Arab Saudi Dilaporkan Lancarkan 37 Serangan Udara ke Yaman, Houthi: Sejumlah Warga Tewas
Arab Saudi dilaporkan melancarkan 37 serangan udara ke sejumlah wilayah di Yaman dalam kurun waktu 24 jam. Serangan yang disebut berlangsung hingga Jumat (18/9) dini hari itu menargetkan posisi kelompok Houthi di Provinsi Taiz dan Hajjah.
Informasi tersebut disampaikan juru bicara Angkatan Bersenjata Houthi, Yahya Saree. Ia menyebut jet tempur Saudi F-15 melakukan puluhan serangan dalam 24 jam terakhir. Pernyataan itu dikutip dari laporan Tasnim News.
Serangan terbaru tersebut menambah ketegangan antara Arab Saudi dan Houthi yang telah berlangsung di tengah konflik panjang di Yaman. Pihak Houthi menyatakan operasi udara itu menimbulkan korban jiwa dan luka-luka, meski jumlah pastinya belum disebutkan.
37 Serangan Menargetkan Taiz dan Hajjah
Menurut Yahya Saree, serangan udara dilakukan di wilayah Provinsi Taiz dan Hajjah. Kedua wilayah tersebut disebut menjadi sasaran operasi militer Saudi dalam periode 24 jam terakhir.
Houthi menyatakan sejumlah orang meninggal dunia akibat serangan tersebut, sementara sebagian lainnya mengalami luka-luka. Namun, informasi yang tersedia tidak merinci identitas maupun jumlah korban secara keseluruhan.
Serangan itu disebut dilakukan menggunakan jet tempur F-15 milik Arab Saudi. Pernyataan mengenai jumlah dan lokasi serangan berasal dari pihak Houthi, sebagaimana dikutip Tasnim News.
Pemimpin Houthi Tuduh Saudi Lakukan Agresi
Pemimpin Houthi, Sayyed Abdul Malik al Houthi, menuduh Arab Saudi terus melakukan agresi dan pengepungan terhadap Yaman. Ia juga menyebut tindakan tersebut berlangsung di bawah pengawasan Amerika Serikat serta dipicu oleh hasutan Israel.
Abdul Malik mengatakan rakyat Yaman tetap berkomitmen menghadapi kampanye berkepanjangan dari pihak-pihak yang dianggap sebagai musuh. Menurut dia, dukungan dan keteguhan masyarakat menjadi bagian penting dalam menghadapi tekanan militer serta pengepungan yang berlangsung.
Kemenangan yang sudah diraih datang dengan pertolongan Tuhan dan dalam kerangka perjuangan rakyat kita yang adil
, kata Abdul Malik.
Ia juga menyatakan bahwa rakyat Yaman masih menghadapi agresi dan pengepungan yang dinilai tidak adil. Abdul Malik menyebut konflik dan pengepungan tersebut telah memasuki tahun ke-12.
Houthi Klaim Berada dalam Posisi Bertahan
Lebih lanjut, Abdul Malik menegaskan bahwa Houthi tidak pernah memulai perang dan selama ini berada dalam posisi bertahan. Ia menyebut eskalasi terbaru dimulai ketika Riyadh melancarkan serangan ke Bandara Sanaa.
Pernyataan tersebut menjadi bagian dari narasi Houthi dalam merespons serangan udara Arab Saudi. Kelompok itu menggambarkan operasinya sebagai upaya menghadapi agresi dan mempertahankan wilayahnya dari serangan pihak lawan.
Di sisi lain, laporan mengenai 37 serangan tersebut menunjukkan bahwa ketegangan antara Arab Saudi dan Houthi masih berlangsung. Situasi itu juga mencerminkan belum meredanya konflik yang telah menyebabkan hubungan kedua pihak terus berada dalam kondisi penuh tekanan.
Ketegangan Saudi-Houthi Kembali Meningkat
Laporan serangan udara ini muncul setelah sebelumnya Houthi disebut menggempur pipa Riyadh dan pangkalan udara milik negara Teluk tersebut. Serangan-serangan itu menjadi bagian dari rangkaian aksi saling serang yang meningkatkan ketegangan antara kedua pihak.
Dengan adanya serangan terbaru di Taiz dan Hajjah, konflik antara Arab Saudi dan Houthi kembali menjadi perhatian. Korban jiwa dan luka-luka yang dilaporkan menunjukkan dampak langsung dari eskalasi militer terhadap masyarakat di wilayah terdampak.
Kesimpulan
Arab Saudi dilaporkan melakukan 37 serangan udara terhadap posisi Houthi di Provinsi Taiz dan Hajjah, Yaman, dalam 24 jam hingga Jumat (18/9) dini hari. Houthi menyebut serangan tersebut menewaskan dan melukai sejumlah orang.
Pemimpin Houthi Sayyed Abdul Malik al Houthi menuduh Arab Saudi terus melakukan agresi dan pengepungan terhadap Yaman. Ia juga menegaskan bahwa kelompoknya tidak memulai perang dan tetap berada dalam posisi bertahan.
Di tengah meningkatnya aksi saling serang, perkembangan selanjutnya akan sangat bergantung pada langkah yang diambil masing-masing pihak. Untuk saat ini, laporan mengenai serangan udara dan korban menunjukkan bahwa ketegangan Saudi-Houthi masih belum mereda.
Sumber: Cnnindonesia



Post Comment