Pemerintah Targetkan Cadangan Operasional Energi Nasional Naik Menjadi 30 Hari

Pemerintah berupaya memperkuat ketahanan energi nasional dengan meningkatkan cadangan operasional energi, termasuk Bahan Bakar Minyak (BBM). Cadangan yang saat ini rata-rata mampu memenuhi kebutuhan selama sekitar 21 hari ditargetkan meningkat menjadi minimal 30 hari.

Langkah tersebut disiapkan untuk menghadapi potensi gangguan pasokan energi global yang dapat dipicu oleh ketidakpastian geopolitik dan gangguan pada rantai pasok internasional. Pemerintah menilai peningkatan cadangan menjadi salah satu upaya penting untuk menjaga stabilitas pasokan energi di dalam negeri.

Cadangan Energi Ditargetkan Mencapai 30 Hari

Wakil Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Yuliot Tanjung mengatakan, pemerintah sedang berupaya meningkatkan ketahanan cadangan operasional energi nasional. Menurutnya, kapasitas cadangan saat ini masih berada di rata-rata 21 hari.

“Dari cadangan secara nasional saat ini kita rata-rata sekitar 21 hari, kita berusaha untuk meningkatkan cadangan operasional menjadi minimal sekitar 30 hari,” ujar Yuliot dalam acara Indo EBTKE ConEx and Exhibition 2026 di JiExpo Kemayoran, Rabu (2/9).

Peningkatan cadangan tersebut diharapkan dapat memberikan ruang yang lebih besar bagi Indonesia apabila terjadi hambatan distribusi atau gangguan pasokan energi dari luar negeri. Dengan cadangan yang lebih memadai, ketahanan energi nasional diharapkan menjadi lebih kuat dibandingkan sebelumnya.

Antisipasi Dampak Konflik Geopolitik

Yuliot menjelaskan, penguatan cadangan energi menjadi semakin penting karena konflik geopolitik masih berlangsung di sejumlah wilayah. Ia menyinggung konflik antara Amerika Serikat dan Iran serta perang Rusia-Ukraina yang belum berakhir.

Konflik tersebut dinilai berpotensi mengganggu pasokan energi dan memengaruhi rantai pasok global. Karena itu, pemerintah perlu menyiapkan langkah antisipasi agar kebutuhan energi nasional tetap dapat dipenuhi ketika terjadi gangguan pasokan.

“Jadi kalaupun itu ada gangguan-gangguan terhadap pasokan, jadi ini kita juga bisa ketahanan energi kita lebih kuat dibandingkan dengan sebelumnya,” jelas Yuliot.

Dampak terhadap Anggaran Negara

Menurut Yuliot, konflik di kawasan Timur Tengah tidak hanya berpotensi mendorong kenaikan harga energi. Kondisi tersebut juga dapat meningkatkan kebutuhan anggaran negara karena pemerintah harus menanggung subsidi dan kompensasi energi.

Subsidi dan kompensasi tersebut mencakup sejumlah komoditas dan layanan energi, seperti BBM, listrik, serta LPG. Apabila harga energi global meningkat, tekanan terhadap anggaran negara juga dapat bertambah.

Oleh sebab itu, pemerintah tidak hanya berfokus pada peningkatan cadangan operasional. Upaya lain yang dilakukan adalah meningkatkan produksi energi domestik dan mengurangi ketergantungan terhadap impor.

Produksi Minyak dan Gas Domestik Didorong

Pemerintah menargetkan produksi minyak nasional meningkat dari sekitar 600 ribu barel per hari saat ini menjadi sekitar 1 juta barel per hari pada 2030. Selain minyak, produksi gas juga ditargetkan mencapai sekitar 12 miliar kaki kubik per hari.

Peningkatan produksi dalam negeri diharapkan dapat memperkuat ketersediaan energi nasional. Kebijakan ini juga menjadi bagian dari strategi pemerintah untuk mengurangi ketergantungan pada pasokan dari luar negeri.

Dengan produksi domestik yang lebih tinggi, Indonesia diharapkan memiliki kemampuan yang lebih baik dalam memenuhi kebutuhan energi sekaligus menghadapi perubahan kondisi pasar energi global.

Dorong Biodiesel dan Penggunaan CNG

Selain minyak dan gas, pemerintah juga mendorong pengembangan energi alternatif, termasuk pemanfaatan bahan bakar nabati. Implementasi biodiesel B50 telah berjalan pada 2026, sedangkan penerapan B60 sedang disiapkan untuk tahun depan.

Kebijakan tersebut menjadi bagian dari upaya pemerintah untuk memperluas penggunaan sumber energi alternatif. Pemanfaatan bahan bakar nabati diharapkan dapat mendukung ketahanan energi sekaligus mengurangi ketergantungan terhadap sumber energi tertentu.

Pemerintah juga mendorong penggunaan compressed natural gas (CNG) sebagai substitusi LPG. Menurut Yuliot, ketersediaan CNG di dalam negeri dinilai cukup untuk mendukung kebijakan tersebut.

Penggunaan CNG sebagai pengganti LPG diharapkan dapat mengurangi ketergantungan Indonesia terhadap impor LPG. Selain itu, pemerintah juga mendorong pemanfaatan sumber energi lain sebagai bagian dari pengembangan energi bersih.

Kesimpulan

Pemerintah menargetkan peningkatan cadangan operasional energi nasional dari rata-rata 21 hari menjadi minimal 30 hari. Target ini disiapkan untuk memperkuat ketahanan energi Indonesia dalam menghadapi potensi gangguan pasokan akibat konflik geopolitik dan ketidakpastian rantai pasok global.

Upaya tersebut berjalan bersamaan dengan peningkatan produksi minyak dan gas domestik, pengembangan biodiesel B50 dan B60, serta pemanfaatan CNG untuk mengurangi ketergantungan terhadap impor LPG. Ke depan, penguatan cadangan energi dan diversifikasi sumber energi akan menjadi bagian penting dalam menjaga keberlanjutan pasokan serta mengurangi tekanan terhadap anggaran negara.

Sumber: Cnnindonesia

Post Comment