IABI Dukung Penghentian Sementara Operasional Bandara akibat Abu Erupsi Gunung Anak Krakatau

Ikatan Ahli Bencana Indonesia (IABI) menilai keputusan penghentian sementara operasional sejumlah bandara yang terdampak erupsi Gunung Anak Krakatau merupakan langkah tepat. Kebijakan tersebut dinilai penting untuk menjaga keselamatan penerbangan karena abu vulkanik memiliki bahaya laten yang dapat mengganggu berbagai sistem pesawat, bahkan berisiko menyebabkan seluruh mesin mati saat pesawat berada di udara.

Anggota IABI, Daryono, menjelaskan bahwa abu vulkanik tidak sama dengan awan biasa. Material tersebut terdiri atas pecahan batuan mikroskopis, silika, serta kristal mineral tajam yang bersifat abrasif. Karena itu, keberadaan abu vulkanik di jalur penerbangan dapat menimbulkan ancaman serius bagi mesin, kaca kokpit, sensor, sistem komunikasi, hingga sirkulasi udara di dalam kabin.

Pelajaran dari Insiden British Airways Penerbangan 9

Untuk menggambarkan besarnya risiko abu vulkanik terhadap penerbangan, Daryono mengungkit insiden British Airways Penerbangan 9 pada 24 Juni 1982. Ketika itu, pesawat Boeing 747 melintasi awan abu akibat erupsi Gunung Galunggung di Jawa Barat pada ketinggian sekitar 37 ribu kaki.

Abu vulkanik yang masuk ke dalam empat mesin jet pesawat tersebut mengalami proses meleleh dan kemudian membeku pada bilah turbin. Kondisi itu memicu kegagalan pembakaran secara mendadak sehingga seluruh mesin pesawat berhenti beroperasi secara bersamaan.

Abu vulkanik silika yang terhisap ke dalam empat mesin jet Boeing 747 tersebut meleleh dan membeku di bilah turbin hingga memicu kegagalan pembakaran mendadak yang mematikan seluruh mesin secara bersamaan.

Pesawat tersebut sempat meluncur tanpa tenaga selama sekitar 16 menit dan menempuh jarak puluhan kilometer sebelum berhasil keluar dari paparan awan abu. Kapten pilot Eric Moody bersama kru kemudian dapat menyalakan kembali mesin setelah partikel abu yang meleleh mulai mendingin dan terlepas pada ketinggian yang lebih rendah.

Setelah itu, pesawat melakukan pendaratan darurat dengan selamat di Bandara Halim Perdanakusuma, Jakarta. Daryono juga menyebut kejadian serupa kembali terjadi tiga minggu kemudian pada pesawat Singapore Airlines.

Abu Vulkanik Berbeda dari Awan Biasa

Menurut Daryono, awan pada umumnya terbentuk dari tetesan air atau kristal es. Sementara itu, abu vulkanik tersusun dari fragmentasi batuan, kaca silika atau SiO2, serta mineral berukuran sangat kecil dengan ujung tajam. Karakteristik tersebut membuat abu vulkanik memiliki sifat sangat abrasif dan berpotensi merusak pesawat.

Saat pesawat bergerak dengan kecepatan tinggi, partikel abrasif dapat mengikis kaca kokpit hingga menjadi buram. Material tersebut juga berisiko merusak sensor kecepatan udara atau pitot tube, serta mengikis bilah turbin yang menjadi bagian penting dari mesin pesawat.

Risiko Terbesar Terjadi di Dalam Mesin

Ancaman paling serius muncul ketika abu vulkanik terhisap ke dalam mesin turbofan. Mesin pesawat beroperasi pada suhu ruang bakar sekitar 1.400 hingga 2.000 derajat Celsius, sedangkan titik leleh silika berada di kisaran 1.100 derajat Celsius.

Perbedaan suhu tersebut menyebabkan silika meleleh di dalam mesin. Material yang telah mencair kemudian dapat membentuk kerak kaca ketika mengalami pendinginan. Penumpukan kerak ini berpotensi menyumbat nosel aliran udara dan mengganggu aerodinamika bilah turbin.

Gangguan tersebut dapat menghentikan aliran udara dan menyebabkan pembakaran internal kehilangan daya secara total. Dengan demikian, abu vulkanik tidak hanya mengganggu kinerja mesin, tetapi juga dapat memicu kegagalan mesin secara bersamaan apabila pesawat melintasi konsentrasi abu yang cukup tinggi.

Gangguan Lain yang Ditimbulkan Abu Vulkanik

Selain kerusakan mekanis, gesekan antarpartikel abu halus yang bergerak dengan kecepatan tinggi dapat menimbulkan muatan listrik statis ekstrem. Kondisi ini berpotensi memunculkan fenomena St. Elmo’s Fire pada kaca kokpit dan mengganggu frekuensi radio.

Abu vulkanik juga memiliki sifat asam yang dapat menyebabkan korosi pada sejumlah komponen elektronik sensitif. Di sisi lain, material tersebut berpotensi mencemari sirkulasi udara di dalam kabin sehingga memperluas dampak erupsi terhadap keselamatan dan kenyamanan penerbangan.

IABI Dukung Penutupan Sementara Bandara

Dengan mempertimbangkan berbagai potensi bahaya tersebut, Daryono mendukung kebijakan otoritas penerbangan yang menghentikan sementara operasional sejumlah bandara terdampak erupsi Gunung Anak Krakatau.

Menurutnya, penghentian penerbangan untuk sementara merupakan keputusan yang tepat demi menjamin keselamatan penerbangan. Langkah tersebut menjadi bentuk pencegahan terhadap risiko masuknya abu vulkanik ke jalur penerbangan maupun ke dalam mesin pesawat.

Kesimpulan

Abu vulkanik akibat erupsi Gunung Anak Krakatau membawa risiko serius bagi penerbangan karena mengandung silika dan mineral tajam yang bersifat abrasif. Material tersebut dapat merusak kaca kokpit, sensor, bilah turbin, sistem komunikasi, komponen elektronik, hingga menyebabkan seluruh mesin pesawat kehilangan daya.

Pengalaman British Airways Penerbangan 9 menjadi pengingat bahwa paparan abu vulkanik dapat memicu keadaan darurat dalam penerbangan. Karena itu, penghentian sementara operasional bandara yang terdampak dinilai sebagai langkah keselamatan yang penting. Ke depan, keputusan pembatasan penerbangan tetap menjadi bagian penting selama ancaman abu vulkanik masih berpotensi membahayakan jalur penerbangan.

Sumber: Cnnindonesia

Post Comment