5 Pola Asuh Era 1990-an yang Sebaiknya Tidak Diwariskan kepada Gen Alpha
Era 1990-an kerap dikenang sebagai masa yang seru, bebas, dan penuh nostalgia. Generasi X dan milenial mengingat masa tersebut sebagai periode ketika anak-anak dapat bermain bersama teman, menikmati hiburan tanpa ponsel pintar, serta menjalani keseharian yang belum dipengaruhi media sosial.
Kenangan itu membuat sebagian orang tua ingin memperkenalkan nuansa masa kecil mereka kepada generasi Alpha. Namun, tidak semua kebiasaan dan pola pikir dari masa lalu layak diteruskan. Sejumlah hal yang dahulu dianggap biasa justru berisiko memengaruhi keamanan, kepercayaan diri, serta kestabilan emosi anak.
Karena itu, orang tua perlu memilah pengalaman masa lalu secara bijak. Nilai positif seperti kemandirian dan kebebasan tetap dapat dikenalkan, tetapi harus disesuaikan dengan kebutuhan anak dan kondisi masa kini.
Pola Asuh Era 1990-an yang Sebaiknya Ditinggalkan
1. Membiarkan anak bermain tanpa pengawasan
Banyak orang merindukan masa kecil ketika anak-anak bermain bebas bersama teman dan baru pulang saat matahari terbenam atau ketika sudah waktunya salat Magrib. Gambaran tersebut sering dianggap sebagai bukti bahwa anak-anak era 1990-an lebih mandiri dan kreatif.
Namun, kebebasan tanpa pengawasan tidak selalu aman bagi setiap anak. Mengutip laman Parents, tidak semua anak tinggal di lingkungan yang memungkinkan mereka berkeliaran di luar rumah tanpa pendampingan. Dalam kondisi tertentu, hal tersebut justru dapat dikategorikan sebagai kurangnya pengawasan.
Gen Alpha tetap perlu diberi ruang untuk bermain dan belajar mandiri. Akan tetapi, kebebasan tersebut sebaiknya disertai rasa aman, batasan yang jelas, serta pendampingan dari orang tua.
2. Menganggap komentar tentang tubuh sebagai hal sepele
Pada era 1990-an, komentar mengenai bentuk tubuh, berat badan, atau penampilan sering dianggap sebagai candaan biasa. Tidak jarang komentar semacam itu disampaikan oleh orang dewasa, termasuk anggota keluarga maupun guru.
Padahal, ucapan yang terdengar sederhana dapat melekat lama dalam pikiran anak dan memengaruhi rasa percaya diri mereka. Di masa kini, anak-anak juga menghadapi perbandingan penampilan melalui media sosial. Karena itu, komentar negatif mengenai tubuh berpotensi menambah tekanan yang sudah mereka rasakan.
Orang tua sebaiknya menghindari kebiasaan menjadikan fisik anak sebagai bahan komentar. Dengan begitu, anak dapat tumbuh tanpa tekanan tambahan yang berhubungan dengan penampilan.
3. Menormalisasi perundungan
Dahulu, anak yang mengalami perundungan kerap diminta untuk “tahan saja”, “lawan saja”, atau “jangan manja”. Perundungan seolah dianggap sebagai pengalaman yang harus dilewati semua orang ketika tumbuh besar.
Pandangan tersebut sebaiknya tidak diwariskan. Perundungan dapat meninggalkan luka psikologis yang panjang dan dampaknya bisa terbawa hingga dewasa. Di era digital, perundungan juga dapat berlangsung lebih intens melalui ruang maya.
Anak yang mengalami perundungan perlu didengarkan dan mendapatkan bantuan. Menganggap masalah tersebut sebagai sesuatu yang wajar justru dapat membuat anak merasa sendirian dalam menghadapi situasi yang dialaminya.
4. Mengajarkan anak untuk memendam emosi
Banyak anak yang tumbuh pada era 1990-an menerima pesan bahwa mereka harus selalu kuat, tidak boleh terlalu sedih, dan tidak perlu banyak membicarakan perasaan. Akibatnya, emosi sering dipendam dan baru disadari dampaknya ketika mereka telah dewasa.
Saat ini, pembicaraan mengenai kesehatan mental sudah lebih terbuka. Anak perlu memahami bahwa menangis, bercerita, dan meminta bantuan bukanlah tanda kelemahan. Hal tersebut justru dapat menjadi cara yang sehat untuk mengelola emosi.
Orang tua perlu mengenalkan keterampilan untuk mengenali dan mengungkapkan perasaan sejak dini. Pendekatan ini diharapkan membantu Gen Alpha tumbuh dengan kondisi emosi yang lebih stabil.
5. Membiarkan anak mengonsumsi budaya pop tanpa panduan
Menurut Romper, banyak orang tua pada era 1990-an belum terlalu memperhatikan peringatan usia atau parental guide dalam film, lagu, dan berbagai bentuk budaya pop.
Akibatnya, anak-anak dapat menonton film untuk orang dewasa atau menyanyikan lagu dengan lirik yang belum sesuai dengan usia mereka, termasuk lirik yang memiliki konotasi seksual. Pada masa itu, akses terhadap informasi memang belum semudah sekarang.
Kondisinya kini berbeda. Orang tua dapat memeriksa lirik lagu secara daring dan memanfaatkan aplikasi parental control. Sejumlah platform besar juga telah menyediakan pilihan pengawasan tersebut. Dengan demikian, konsumsi budaya pop oleh anak dapat dipantau lebih baik.
Memilih Nilai Masa Lalu Secara Bijak
Tidak semua hal dari era 1990-an harus dihapus atau dilupakan. Kebebasan bermain, kesempatan berinteraksi dengan teman, dan pengalaman menjalani masa kecil tanpa ponsel pintar tetap dapat menjadi kenangan yang bermakna.
Namun, orang tua perlu membedakan antara nilai positif dan kebiasaan yang berisiko. Kebebasan harus diimbangi keamanan, candaan tidak boleh merendahkan tubuh, perundungan tidak boleh dinormalisasi, emosi tidak seharusnya dipendam, dan hiburan anak perlu disesuaikan dengan usianya.
Kesimpulan
Era 1990-an memang memiliki banyak sisi yang indah untuk dikenang. Meski demikian, beberapa pola asuh pada masa tersebut sebaiknya tidak diteruskan kepada Gen Alpha, terutama kebiasaan membiarkan anak tanpa pengawasan, mengomentari tubuh, menormalisasi perundungan, menekan emosi, serta mengabaikan panduan usia dalam budaya pop.
Orang tua masa kini perlu mengambil pelajaran dari masa lalu tanpa menyalin seluruh kebiasaannya. Dengan memilih hal yang masih relevan dan meninggalkan pola yang berisiko, warisan antargenerasi dapat berupa kebijaksanaan, bukan kebiasaan buruk.
Sumber: Cnnindonesia



Post Comment