Screen Tourism Korea Selatan: Desa Namchang-ri Diserbu Wisatawan Setelah Film Hope

SEOUL – Desa pesisir Namchang-ri di wilayah administrasi Haenam, Korea Selatan, mengalami perubahan drastis setelah menjadi salah satu lokasi syuting film thriller Hope karya sutradara Na Hong-jin. Kawasan yang sebelumnya relatif sepi tersebut kini menarik perhatian wisatawan yang ingin melihat langsung suasana dan berbagai elemen yang ditampilkan dalam film.

Fenomena ini menjadi gambaran kuat mengenai pertumbuhan screen tourism, yaitu perjalanan wisata yang dipicu oleh popularitas film atau serial televisi. Bagi sebagian wisatawan, berkunjung ke lokasi syuting bukan hanya sekadar perjalanan, melainkan kesempatan untuk merasakan atmosfer cerita secara langsung.

Lokasi Syuting Hope Menarik Ratusan Pengunjung

Sejak Hope dirilis pada 15 Juli, tiruan pos polisi fiktif yang dibangun untuk kebutuhan produksi film tersebut tercatat menarik rata-rata 139 pengunjung setiap hari. Jumlah ini cukup signifikan jika dibandingkan dengan populasi Namchang-ri yang hanya dihuni oleh 418 penduduk.

Antusiasme wisatawan terutama dipengaruhi oleh nuansa retro era 1970-an yang menjadi bagian dari tampilan film. Replika bangunan dan properti produksi membuat kawasan tersebut memiliki daya tarik tersendiri bagi penonton yang ingin mengenali latar cerita secara lebih dekat.

Popularitas lokasi itu kemudian mendorong Pemerintah Haenam mengambil langkah lebih lanjut. Pemerintah setempat mengucurkan investasi sebesar 1,1 miliar won untuk mengembangkan kawasan Namchang menjadi jalan budaya bertema Hope.

Pengembangan Kawasan Berbasis Tema Film

Anggaran tersebut digunakan untuk menghadirkan sejumlah elemen yang memperkuat pengalaman wisata. Pengunjung dapat menemukan replika mobil patroli, restoran yang berkaitan dengan lokasi adegan film, mural, serta atraksi jejak kaki monster.

Pengembangan ini tidak hanya diarahkan untuk mempertahankan daya tarik film, tetapi juga untuk menggerakkan ekonomi lokal. Dengan menjadikan area syuting sebagai ruang wisata tematik, Namchang diharapkan mampu memperoleh manfaat yang lebih luas dari meningkatnya arus pengunjung.

Dampak Ekonomi Screen Tourism di Korea Selatan

Namchang-ri bukan satu-satunya wilayah yang merasakan dampak popularitas produksi layar. Lokasi syuting drama sejarah The King’s Warden di Kabupaten Yeongwol juga mencatatkan peningkatan jumlah wisatawan yang cukup besar.

Pada periode Januari hingga Juli, lokasi tersebut dikunjungi lebih dari 801 ribu orang. Angka itu melonjak tiga kali lipat dibandingkan total pengunjung pada tahun sebelumnya. Kenaikan jumlah wisatawan tersebut turut berkontribusi terhadap aktivitas ekonomi di wilayah setempat.

Data Korea Culture and Tourism Institute menunjukkan, pengeluaran wisatawan dari luar daerah di Yeongwol meningkat 27,2 persen dalam empat minggu setelah film dirilis. Data tersebut memperlihatkan bahwa popularitas tayangan dapat memberikan pengaruh langsung terhadap pergerakan wisatawan dan belanja di daerah tujuan.

Story-Doing, Ketika Wisatawan Mengulang Adegan Film

Selain screen tourism, popularitas film juga melahirkan fenomena yang disebut story-doing. Istilah ini merujuk pada perilaku wisatawan yang secara aktif mencoba mengulang atau merasakan kembali adegan tertentu dari film di lokasi aslinya.

Fenomena tersebut terlihat di sebuah waduk terpencil di wilayah administrasi Yesan setelah film Salmokji: Whispering Water menarik perhatian penonton. Sejumlah wisatawan mendatangi lokasi itu pada malam hari untuk merasakan atmosfer horor yang digambarkan dalam film.

Namun, antusiasme tersebut juga memunculkan persoalan terkait keamanan dan pengelolaan lokasi. Pemerintah setempat akhirnya menerbitkan imbauan agar masyarakat tidak berkunjung setelah gelap.

Tantangan Menjaga Daya Tarik Lokasi Syuting

Pakar pariwisata dari Hanyang University, Jeong Ran-soo, mengingatkan bahwa screen tourism pada dasarnya memiliki siklus hidup yang relatif singkat. Daya tarik lokasi syuting sangat bergantung pada sejauh mana popularitas film atau serial tersebut dapat dipertahankan.

Menurutnya, sebuah lokasi syuting hanya dapat bertahan lama sebagai destinasi wisata apabila memiliki narasi yang kuat atau nilai sejarah tersendiri. Tanpa fondasi tersebut, kunjungan berisiko menurun setelah perhatian publik terhadap tayangan mulai berkurang.

Contoh kegagalan mempertahankan kesinambungan terlihat pada Naju Image Theme Park. Tempat ini sebelumnya dikenal sebagai lokasi syuting drama populer Jumong yang tayang pada 2006. Meski pembangunan dan pengembangannya menghabiskan biaya hingga 17,2 miliar won, objek wisata tersebut akhirnya resmi ditutup pada 2023 karena kerugian operasional yang terus membesar.

Pulau Nami Menjadi Contoh Keberlanjutan

Di sisi lain, Pulau Nami menunjukkan bahwa daya tarik wisata berbasis tayangan dapat dipertahankan dalam jangka panjang. Popularitas drama Winter Sonata memang telah berlalu, tetapi Pulau Nami tetap mampu mempertahankan minat wisatawan hingga dekade ini.

Keberhasilan tersebut ditopang oleh inovasi konten yang berkelanjutan. Salah satu upayanya adalah meluncurkan konsep kawasan rekreasi bernama Naminara Republic. Strategi ini menunjukkan bahwa lokasi yang pernah populer karena film atau drama perlu terus mengembangkan pengalaman baru agar tidak hanya bergantung pada nostalgia.

Kesimpulan

Fenomena di Namchang-ri menegaskan besarnya pengaruh film terhadap perkembangan pariwisata lokal. Hope berhasil mengubah desa pesisir yang sebelumnya sepi menjadi tujuan wisata baru, sementara pengembangan kawasan bertema film menjadi upaya untuk mengoptimalkan dampak ekonominya.

Meski demikian, screen tourism tidak otomatis menjamin keberlanjutan sebuah destinasi. Pengelola perlu menghadirkan narasi yang kuat, nilai sejarah, serta inovasi konten agar minat wisatawan tidak berhenti ketika popularitas film menurun. Ke depan, keberhasilan destinasi berbasis lokasi syuting akan sangat ditentukan oleh kemampuan daerah dalam mengubah popularitas sesaat menjadi pengalaman wisata yang berkelanjutan.

Sumber: Cnnindonesia

Post Comment