidur pada 2026. Patung ini kerap dibandingkan dengan patung Buddha tidur di Thailand karena sama-sama menampilkan sosok Buddha dalam posisi berbaring.

Pengunjung biasanya dikenakan sumbangan dana kebersihan sekitar Rp5.000 untuk dewasa dan Rp3.000 untuk anak-anak. Informasi kunjungan terbaru juga mencantumkan nominal sekitar Rp5.000 sebagai donasi atau biaya parkir.

6. Telaga Sarangan, Magetan

Telaga Sarangan terletak di Desa Sarangan, Kecamatan Plaosan, Kabupaten Magetan, Jawa Timur. Telaga ini berada di kawasan Gunung Lawu dan dikelilingi perbukitan hijau. Udara sejuk khas daerah pegunungan menjadi salah satu daya tarik yang ditawarkan.

Perpaduan telaga, perbukitan, dan suasana pegunungan membuat Telaga Sarangan pernah disebut mirip dengan danau di Swiss, khususnya Danau Geneva. Pemandangan tersebut menjadikan Telaga Sarangan sebagai salah satu pilihan wisata alam bagi pengunjung yang ingin menikmati suasana pegunungan.

Tiket masuk wisatawan dewasa tercatat sekitar Rp20.000, sedangkan anak-anak dikenakan tarif sekitar Rp10.000. Tarif tersebut sudah termasuk komponen asuransi.

7. Lembah Harau, Sumatera Barat

Lembah Harau berada di Kecamatan Harau, Kabupaten Lima Puluh Kota, Sumatera Barat. Kawasan ini dikelilingi tebing-tebing granit terjal dengan ketinggian sekitar 100 hingga 500 meter. Selain tebing, wisatawan juga dapat menemukan lembah hijau dan sejumlah air terjun.

Karakter lanskap tersebut membuat Lembah Harau kerap dibandingkan dengan Lauterbrunnen di Swiss. Lauterbrunnen juga dikenal dengan lembah yang berada di antara tebing-tebing tinggi dan air terjun. Perbandingan antara Lembah Harau dan Lauterbrunnen bahkan telah muncul dalam tulisan mengenai lanskap Sumatera pada masa Hindia Belanda.

Informasi dari Pemerintah Kabupaten Lima Puluh Kota mencantumkan retribusi masuk sekitar Rp5.000. Biaya parkir tercatat secara terpisah.

Kesimpulan

Tujuh destinasi tersebut menunjukkan bahwa Indonesia memiliki kekayaan alam dan budaya yang mampu menghadirkan pengalaman wisata dengan nuansa berbeda. Danau Toba dan Telaga Sarangan menawarkan panorama yang mengingatkan pada Swiss, Raja Ampat menghadirkan lanskap kepulauan seperti Maladewa, sedangkan Savana Bekol menawarkan suasana sabana Afrika.

Di sisi lain, Hutan Bambu Keputih, Patung Buddha Tidur, dan Lembah Harau memiliki karakter yang kerap dibandingkan dengan destinasi di Jepang, Thailand, dan Swiss. Kemiripan itu dapat menjadi daya tarik tambahan, sekaligus memperkuat pilihan wisata domestik. Dengan keunikan lanskap yang dimiliki, destinasi-destinasi tersebut berpeluang terus menjadi pilihan wisatawan yang ingin menjelajahi keindahan Indonesia.

Sumber: Cnnindonesia

Post Comment