Pemerintah Siapkan Rekonstruksi Desa Adat Sade Pascakebakaran, 129 Rumah Ludes
Lombok Tengah – Pemerintah pusat menyiapkan rencana rekonstruksi atau pembangunan kembali kawasan Desa Adat Sade di Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat (NTB), setelah kebakaran melanda kawasan tersebut pada Sabtu (22/8) malam. Kebakaran itu menyebabkan seluruh rumah adat di kawasan tersebut terbakar dan menimbulkan kerugian bagi warga, termasuk hilangnya tempat tinggal serta sumber penghasilan.
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengatakan, pembahasan mengenai rekonstruksi belum dapat disampaikan secara rinci karena peristiwa kebakaran baru saja terjadi. Pemerintah masih perlu berkoordinasi dengan kementerian teknis untuk menentukan langkah pemulihan yang tepat bagi Desa Adat Sade.
Pemerintah Siapkan Pembahasan Rekonstruksi Desa Adat Sade
Airlangga menyampaikan bahwa rencana pembangunan kembali kawasan Desa Adat Sade akan dibahas lebih lanjut bersama sejumlah kementerian terkait. Menurut dia, proses tersebut masih berada pada tahap awal sehingga teknis rekonstruksi belum ditetapkan.
“Kebakarannya baru kemarin, baru dua hari, nanti tentu akan dibahas untuk rekonstruksi,” ujar Airlangga saat ditemui di kantor Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, Jakarta Pusat, Senin (24/8).
Ia memastikan pemerintah akan mematangkan pembahasan mengenai teknis perbaikan Desa Adat Sade bersama kementerian teknis. Pemerintah juga akan membicarakan kebutuhan anggaran pemulihan dengan Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa.
Rehabilitasi Pembiayaan bagi Pelaku UMKM
Selain membangun kembali rumah dan kawasan yang terbakar, pemerintah pusat juga menyiapkan rencana rehabilitasi pembiayaan. Langkah tersebut dinilai penting karena mayoritas masyarakat di Desa Adat Sade merupakan pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).
Aktivitas ekonomi warga sangat berkaitan dengan keberadaan kawasan wisata tersebut. Karena itu, pemulihan tidak hanya menyangkut bangunan fisik, tetapi juga dukungan terhadap masyarakat yang kehilangan tempat tinggal dan sumber pendapatan akibat kebakaran.
“Rehabilitasi nanti kita carikan yang berbeda. Nanti akan dibahas dengan menteri keuangan,” kata Airlangga.
Pemulihan Pariwisata Tetap Mempertahankan Identitas Budaya
Menteri Pariwisata Widiyanti Putri Wardhana menyatakan kesiapannya untuk berkoordinasi dengan pemerintah daerah serta kementerian dan lembaga terkait dalam proses pemulihan sektor pariwisata Kampung Adat Sade.
Pemerintah pusat, pemerintah daerah, dan masyarakat adat disebut akan memastikan kawasan tersebut dapat direkonstruksi dan dibangun kembali secepatnya. Namun, proses pemulihan diharapkan tetap mempertahankan karakter serta nilai budaya yang menjadi identitas Desa Adat Sade.
“Prioritas kita sekarang adalah masyarakat. Setelah kondisi darurat tertangani, kita akan bersama-sama memikirkan pemulihannya. Kita ingin Sade bangkit kembali tanpa kehilangan jati dirinya sebagai ruang hidup dan warisan budaya masyarakat Sasak,” ujar Widiyanti dalam siaran pers, Minggu (23/8).
129 Rumah Adat Terdampak Kebakaran
Berdasarkan data yang disampaikan, sebanyak 129 rumah di Desa Adat Sade terdampak kebakaran dan rata dengan tanah. Seluruh rumah adat yang berada di kawasan tersebut dilaporkan ludes terbakar.
Bangunan rumah adat di Desa Sade menggunakan atap ilalang dan dinding bambu. Material tersebut membuat api lebih cepat menjalar dari satu bangunan ke bangunan lainnya sehingga kebakaran menimbulkan kerusakan besar dalam waktu singkat.
Setelah kebakaran, bantuan berupa makanan, selimut, dan tenda terus berdatangan untuk membantu warga. Sebagian masyarakat yang kehilangan tempat tinggal untuk sementara mengungsi ke rumah sanak saudara.
Ketua Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Desa Adat Sade, Sanah Ardinata, mengatakan warga masih mendapatkan dukungan dari keluarga. Menurut dia, kondisi warga tetap terbantu meskipun kehilangan rumah akibat kebakaran.
“Tidak ada yang kedinginan dan kelaparan. Kami punya keluarga, kami bisa tinggal sementara di sana,” kata Sanah.
Kebakaran Berdampak pada Ekonomi Warga
Dampak kebakaran tidak hanya dirasakan dari hilangnya tempat tinggal. Aktivitas ekonomi masyarakat juga ikut terganggu karena sebagian besar warga menggantungkan penghasilan dari kegiatan pariwisata di Desa Adat Sade.
Kerusakan kawasan wisata membuat masyarakat kehilangan ruang untuk menjalankan kegiatan ekonomi yang selama ini menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari. Kondisi tersebut membuat warga berharap pembangunan kembali dapat segera dilakukan agar rumah, lingkungan, dan lapangan pekerjaan mereka dapat pulih.
“Semoga Desa Adat Sade ini bisa dibangun kembali. Kami kehilangan rumah dan kehilangan lapangan pekerjaan,” ujar Sanah.
Desa Adat Sade sebagai Warisan Masyarakat Sasak
Sanah menegaskan bahwa Desa Adat Sade memiliki arti penting bagi masyarakat Sasak. Kawasan tersebut merupakan salah satu kampung adat yang masih bertahan di Pulau Lombok dan menjadi kebanggaan warga sebagai warisan leluhur.
Desa Adat Sade selama ini dikenal sebagai salah satu tujuan wisata populer di Lombok. Kawasan tersebut mempertahankan tradisi dan kehidupan masyarakat Suku Sasak, mulai dari keberadaan rumah adat, tradisi, kerajinan, hingga aktivitas masyarakat yang menjadi daya tarik bagi wisatawan.
Kebakaran pada Sabtu malam menyebabkan salah satu kawasan budaya penting di Lombok itu mengalami kerusakan besar. Karena itu, rencana rekonstruksi diharapkan tidak hanya mengembalikan fungsi kawasan, tetapi juga menjaga jati diri Desa Adat Sade sebagai ruang hidup dan warisan budaya masyarakat Sasak.
Kesimpulan
Pemerintah pusat bersama pemerintah daerah dan masyarakat adat menyiapkan langkah rekonstruksi Desa Adat Sade setelah kebakaran menghanguskan 129 rumah. Pembahasan teknis pembangunan kembali akan dilakukan bersama kementerian terkait, sementara dukungan pembiayaan bagi pelaku UMKM juga akan dibicarakan bersama Menteri Keuangan.
Pemulihan kawasan tersebut menjadi penting karena kebakaran berdampak langsung terhadap kehidupan sosial, tempat tinggal, serta ekonomi masyarakat. Ke depan, pembangunan kembali Desa Adat Sade diharapkan dapat berlangsung cepat tanpa menghilangkan identitas budaya dan nilai warisan leluhur masyarakat Sasak.
Sumber: Cnnindonesia



Post Comment