Bayi Sering Memasukkan Benda ke Mulut? Ini Cara Menjaga Keamanannya

Melihat bayi atau balita memasukkan berbagai benda ke dalam mulut merupakan hal yang umum bagi banyak orang tua. Mainan, ujung kain, jari, hingga benda yang ditemukan di lantai dapat langsung dicoba dengan cara digigit atau dimasukkan ke mulut. Perilaku ini bukan semata-mata kebiasaan yang harus selalu dilarang, melainkan bagian dari proses anak mengenali lingkungan di sekitarnya.

Melalui mulut, anak belajar mengenali tekstur, bentuk, serta karakteristik benda. Penelitian yang dipublikasikan dalam jurnal Pediatrics juga menyebutkan bahwa mouthing merupakan perilaku normal pada anak usia dini. Meski demikian, orang tua tetap perlu memastikan benda dan lingkungan sekitar anak aman untuk dieksplorasi.

Risiko utama yang perlu diperhatikan adalah tersedak atau cedera apabila anak memasukkan benda berbahaya ke dalam mulut. Karena itu, langkah yang penting bukan melarang setiap perilaku anak, melainkan mencegah benda yang berisiko masuk ke mulutnya.

Jauhkan Benda-Benda Kecil dari Jangkauan Anak

Langkah paling sederhana untuk menjaga keselamatan bayi dan balita adalah memastikan benda berukuran kecil tidak mudah ditemukan. Mengutip American Academy of Pediatrics (AAP), anak kecil memiliki risiko tersedak lebih tinggi karena masih sering mengeksplorasi benda dengan cara memasukkannya ke mulut.

Saluran napas anak juga masih berukuran kecil. Akibatnya, benda yang terlihat sepele bagi orang dewasa dapat menjadi berbahaya bagi bayi atau balita. Orang tua sebaiknya memeriksa area yang sering digunakan anak untuk bermain, termasuk lantai, kolong furnitur, dan sela sofa.

Benda seperti baterai, kancing, dan magnet kecil perlu mendapat perhatian khusus. Jika tertelan, benda-benda tersebut dapat menyebabkan cedera serius pada tubuh anak. Oleh sebab itu, benda berukuran kecil sebaiknya tidak diletakkan di area yang mudah dijangkau.

Pilih Mainan Sesuai Usia Anak

Tidak semua mainan cocok diberikan kepada setiap kelompok usia. Orang tua perlu memperhatikan label usia yang tercantum pada kemasan. Pilih mainan yang tidak memiliki bagian kecil atau komponen yang mudah terlepas.

AAP juga menyarankan agar bagian mainan yang diberikan kepada anak kecil berukuran lebih besar daripada mulutnya. Mainan perlu diperiksa secara berkala untuk memastikan tidak ada bagian yang retak, patah, atau terlepas.

Periksa Kondisi Teether secara Berkala

Pada masa tumbuh gigi, anak mungkin semakin sering memasukkan benda ke dalam mulut. Orang tua dapat menyediakan teether atau mainan yang memang dibuat untuk digigit dan sesuai dengan usia anak.

Pastikan teether atau mainan tersebut tidak memiliki bagian kecil yang mudah terlepas. Kondisinya juga perlu diperiksa secara rutin. Jika sudah retak, robek, atau rusak, benda tersebut sebaiknya tidak lagi diberikan kepada anak.

Ganti Benda Berbahaya dengan Benda yang Aman

Ketika anak memasukkan benda ke mulut, orang tua mungkin spontan berkata, “Jangan dimasukkan ke mulut!” Sesekali memberikan larangan tentu tidak masalah. Namun, bayi dan balita masih berada dalam tahap perkembangan kemampuan mengendalikan perilaku.

Alih-alih terus-menerus melarang, orang tua dapat mengambil benda yang berbahaya dan menggantinya dengan benda yang aman. Cara ini membantu anak belajar membedakan benda yang boleh dan tidak boleh dimasukkan ke mulut, sekaligus tetap memberi ruang untuk bereksplorasi.

Awasi Anak saat Bermain dan Makan

Pengawasan tetap penting, terutama ketika anak bermain dengan banyak benda atau sedang makan. Orang tua tidak harus terus-menerus memegang anak, tetapi sebaiknya berada cukup dekat agar dapat segera mengambil benda berbahaya apabila anak memasukkannya ke mulut.

Makanan yang diberikan juga perlu diperhatikan. Bentuk dan ukuran makanan tertentu dapat meningkatkan risiko tersedak pada anak kecil. Karena itu, makanan perlu disiapkan dengan bentuk dan ukuran yang sesuai dengan kemampuan anak.

Jangan Panik saat Anak Memasukkan Benda ke Mulut

Jika anak baru memasukkan benda ke mulut tetapi belum menelannya, orang tua dapat mengeluarkan benda tersebut dengan tenang selama masih mudah dijangkau. Hindari membuat anak panik. Ketika anak menangis atau bergerak tiba-tiba, benda justru dapat masuk lebih dalam dan meningkatkan risiko tersedak.

Apabila anak mengalami kesulitan bernapas, tidak dapat menangis atau batuk secara efektif, atau menunjukkan tanda-tanda tersedak, segera berikan pertolongan pertama sesuai kondisi dan cari bantuan medis.

Kesimpulan

Memasukkan benda ke mulut merupakan bagian dari perkembangan bayi dan balita. Perilaku ini membantu anak mengenali tekstur, bentuk, serta karakteristik benda di sekitarnya. Oleh karena itu, orang tua tidak perlu langsung panik atau melarang setiap kali anak melakukan hal tersebut.

Hal yang lebih penting adalah menciptakan lingkungan yang aman dengan menjauhkan benda kecil, memilih mainan sesuai usia, memeriksa kondisi mainan, menyediakan teether yang aman, serta melakukan pengawasan saat anak bermain dan makan. Dengan pendekatan yang tenang dan tepat, anak tetap dapat mengeksplorasi dunia di sekitarnya tanpa menghadapi risiko tersedak maupun cedera yang sebenarnya dapat dicegah.

Sumber: Cnnindonesia

Post Comment