Tren Slow Travel Menguat di Asia-Pasifik, Wisatawan Pilih Liburan Lebih Santai dan Bermakna

Perilaku wisatawan di kawasan Asia-Pasifik tengah mengalami perubahan. Setelah sebelumnya banyak pelancong menjalani liburan dengan jadwal padat dan berpindah-pindah destinasi dalam waktu singkat, kini semakin banyak wisatawan memilih gaya perjalanan yang lebih santai, fleksibel, dan bermakna.

Perubahan tersebut menunjukkan semakin kuatnya tren slow travel atau perjalanan dengan tempo lebih lambat. Dalam gaya perjalanan ini, wisatawan cenderung menikmati satu destinasi lebih lama, mengurangi tekanan selama berlibur, serta mencari pengalaman yang lebih dekat dengan alam, budaya lokal, dan keluarga.

Melansir VN Express, pergeseran perilaku tersebut terungkap dalam laporan Travel Happiness Index 2026 yang dirilis Booking.com. Riset yang dilakukan pada Mei 2026 itu melibatkan 10.136 responden berusia 21 tahun ke atas dari 10 pasar utama di kawasan Asia-Pasifik.

Jadwal Perjalanan Padat Memicu Tekanan

Hasil penelitian menunjukkan bahwa agenda perjalanan yang terlalu padat tidak selalu membuat liburan menjadi lebih menyenangkan. Sebaliknya, jadwal yang penuh aktivitas dan perpindahan lokasi dapat meningkatkan beban mental wisatawan.

Sebanyak 79 persen wisatawan asal Korea Selatan mengaku sering merasa cemas dan tertekan ketika bepergian. Kondisi serupa juga dirasakan oleh 71 persen wisatawan India serta 64 persen wisatawan Jepang.

Secara keseluruhan, hampir tiga dari 10 wisatawan di Asia-Pasifik merasa lelah setelah menyelesaikan liburan. Selain itu, satu dari lima responden merasa memiliki tuntutan untuk memanfaatkan setiap momen selama perjalanan, bahkan ketika tidak memiliki waktu istirahat yang cukup.

Wisatawan Memilih Menikmati Satu Destinasi

Untuk menghindari kelelahan, mayoritas wisatawan mulai mengubah cara mereka menyusun rencana perjalanan. Sebanyak 73 persen responden memilih memperlambat tempo liburan dengan tinggal lebih lama di satu destinasi, daripada mengunjungi banyak tempat dalam waktu singkat.

Pilihan tersebut mencerminkan perubahan cara wisatawan dalam memaknai kebahagiaan saat berlibur. Perjalanan tidak lagi hanya diukur dari jumlah tempat yang dikunjungi, tetapi juga dari kualitas waktu yang dihabiskan di suatu lokasi.

Alam, Kuliner, dan Keluarga Jadi Sumber Kebahagiaan

Menikmati pemandangan alam, mencicipi makanan lokal, dan menghabiskan waktu bersama keluarga menjadi aktivitas yang semakin penting bagi wisatawan. Sebanyak 59 persen responden menyebut kegiatan-kegiatan tersebut sebagai sumber kebahagiaan utama selama berlibur.

Selain itu, lebih dari sepertiga responden memilih menginap di akomodasi unik yang dimiliki warga lokal. Pilihan ini dilakukan untuk memperoleh pengalaman yang dinilai lebih autentik sekaligus merasakan suasana setempat secara lebih dekat.

Wisatawan Beradaptasi dengan Ketidakpastian

Perubahan cuaca dan meningkatnya biaya perjalanan turut menjadi tantangan bagi wisatawan. Namun, kondisi tersebut tidak sepenuhnya mengurangi minat mereka untuk berlibur. Sebanyak sembilan dari 10 wisatawan memilih beradaptasi dengan mengubah jadwal perjalanan, memperpendek durasi liburan, atau mencari destinasi alternatif.

Temuan ini memperlihatkan bahwa wisatawan semakin terbuka terhadap rencana perjalanan yang fleksibel. Mereka tidak lagi terpaku pada satu jadwal atau tujuan tertentu ketika situasi tidak mendukung.

Teknologi Mendukung Perencanaan Liburan

Di tengah perubahan gaya perjalanan, teknologi tetap memiliki peran penting. Sebanyak 84 persen responden mengandalkan perangkat digital untuk membantu menyusun rencana perjalanan.

Penggunaan platform digital juga berhubungan dengan rasa percaya diri wisatawan. Sebanyak 88 persen responden mengaku merasa lebih yakin ketika menggunakan platform pemesanan yang terpercaya. Dukungan teknologi membantu wisatawan memperoleh informasi dan mengatur berbagai kebutuhan perjalanan secara lebih mudah.

Kesimpulan

Tren perjalanan di Asia-Pasifik menunjukkan pergeseran dari fast travel menuju slow travel. Wisatawan kini lebih memperhatikan kenyamanan, waktu istirahat, pengalaman autentik, serta kesempatan untuk menikmati alam, kuliner lokal, dan kebersamaan dengan keluarga.

Perubahan ini juga memperlihatkan bahwa kebahagiaan dalam berlibur tidak selalu bergantung pada banyaknya destinasi yang dikunjungi. Dengan memilih tempo perjalanan yang lebih santai dan memanfaatkan teknologi secara bijak, wisatawan dapat menjalani liburan yang lebih fleksibel serta bermakna. Ke depan, pola perjalanan yang menekankan kualitas pengalaman dan keseimbangan waktu berpotensi semakin mendapat perhatian di kawasan Asia-Pasifik.

Sumber: Cnnindonesia

Post Comment