Ngopi Bijak: Mengubah Kebiasaan Minum Kopi Menjadi Langkah Ekonomi Sirkular
Menikmati kopi di kedai atau coffee shop telah menjadi bagian dari keseharian banyak orang. Sebagian masyarakat menjadikan kedai kopi sebagai tempat memulai hari, bekerja, bertemu teman, hingga mencari suasana baru di tengah rutinitas. Coffee shop pun kini tidak lagi hanya berfungsi sebagai tempat membeli minuman, tetapi juga berkembang menjadi ruang sosial dan bagian dari gaya hidup masyarakat urban.
Namun, di balik kebiasaan tersebut, ada hal lain yang perlu diperhatikan, yaitu perjalanan material setelah minuman selesai dikonsumsi. Gelas, tutup, sedotan, serta material lain yang digunakan untuk menyajikan kopi mungkin hanya menemani konsumen selama beberapa puluh menit. Setelah itu, material tersebut masih memiliki perjalanan yang perlu dikelola dengan baik.
Popularitas Coffee Shop dan Pentingnya Kebiasaan Setelah Ngopi
Aktivitas menikmati kopi semakin dekat dengan kehidupan masyarakat. Berdasarkan survei GoodStats pada Oktober 2024, sebanyak 71 persen masyarakat Indonesia memilih membeli kopi di coffee shop dibandingkan menyeduhnya sendiri di rumah.
Data tersebut menunjukkan bahwa kopi memiliki fungsi yang lebih luas. Kopi tidak hanya dikonsumsi untuk mengusir kantuk, tetapi juga menjadi bagian dari aktivitas sosial, hiburan, hingga rutinitas bekerja. Karena itu, kebiasaan yang dilakukan setelah minum kopi menjadi hal yang penting untuk diperhatikan.
Langkah sederhana dapat dimulai dengan mengenali material pada kemasan, menggunakan barang sesuai peruntukannya, serta memilah material setelah digunakan. Tidak semua material harus langsung dianggap sebagai sampah. Sebagian material masih memiliki nilai dan berpotensi dikelola kembali menjadi bahan baku untuk produk lainnya.
Jejak Asri Ajak Masyarakat Mengenal Material
Upaya untuk mendekatkan isu pengelolaan material dengan kebiasaan masyarakat dilakukan melalui Jejak Asri Hobbies Vol. 2 bertajuk “Ngopi Bijak, Sirkular Berdampak”. Kegiatan ini merupakan bagian dari Kampanye Indonesia Asri yang digagas PT Chandra Asri Pacific Tbk atau Chandra Asri Group.
Kegiatan tersebut mengajak komunitas Indonesia Asri atau “Sobat Asri” untuk melihat aktivitas ngopi dari sudut pandang yang lebih luas. Masyarakat tidak hanya diajak menikmati kopi, tetapi juga memahami material yang digunakan serta cara mengelolanya setelah selesai digunakan.
Dalam kemasan minuman, terdapat material seperti Polypropylene (PP) dan High-Density Polyethylene (HDPE) yang digunakan untuk kebutuhan tertentu. Mengenali jenis material menjadi langkah awal karena setiap material mempunyai karakteristik dan cara pengelolaan yang berbeda.
Head of Corporate Communications Chandra Asri Group Chrysanthi Tarigan mengatakan, secangkir kopi dapat menjadi media pembelajaran untuk memahami material yang digunakan sehari-hari.
“Melalui secangkir kopi kita bisa belajar memahami material yang kita gunakan, menggunakannya sesuai dengan kebutuhan dan memikirkan apa yang bisa kita lakukan setelah material tersebut selesai digunakan. Harapannya, pengalaman hari ini tidak berhenti di kegiatan ini, tetapi menjadi kebiasaan yang dibawa Sobat Asri ke keseharian,” ujar Chrysanthi dalam konferensi pers di Jakarta.
Langkah Sederhana Menerapkan Ekonomi Sirkular
Kebiasaan ramah lingkungan tidak selalu harus dimulai dari tindakan besar. Dalam aktivitas sehari-hari, masyarakat dapat membawa tumbler ketika memungkinkan, mengurangi penggunaan barang sekali pakai, serta memilah kemasan setelah digunakan.
Langkah tersebut berkaitan dengan konsep ekonomi sirkular, yaitu upaya mempertahankan nilai suatu material agar dapat digunakan kembali selama mungkin. Penerapannya dapat dilakukan melalui kebiasaan sederhana di rumah maupun ketika menikmati kopi di coffee shop.
Ampas Kopi dan Kemasan Dapat Dikelola
Ampas kopi, misalnya, dapat dimanfaatkan menjadi kompos. Sementara itu, material kemasan yang masih memiliki nilai dapat dikumpulkan, dipilah, dan dikelola agar berpotensi kembali menjadi bahan baku. Dengan cara tersebut, material yang sebelumnya dianggap sebagai sampah memiliki peluang untuk memperoleh fungsi baru.
Menurut Chrysanthi, pemahaman terhadap karakteristik dan peruntukan material juga penting untuk membentuk kebiasaan konsumsi yang lebih bijak. Setiap material digunakan karena memiliki fungsi dan manfaat tertentu. Oleh sebab itu, pemahaman tersebut dapat membantu masyarakat menentukan pilihan sekaligus mengetahui cara mengelola material setelah digunakan.
Peran Pelaku Usaha dalam Mendorong Keberlanjutan
Penerapan kebiasaan berkelanjutan tidak hanya menjadi tanggung jawab konsumen. Pelaku usaha kopi juga dapat menciptakan ekosistem yang memudahkan masyarakat menjalankan praktik ekonomi sirkular.
Kopi Nako menjadi salah satu contoh pelaku usaha yang menjadikan aktivitas menikmati kopi sebagai bagian dari pengalaman untuk mengenalkan ekonomi sirkular kepada konsumen. Founder Kopi Nako Robert Wanasida menilai kebiasaan ngopi yang telah melekat pada masyarakat dapat menjadi ruang untuk memperkenalkan isu keberlanjutan secara sederhana.
Robert mengatakan, Kopi Nako mengenalkan produk berbahan daur ulang sebagai bentuk tanggung jawab terhadap material gelas bekas yang digunakan. Konsumen juga diajak memanfaatkan mesin rinser untuk mencuci langsung gelas plastik bekas pakai.
“Melalui aktivitas ngopi, kami berkomitmen untuk terus mendorong penerapan ekonomi sirkular yang mudah dilakukan dalam keseharian, sehingga masyarakat dapat melihat langkah sederhana dalam menikmati kopi juga dapat berkontribusi pada keberlanjutan di kehidupan sehari-hari,” kata Robert.
Kesimpulan
Kebiasaan menikmati kopi dapat menjadi pintu masuk untuk membangun kepedulian terhadap material dan lingkungan. Setelah kopi habis, konsumen dapat mengambil langkah sederhana dengan mengenali jenis kemasan, menggunakannya sesuai fungsi, serta memilahnya agar dapat dikelola kembali.
Di sisi lain, pelaku usaha kopi memiliki peran penting dalam menyediakan fasilitas dan pengalaman yang mendukung praktik tersebut. Jika kebiasaan ini terus diperkenalkan dan dilakukan secara konsisten, aktivitas ngopi tidak hanya menjadi bagian dari gaya hidup, tetapi juga dapat berkontribusi pada penerapan ekonomi sirkular dalam kehidupan sehari-hari.
Sumber: Cnnindonesia



Post Comment