Made in Korea Jadi Drama Korea Termahal dengan Anggaran Rp911 Miliar untuk Dua Musim

Made in Korea tercatat sebagai salah satu drama Korea termahal yang pernah diproduksi. Serial yang dibintangi Hyun Bin dan Jung Woo-sung tersebut menghabiskan anggaran hingga 70 miliar won atau sekitar Rp911 miliar untuk produksi dua musim.

Menurut laporan The Korea Herald, angka tersebut lebih besar dibandingkan biaya produksi sejumlah drama Korea populer lain, seperti Moving yang dikabarkan menelan 65 miliar won serta Arthdal Chronicles dengan anggaran sekitar 54 miliar won. Besarnya biaya produksi turut meningkatkan perhatian terhadap kelanjutan cerita Made in Korea di musim kedua.

Serial Berlatar Politik Korea Selatan Era 1970-an

Made in Korea mengangkat kisah mengenai kekuasaan, keserakahan, ambisi, dan kemerosotan sosial yang berlangsung dalam situasi politik Korea Selatan pada era 1970-an. Drama ini pertama kali dirilis pada 2025 dan mendapat sambutan besar dari penonton internasional.

Musim pertamanya bahkan disebut sebagai produksi orisinal Korea yang paling banyak ditonton di Disney+. Selain meraih jumlah penonton internasional yang tinggi, serial tersebut juga memperoleh pujian dari kritikus. Namun, respons penonton di Korea Selatan dinilai lebih beragam.

Kesuksesan musim pertama membuat musim kedua hadir dengan ekspektasi yang lebih tinggi. Hyun Bin mengakui bahwa pencapaian tersebut turut menimbulkan tekanan bagi para pemain dan tim produksi.

“Bukan berarti saya tidak merasa tertekan. Karena begitu banyak orang menikmati Season 1, sebagian dari diri saya juga berharap mereka akan menonton Season 2,” kata Hyun Bin seperti diberitakan The Korea Herald.

Alur Musim Kedua Lebih Ringkas dan Mendalam

Hyun Bin menjelaskan bahwa musim kedua memiliki alur yang lebih ringkas dibandingkan musim pertama. Pada season sebelumnya, cerita membutuhkan banyak penjelasan untuk memperkenalkan karakter dan situasi yang menjadi dasar konflik.

Menurutnya, musim kedua akan langsung bergerak ketika peristiwa utama dimulai. Alur tersebut diharapkan membuat penonton lebih mudah mengikuti perkembangan cerita dan semakin tenggelam dalam konflik antarkarakter.

“Di Season 1, ada banyak eksposisi yang diperlukan untuk memperkenalkan karakter dan situasi dalam setiap episode,” ujar Hyun Bin.

“Di Season 2, begitu peristiwa dimulai, ceritanya terus berkembang sebagai satu rangkaian narasi. Saya rasa penonton akan dapat lebih tenggelam di dalamnya dan menikmatinya,” lanjutnya.

Konflik Gi-tae dan Geon-young Berlanjut

Musim pertama berpusat pada perseteruan antara Gi-tae, karakter yang diperankan Hyun Bin, dan Geon-young yang dimainkan Jung Woo-sung. Gi-tae digambarkan sebagai taipan kejam yang memanfaatkan ketidakstabilan politik untuk memperluas kekuasaan.

Di sisi lain, Geon-young merupakan jaksa gigih yang berusaha menghentikan ambisi Gi-tae. Pada akhir musim pertama, hubungan keduanya mengalami perubahan besar. Geon-young dipermalukan dan dipenjara, sedangkan Gi-tae semakin kuat dalam upayanya merebut kekuasaan.

Sembilan tahun kemudian, konflik di antara keduanya berkembang menjadi dendam pribadi. Musim kedua melanjutkan perseteruan tersebut dengan hubungan yang semakin personal dan kompleks.

Karakter Fiktif Beri Ruang Eksplorasi Lebih Luas

Sutradara Woo Min-ho mengatakan penggunaan karakter fiktif memberi keleluasaan bagi serial ini untuk membangun cerita. Pendekatan tersebut membuat Made in Korea dapat menghadirkan kisah yang utuh dan berdiri sendiri, meskipun mengambil latar periode sejarah yang juga banyak dieksplorasi oleh industri film dan televisi Korea Selatan.

Era 1970-an yang menjadi latar serial ini berkaitan dengan berbagai peristiwa besar, termasuk pembunuhan Presiden Park Chung-hee pada 1979 dan kudeta militer setelahnya. Woo Min-ho sebelumnya juga menyutradarai The Man Standing Next, film thriller politik yang dibintangi Jung Woo-sung dan mengisahkan peristiwa seputar pembunuhan tersebut.

Woo menjelaskan bahwa The Man Standing Next dan 12.12: The Day berfokus pada tokoh-tokoh yang terlibat langsung dalam peristiwa sejarah. Sementara itu, Made in Korea menggunakan karakter fiktif untuk mengeksplorasi dampak ambisi, pilihan, dan kesalahan manusia dalam suatu era.

Jung Woo-sung juga menilai pendekatan tersebut membuatnya lebih bebas dalam memerankan karakter. Menurutnya, Made in Korea menawarkan keleluasaan lebih besar dari sisi genre maupun cara mengeksplorasi tokoh.

Jadwal Tayang Made in Korea Season 2

Kebebasan dalam pengembangan cerita memungkinkan Made in Korea menjembatani persoalan sejarah era 1970-an dengan kondisi masyarakat masa kini. Serial ini menyoroti bagaimana kesalahan, pilihan, dan upaya manusia dalam mengejar kebenaran terus membentuk setiap zaman.

Terkait kemungkinan berlanjut ke season 3, Woo Min-ho masih belum memberikan kepastian. Ia hanya memberikan petunjuk dengan menyebut 12.12: The Day sebagai karya yang dapat ditonton untuk melihat kelanjutan peristiwa setelah cerita tersebut.

Made in Korea Season 2 dijadwalkan tayang pada 9 September di Disney+. Dengan anggaran produksi yang besar, popularitas musim pertama, serta konflik yang semakin personal, musim kedua membawa harapan besar untuk kembali menarik perhatian penonton internasional.

Sumber: Cnnindonesia

Post Comment