Erupsi Gunung Anak Krakatau: Waspadai Abu Vulkanik dan Risiko Silikosis

Erupsi Gunung Anak Krakatau dalam beberapa hari terakhir membuat masyarakat, khususnya di Jakarta dan sebagian wilayah Jawa Barat, perlu meningkatkan kewaspadaan terhadap paparan abu vulkanik. Partikel abu yang terbawa angin dapat bergerak hingga wilayah yang cukup jauh dari sumber erupsi. Kondisi tersebut berpotensi mengganggu saluran pernapasan, terutama apabila abu terhirup dalam konsentrasi tinggi.

Selain menyebabkan iritasi dan batuk, abu vulkanik juga kerap dikaitkan dengan risiko silikosis karena dapat mengandung silika. Namun, paparan abu selama beberapa hari tidak serta-merta membuat seseorang mengalami penyakit tersebut. Risiko silikosis dipengaruhi oleh berbagai faktor, mulai dari ukuran partikel, kandungan silika kristalin, konsentrasi abu di udara, hingga lama dan intensitas paparan.

Apa Itu Silikosis?

Dikutip dari Cleveland Clinic, silikosis merupakan penyakit paru yang terjadi akibat menghirup debu yang mengandung silika secara berulang atau dalam jumlah cukup tinggi. Silika atau silikon dioksida adalah mineral yang secara alami terdapat pada batuan, pasir, tanah, serta sejumlah material lainnya.

Silika tidak berbahaya ketika tertelan. Namun, partikel debu silika tertentu dapat menimbulkan kerusakan apabila masuk dan mengendap di dalam sistem pernapasan. Silikosis umumnya dikenal sebagai penyakit yang berhubungan dengan paparan debu silika secara terus-menerus di lingkungan kerja.

Sejumlah pekerjaan yang sering dikaitkan dengan risiko silikosis antara lain pertambangan, konstruksi, penggalian, pemotongan batu, sandblasting, serta industri keramik dan kaca. Pekerja di bidang tersebut dapat terpapar debu silika dalam jangka panjang.

Bagaimana Abu Vulkanik Memengaruhi Paru-paru?

Berdasarkan informasi US Geological Survey (USGS), partikel abu vulkanik dengan ukuran kurang dari 4 mikrometer dapat masuk hingga ke alveolus atau kantung udara di paru-paru. Partikel yang sangat halus tersebut dapat terhirup lebih jauh dibandingkan partikel berukuran lebih besar.

Apabila abu mengandung silika kristalin bebas dalam jumlah yang cukup, paparan jangka panjang dapat menjadi perhatian karena silika berpotensi memicu kerusakan paru. Partikel silika yang menetap dalam paru dalam waktu lama dapat menyebabkan terbentuknya jaringan parut atau fibrosis.

Praktisi kesehatan RS Paru Persahabatan, Prof Dr dr Agus Dwi Susanto, SpP(K), menjelaskan bahwa partikel debu yang mengandung silika dapat terdeposit di paru selama berbulan-bulan hingga bertahun-tahun. Kondisi tersebut dapat memicu fibrosis. Kekakuan pada paru akibat fibrosis inilah yang disebut sebagai silikosis.

Fibrosis membuat jaringan paru menjadi kaku sehingga kemampuan paru untuk bekerja secara optimal dapat terganggu. Oleh sebab itu, paparan debu yang mengandung silika secara terus-menerus perlu diwaspadai, terutama dalam kondisi dengan konsentrasi abu tinggi dan kandungan silika yang besar.

Apakah Paparan Abu Vulkanik Langsung Menyebabkan Silikosis?

Abu vulkanik memang dapat mengandung silika, tetapi bukan berarti setiap orang yang terpapar abu otomatis mengalami silikosis. Risiko penyakit tersebut tidak hanya ditentukan oleh keberadaan silika, tetapi juga oleh ukuran partikel, kandungan silika kristalin dalam abu, konsentrasi paparan, serta durasi dan intensitas seseorang menghirup abu.

USGS menyebutkan bahwa erupsi yang menghasilkan abu sangat halus dengan kandungan silika tinggi merupakan kondisi yang paling berpotensi menimbulkan risiko terhadap paru-paru. Meski demikian, silikosis pada umumnya berkembang akibat paparan debu silika dalam jangka panjang.

Cleveland Clinic menyatakan bahwa silikosis kronis biasanya berkembang setelah seseorang terpapar debu yang dapat terhirup selama lebih dari 10 tahun. Pada paparan yang lebih berat, kerusakan paru dapat berkembang lebih cepat. Karena itu, masyarakat yang terpapar abu vulkanik selama beberapa hari tidak perlu langsung menyimpulkan bahwa dirinya mengalami silikosis.

Gangguan yang Lebih Mungkin Terjadi dalam Jangka Pendek

Dalam jangka pendek, abu vulkanik lebih mungkin menimbulkan iritasi pada saluran pernapasan. Partikel yang mengendap di hidung dan tenggorokan dapat menyebabkan rasa tidak nyaman pada bagian tersebut. Sementara itu, partikel yang masuk lebih jauh ke saluran pernapasan dapat memicu batuk atau memperburuk kondisi seperti asma dan bronkitis.

Paparan abu dalam konsentrasi tinggi juga dapat menyebabkan peningkatan batuk, rasa tidak nyaman di dada, serta iritasi pada orang yang sebelumnya tidak memiliki gangguan kesehatan tertentu. Dampak tersebut perlu diperhatikan, terutama ketika kualitas udara dipenuhi abu vulkanik.

Cara Mengurangi Paparan Abu Vulkanik

Masyarakat disarankan sebisa mungkin mengurangi paparan abu vulkanik. Ketika harus beraktivitas di luar ruangan, gunakan masker dan pastikan pemakaiannya dilakukan secara tepat. Langkah ini penting untuk membantu mengurangi jumlah partikel abu yang terhirup.

Aktivitas di luar rumah juga sebaiknya dikurangi apabila kondisi udara dipenuhi abu. Selain itu, pintu dan jendela perlu ditutup untuk mencegah abu masuk ke dalam rumah. Upaya tersebut dapat membantu membatasi paparan, terutama selama abu masih terbawa angin ke wilayah permukiman.

Kesimpulan

Erupsi Gunung Anak Krakatau dapat menyebabkan abu vulkanik terbawa angin hingga wilayah yang jauh dari sumber erupsi, termasuk Jakarta dan sebagian Jawa Barat. Abu tersebut dapat mengiritasi saluran pernapasan dan memicu batuk, sedangkan paparan silika dalam jangka panjang berpotensi menyebabkan fibrosis atau silikosis.

Namun, paparan abu selama beberapa hari tidak otomatis menyebabkan silikosis. Penyakit tersebut umumnya berkaitan dengan paparan debu silika secara berulang dan dalam jangka panjang. Ke depan, masyarakat tetap perlu mengurangi paparan dengan menggunakan masker, membatasi aktivitas di luar ruangan saat udara dipenuhi abu, serta menutup pintu dan jendela rumah.

Sumber: Cnnindonesia

Post Comment