Houthi Kembali Serang Kota-Kota Arab Saudi dengan Rudal dan Drone

Milisi Houthi kembali melancarkan serangan ke sejumlah wilayah di Arab Saudi pada Rabu (9/9). Serangan tersebut menjadi aksi militer kedua yang dilakukan kelompok itu dalam dua hari berturut-turut, setelah sebelumnya menargetkan pangkalan udara dan infrastruktur minyak di sekitar Khamis Mushait.

Dalam serangan terbaru, Houthi dilaporkan menggunakan rudal balistik dan drone untuk menyerang Kota Abha, Khamis Mushait, serta Jazan. Rentetan serangan ini menambah ketegangan antara Houthi dan koalisi yang dipimpin Arab Saudi bersama pemerintah Yaman.

Houthi Serang Abha, Khamis Mushait, dan Jazan

Seperti dikutip Reuters, serangan Houthi pada Rabu menyasar tiga kota di Arab Saudi, yakni Abha, Khamis Mushait, dan Jazan. Kelompok tersebut menggunakan kombinasi rudal balistik serta pesawat nirawak dalam operasi itu.

Khamis Mushait menjadi salah satu wilayah yang kembali diserang setelah pada hari sebelumnya Houthi menargetkan pangkalan udara di kota tersebut. Selain pangkalan udara, serangan pada Selasa juga diarahkan ke infrastruktur minyak di kota terdekat.

Serangan beruntun tersebut disebut sebagai salah satu serangan terbesar terhadap Arab Saudi sejak perang AS-Israel terhadap Iran dimulai. Aksi itu memperlihatkan meningkatnya eskalasi konflik di kawasan, terutama di tengah memburuknya hubungan antara Houthi dan koalisi yang didukung Saudi.

73 Orang Terluka dalam Serangan Sebelumnya

Serangan yang berlangsung pada Selasa menimbulkan dampak terhadap warga sipil. Sebanyak 73 orang dilaporkan mengalami luka-luka, termasuk perempuan dan anak-anak.

Houthi mengklaim rangkaian serangan tersebut merupakan respons atas meningkatnya eskalasi yang dilakukan Arab Saudi di Yaman. Kelompok itu menilai serangan terhadap wilayah Saudi menjadi bagian dari tindakan balasan atas operasi militer yang berlangsung di wilayah Yaman.

Koalisi Saudi Siapkan Respons

Juru bicara koalisi Saudi dan pemerintah Yaman, Turki al Malki, menyatakan bahwa Houthi terus menargetkan aset serta infrastruktur nasional Arab Saudi. Pernyataan tersebut disampaikan setelah serangkaian serangan kembali menghantam beberapa kota di negara itu.

Al Malki menegaskan, koalisi akan memberikan respons secara “bertanggung jawab”. Langkah tersebut, menurutnya, diperlukan untuk melindungi kedaulatan Arab Saudi, aset nasional, serta keselamatan warga sipil.

Pernyataan itu menunjukkan bahwa koalisi Saudi tidak menganggap serangan Houthi sebagai insiden terpisah. Serangan terhadap pangkalan udara, infrastruktur minyak, dan sejumlah kota dinilai sebagai ancaman terhadap kepentingan nasional serta keamanan masyarakat.

Konflik Saudi dan Houthi Kembali Memanas

Pertempuran antara koalisi Saudi dan Houthi dilaporkan meningkat dalam beberapa bulan terakhir. Kondisi ini memunculkan kekhawatiran mengenai kemungkinan kembalinya konflik besar seperti yang terjadi pada 2022.

Dalam beberapa hari terakhir, pasukan pemerintah Yaman yang memperoleh dukungan dari Arab Saudi melancarkan serangan multi-arah ke wilayah-wilayah yang berada di bawah kendali Houthi. Operasi tersebut menjadi bagian dari upaya pemerintah Yaman untuk memperluas kembali pengaruhnya di wilayah yang dikuasai kelompok tersebut.

Pemerintah Yaman menyatakan bahwa tujuan utama serangan itu adalah merebut kembali seluruh wilayah yang saat ini berada di bawah kendali Houthi. Pernyataan tersebut mengindikasikan bahwa konflik antara kedua pihak masih memiliki potensi untuk terus berlanjut.

Kesimpulan

Serangan Houthi ke Abha, Khamis Mushait, dan Jazan menandai meningkatnya ketegangan di tengah konflik yang melibatkan kelompok tersebut, pemerintah Yaman, dan koalisi yang dipimpin Arab Saudi. Penggunaan rudal balistik serta drone dalam serangan selama dua hari berturut-turut memperbesar kekhawatiran terhadap keamanan kota-kota Saudi dan infrastruktur penting di negara itu.

Dengan koalisi Saudi menyatakan akan memberikan respons dan pasukan pemerintah Yaman terus menggencarkan serangan di wilayah yang dikuasai Houthi, situasi ke depan masih berpotensi memanas. Perkembangan konflik akan sangat bergantung pada intensitas operasi militer kedua pihak serta kemampuan mereka menahan perluasan serangan.

Sumber: Cnnindonesia

Post Comment