60 Tahun Revolusi Kebudayaan China: Warisan Kelam Mao Zedong yang Tak Ingin Diulang
Pada 2026, China seharusnya menandai 60 tahun sejak dimulainya Revolusi Kebudayaan, sebuah gerakan politik dan sosial yang berlangsung pada 1966 hingga 1976. Namun, peristiwa yang digagas oleh Mao Zedong itu hingga kini lebih banyak dipandang sebagai masa kelam dalam sejarah China. Pemerintah Beijing diketahui tidak menjadikan peringatan tersebut sebagai momentum untuk menghidupkan kembali pembahasan mengenai gerakan itu.
Revolusi Kebudayaan menjadi salah satu tonggak paling kontroversial dalam perjalanan Republik Rakyat China. Gerakan tersebut bertujuan menghapus pengaruh kapitalisme serta cara hidup tradisional masyarakat China demi menegakkan ideologi komunis secara murni. Dalam pelaksanaannya, gerakan itu dilakukan secara keras dan memicu kekacauan, kekerasan, serta kerusakan parah.
Pemerintah China Mengakui Kesalahan Revolusi Kebudayaan
Pada 2016, ketika memasuki peringatan 50 tahun Revolusi Kebudayaan, media pemerintah China, People’s Daily, menegaskan bahwa gerakan tersebut tidak boleh terulang. Pernyataan itu juga menjadi bentuk pengakuan pemerintah terhadap kesalahan yang terjadi selama Revolusi Kebudayaan.
Revolusi Kebudayaan dimulai pada 16 Mei 1966. Namun, berdasarkan pemberitaan CNN, pemerintah Beijing pada masa kini cenderung menghindari pembicaraan terbuka mengenai peristiwa tersebut. Sejarah resmi yang diajarkan di sekolah juga pada awalnya tidak banyak menyinggung kekerasan yang menyertai gerakan itu.
Sikap tersebut menunjukkan bahwa Revolusi Kebudayaan masih menjadi bagian sejarah yang sensitif bagi China. Meski demikian, pernyataan People’s Daily pada peringatan 50 tahun memberikan pesan bahwa pengalaman masa lalu tersebut tidak boleh kembali terulang.
Kharisma Mao Zedong dan Kebijakan yang Menimbulkan Krisis
Kuatnya pengaruh Revolusi Kebudayaan tidak dapat dilepaskan dari sosok Mao Zedong. Sebagai pendiri China, Mao memiliki kharisma dan pengaruh besar di tengah masyarakat. Sebelum Revolusi Kebudayaan, ia juga pernah menggagas program “Lompatan Jauh Ke Depan” atau Great Leap Forward pada 1958-1959.
Melalui kebijakan tersebut, Mao berupaya mengubah China secara cepat dari negara agraris menjadi kekuatan industri modern. Akan tetapi, kebijakan itu berujung pada bencana kelaparan besar. Kondisi ekonomi memburuk dan masyarakat mengalami kekurangan makanan.
Pemujaan terhadap Mao Tetap Menguat
Di tengah krisis tersebut, Mao tetap melakukan kunjungan ke sejumlah wilayah melalui apa yang disebut sebagai “inspeksi mendadak”. Li Zhi Shui, dokter pribadi Mao yang menulis buku Kehidupan Pribadi Ketua Mao, menggambarkan bagaimana para pemimpin partai komunis dan militer di daerah menyambut kedatangan Mao dengan penuh penghormatan.
Menurut Shui, pemujaan terhadap Mao justru semakin meningkat ketika kondisi ekonomi memburuk. Ketika makanan semakin sulit diperoleh, sebagian rakyat tetap meyakini bahwa kesalahan tidak berada pada Mao, melainkan pada para bawahannya. Mereka berharap kedatangan Mao dapat memperbaiki berbagai persoalan yang terjadi.
Sikap tersebut disebut berakar pada tradisi kekaisaran China. Dalam tradisi itu, kaisar dianggap tidak pernah bersalah dan hanya dapat disesatkan oleh para penasihat atau pejabat istana. Karena itu, kedatangan Mao di berbagai daerah disambut dengan tepuk tangan meriah dan pekikan “Hidup Ketua Mao”.
Li Zhi Shui juga menyebut Mao menikmati sambutan tersebut. Ia bahkan kerap menunjukkan kepada para pejabat yang mendampinginya bahwa sorakan rakyat merupakan bentuk ketulusan dukungan terhadap dirinya.
Revolusi Kebudayaan Berakhir Setelah Mao Wafat
Mao Zedong meninggal pada 9 September 1976. Setelah kepergiannya, gagasan Revolusi Kebudayaan dihentikan. Tidak ada pemimpin China setelah Mao yang bersedia meneruskan gagasan tersebut.
Kesimpulan
Enam dekade setelah Revolusi Kebudayaan dimulai, peristiwa itu tetap menjadi bagian penting sekaligus sensitif dalam sejarah China. Gerakan yang bertujuan memurnikan ideologi komunis tersebut justru meninggalkan catatan mengenai kekacauan, kekerasan, kerusakan, serta dampak buruk dari kebijakan yang dijalankan secara keras.
Peringatan 60 tahun pada 2026 menjadi pengingat bahwa sejarah Revolusi Kebudayaan tidak hanya berkaitan dengan besarnya pengaruh Mao Zedong, tetapi juga dengan konsekuensi ketika pemujaan terhadap pemimpin dan kebijakan politik berlangsung tanpa kendali. Pengakuan bahwa gerakan itu tidak boleh terulang dapat menjadi pijakan agar masa kelam tersebut dipahami sebagai pelajaran sejarah untuk masa depan.
Sumber: Cnnindonesia



Post Comment