Cara Membedakan Gejala Asam Lambung dan Limfoma Menurut Dokter
Gejala awal limfoma atau kanker kelenjar getah bening terkadang dapat menyerupai gangguan asam lambung. Hal ini membuat sebagian orang mengira keluhan yang dialaminya hanya berkaitan dengan GERD atau masalah pencernaan biasa. Padahal, pola gejala dan keluhan yang menyertainya dapat memberikan petunjuk mengenai kondisi yang perlu diperiksa lebih lanjut.
Seorang penyintas limfoma pernah menceritakan bahwa gejala awal yang dialaminya semula diduga sebagai asam lambung. Setelah menjalani pemeriksaan, keluhan tersebut ternyata berkaitan dengan limfoma. Lantas, bagaimana cara membedakan gejala asam lambung biasa dengan gejala yang mengarah pada kanker kelenjar getah bening?
Gejala Asam Lambung dan Limfoma Tidak Selalu Mudah Dibedakan
Dokter spesialis penyakit dalam Ario Perbowo Putra mengatakan, gejala asam lambung dan limfoma tidak selalu dapat dibedakan hanya berdasarkan keluhan yang dirasakan pasien. Namun, pola munculnya gejala serta kondisi lain yang menyertai dapat menjadi petunjuk awal.
“Tidak selalu dapat dibedakan hanya berdasarkan keluhan, tetapi polanya dapat memberikan petunjuk,” kata Ario kepada CNNIndonesia.com, Kamis (27/8).
Menurut Ario, terdapat sejumlah karakteristik yang lebih sering mengarah pada GERD atau asam lambung. Di sisi lain, beberapa keluhan tertentu perlu diwaspadai karena dapat mengarah pada masalah kelenjar getah bening, terutama jika berlangsung menetap atau semakin memburuk.
Ciri yang Lebih Mengarah pada GERD atau Asam Lambung
Keluhan yang lebih sesuai dengan GERD atau asam lambung biasanya berkaitan dengan sensasi panas dan naiknya isi lambung ke arah kerongkongan. Beberapa gejala yang dapat muncul antara lain:
- Rasa panas yang berasal dari ulu hati dan menjalar ke dada.
- Rasa asam atau pahit yang naik ke mulut.
- Keluhan memburuk setelah makan dalam jumlah banyak atau ketika berbaring.
- Gejala menjadi lebih berat setelah mengonsumsi makanan tertentu yang menjadi pemicu.
- Keluhan biasanya membaik setelah dilakukan perubahan pola makan atau penggunaan obat lambung.
- Tidak terdapat pembesaran kelenjar getah bening.
Pola tersebut dapat menjadi petunjuk awal, tetapi tidak dapat digunakan sebagai dasar untuk memastikan diagnosis. Pemeriksaan langsung tetap diperlukan apabila keluhan menetap atau tidak membaik.
Gejala yang Perlu Diwaspadai sebagai Limfoma
Berbeda dari keluhan asam lambung, limfoma dapat disertai sejumlah tanda lain di luar gangguan pencernaan. Kondisi yang perlu dicurigai antara lain munculnya benjolan yang menetap atau bertambah besar, terutama jika benjolan tersebut tidak menimbulkan rasa nyeri.
Selain itu, beberapa gejala yang perlu diperhatikan meliputi:
- Demam yang berulang tanpa penyebab yang jelas.
- Keringat malam yang berlebihan.
- Penurunan berat badan tanpa disengaja.
- Sesak napas atau batuk.
- Cepat merasa kenyang.
- Nyeri yang semakin progresif.
- Keluhan tetap bertahan meskipun telah mendapatkan terapi lambung yang memadai.
Adanya satu atau beberapa gejala tersebut tidak serta-merta berarti seseorang mengalami limfoma. Namun, keluhan yang berlangsung terus-menerus, semakin berat, atau disertai benjolan perlu mendapatkan perhatian dan pemeriksaan medis.
Kapan Harus Memeriksakan Diri?
Ario menegaskan bahwa respons tubuh terhadap obat lambung tidak dapat digunakan untuk memastikan seseorang mengalami limfoma atau tidak. Karena itu, pasien tidak disarankan menjadikan membaiknya keluhan setelah minum obat lambung sebagai satu-satunya patokan.
“Bila ada benjolan yang menetap lebih dari sekitar 2-4 minggu, terus membesar, terasa keras atau melekat, disertai gejala sistemik, atau keluhan tidak membaik, pasien perlu diperiksa langsung,” ujarnya.
Pemeriksaan dapat dilakukan melalui pemeriksaan fisik dan sejumlah pemeriksaan penunjang sesuai indikasi. Pemeriksaan tersebut dapat mencakup pemeriksaan darah lengkap, ultrasonografi atau USG, foto toraks, hingga CT scan.
Untuk memastikan limfoma, diagnosis umumnya memerlukan biopsi jaringan kelenjar. Sampel jaringan tersebut kemudian diperiksa melalui patologi anatomi untuk membantu memastikan adanya limfoma.
Gejala Berat Memerlukan Pertolongan Segera
Pasien perlu segera mendapatkan pertolongan apabila mengalami gejala berat. Kondisi yang perlu diwaspadai meliputi sesak berat, kesulitan bernapas ketika berbaring, pembengkakan pada wajah atau leher, nyeri dada berat, serta penurunan kesadaran.
Menurut Ario, tanda-tanda tersebut dapat menunjukkan adanya penekanan terhadap struktur penting di rongga dada. Oleh sebab itu, pemeriksaan sebaiknya tidak ditunda ketika gejala berat mulai muncul.
Kesimpulan
Gejala asam lambung dan limfoma dapat memiliki kemiripan sehingga tidak selalu mudah dibedakan hanya dari keluhan. Sensasi panas dari ulu hati ke dada, rasa asam atau pahit di mulut, serta keluhan yang memburuk setelah makan atau berbaring lebih mengarah pada GERD. Sementara itu, benjolan yang menetap atau membesar, demam berulang, keringat malam, penurunan berat badan, dan keluhan yang tidak membaik perlu diwaspadai sebagai tanda yang membutuhkan pemeriksaan lebih lanjut.
Ke depan, kewaspadaan terhadap pola gejala dan pemeriksaan medis yang tepat menjadi hal penting untuk membantu menentukan penyebab keluhan. Diagnosis limfoma tidak dapat dipastikan hanya berdasarkan gejala atau respons terhadap obat lambung, melainkan memerlukan pemeriksaan dokter dan, bila diperlukan, biopsi jaringan.
Sumber: Cnnindonesia



Post Comment