Cara Menghadapi Anak yang Suka Memukul Tanpa Kekerasan
Melihat anak memukul orang lain dapat membuat orang tua terkejut, khawatir, dan bingung menentukan respons yang tepat. Kekhawatiran tersebut biasanya semakin besar ketika perilaku memukul mulai sering terjadi, terutama jika orang tua takut anak terbiasa menggunakan kekerasan saat marah, kecewa, atau tidak mendapatkan sesuatu yang diinginkannya.
Pada usia tertentu, memukul bisa menjadi salah satu cara anak meluapkan emosi yang belum mampu disampaikan melalui kata-kata. Anak masih belajar mengenali rasa marah, frustrasi, dan kecewa. Mereka juga masih berproses untuk mengendalikan dorongan agar tidak langsung bertindak ketika menghadapi situasi yang tidak menyenangkan.
Meski demikian, perilaku memukul tetap perlu diberi batas yang jelas. Orang tua dapat membantu anak memahami bahwa emosi boleh dirasakan, tetapi kekerasan bukan cara yang tepat untuk melampiaskannya.
Berikan Batas dengan Tenang dan Tegas
Ketika anak memukul, orang tua perlu segera memberikan arahan yang singkat, jelas, dan tenang. Sampaikan bahwa memukul bukan perilaku yang diperbolehkan. Orang tua tidak perlu berteriak, mengancam, atau mempermalukan anak di depan orang lain.
Respons yang tenang membantu orang tua menunjukkan batas perilaku sekaligus memberi contoh mengenai cara menghadapi emosi tanpa kekerasan. Anak dapat belajar bahwa kemarahan tidak harus dibalas dengan tindakan agresif.
Pedoman pengasuhan dari Organisasi Kesehatan Dunia atau WHO juga menekankan pentingnya aturan yang jelas, arahan positif, serta disiplin tanpa kekerasan dalam pengasuhan anak. Karena itu, membalas pukulan anak dengan pukulan bukan cara yang tepat untuk mengajarkan disiplin.
Hindari Hukuman Fisik
Hukuman fisik tidak memberikan manfaat bagi anak dan justru berkaitan dengan sejumlah dampak negatif, termasuk peningkatan agresivitas dan perilaku bermasalah. Anak juga belajar melalui apa yang dilihatnya dari orang-orang di sekitar.
Jika orang tua menggunakan kekerasan ketika marah, anak dapat menangkap pesan bahwa memukul merupakan cara yang bisa digunakan untuk menghadapi sesuatu yang tidak disukai. Oleh sebab itu, orang tua perlu berusaha tetap tenang saat memberikan batas, meskipun situasi sedang berlangsung dengan sulit.
Bantu Anak Mengenali Emosinya
Setelah anak mulai tenang, orang tua dapat membantunya memahami perasaan yang sedang muncul. Marah, kecewa, dan frustrasi merupakan emosi yang wajar. Namun, tidak semua tindakan boleh dilakukan untuk melampiaskan emosi tersebut.
Orang tua dapat membantu dengan memberi nama pada emosi anak dan menawarkan cara lain untuk mengungkapkannya. Misalnya, orang tua dapat mengatakan, “Kalau marah, bilang, ‘Mama, aku tidak suka.’ Kamu juga bisa panggil Mama. Tangannya tidak untuk memukul.”
Anak tidak cukup hanya diberi tahu untuk tidak memukul. Mereka juga perlu mengetahui tindakan yang dapat dilakukan saat marah atau kecewa. Orang tua bisa mengajarkan anak untuk mengatakan perasaannya, meminta bantuan, menjauh sejenak dari situasi yang membuatnya marah, atau menggunakan cara lain yang sesuai dengan usianya untuk menenangkan diri.
Pendekatan Pengasuhan yang Konsisten
Pendekatan tersebut sejalan dengan parent management training, yaitu metode yang membantu orang tua mengubah pola interaksi dengan anak, memberikan arahan yang jelas, serta memperkuat perilaku yang diharapkan. Pendekatan pengasuhan berbasis bukti juga menekankan pentingnya komunikasi, regulasi emosi, pemecahan masalah, dan hubungan positif antara orang tua dengan anak.
Studi dalam Journal of the American Academy of Child & Adolescent Psychiatry menunjukkan bahwa pendekatan tersebut memiliki bukti yang kuat dalam menangani agresivitas dan perilaku disruptif pada anak.
Berikan Penguatan Positif
Orang tua sebaiknya tidak hanya memperhatikan anak ketika melakukan kesalahan. Perhatian juga perlu diberikan ketika anak berhasil merespons situasi dengan cara yang lebih baik.
Misalnya, ketika anak merasa kesal tetapi memilih berbicara daripada memukul, orang tua dapat memberikan pujian sederhana seperti, “Tadi kamu marah, tetapi kamu mau bilang. Itu bagus.”
Penguatan positif atau positive reinforcement membantu anak memahami perilaku yang diharapkan dan mendorongnya untuk mengulangi perilaku tersebut. Pujian dapat diberikan ketika anak mampu menyampaikan perasaan, meminta bantuan, atau menenangkan diri tanpa menggunakan kekerasan.
Kenali Pemicu Perilaku Memukul
Orang tua juga perlu mengamati situasi yang biasanya memicu perilaku memukul. Perilaku tersebut dapat muncul ketika anak:
- lelah atau lapar;
- mainannya diambil;
- kalah saat bermain;
- diminta berhenti bermain;
- berebut dengan saudara; atau
- sedang mencari perhatian.
Mengetahui pemicu dapat membantu orang tua mengantisipasi situasi sekaligus mengajarkan respons yang lebih tepat. Batas tetap perlu diberikan, tetapi dengan cara yang tidak menggunakan kekerasan. Konsistensi juga penting agar anak memahami bahwa aturan tersebut berlaku dalam berbagai situasi.
Kesimpulan
Menghadapi anak yang suka memukul membutuhkan ketenangan, batas yang jelas, dan konsistensi. Orang tua perlu menegaskan bahwa memukul tidak diperbolehkan, tanpa membalas dengan kekerasan atau mempermalukan anak.
Di sisi lain, anak perlu dibantu untuk mengenali emosinya dan mempelajari cara yang lebih tepat untuk menyampaikan kemarahan atau kekecewaan. Memberikan pujian ketika anak berhasil berbicara atau meminta bantuan juga dapat memperkuat perilaku positif. Dengan pendampingan yang konsisten dan hubungan yang positif, anak diharapkan semakin mampu mengelola emosi serta merespons masalah tanpa menggunakan kekerasan.
Sumber: Cnnindonesia



Post Comment